Chery menunjukkan kualitas produknya, dari lembaran pelat baja hingga jadi satu utuh mobil dibuat dengan presisi sampai ke tangan konsumen. [695] url asal
Chery menunjukkan kualitas produknya dibuat dengan sangat presisi dari lembaran pelat baja hingga jadi satu utuh mobil dibuat. Itu ditunjukkan dengan mengajak awak media berkunjung ke fasilitas pabrik di Anhui, Wuhu, China.
detikcom bersama rombongan lainnya berkesempatan untuk mampir ke dalam pabrik seluas 83.000 meter persegi atau setara 12 lapangan sepak bola, Kamis (17/10/2024). Chery mengawinkan fasilitas pabriknya dengan internet of thing (IoT).
Pabrik Chery di Wuhu Foto: Ridwan Arifin
Secara keseluruhan fasilitas utama pabrik ini meliputi bengkel stamping, bengkel las, bengkel pengecatan, bengkel perakitan umum, bengkel modular, bengkel mesin, bengkel transmisi, dan fasilitas pendukung yang relevan.
Pertama-tama, rombongan diajak masuk ke dalam ruang welding atau area pengelasan. Untuk area ini saja luasnya mencapai 50.000 meter persegi atau sekitar 7 lapangan sepak bola. Fasilitas ini dapat memenuhi 4 platform, 8 model jalur produksi, dan kapasitas produksi tahunan 200.000 unit.
Semua ini dilakukan nampak sangat teliti, cepat, komponen yang sudah dirancang, pengiriman logistik dan dipasang dalam hitungan menit. Salah satu tour guide menjelaskan dalam waktu satu jam bisa menghasilkan 40 unit.
Fasilitas ini memproduksi produk seri platform T2X baru dan produk inti platform T1X, seperti seri Tiggo 8 dan Tiggo 9.
Masuk ke dalam area ini, terlihat metode pengelasan bodi dilakukan oleh tangan-tangan robot. Totalnya sekitar 362 tangan-tangan robot yang bekerja.
Pabrik mobil Chery di Wuhu China Foto: dok. Chery International
Di sini tingkat otomatisasi mencapai 100 persen. Proses pemantauan dalam satu platform dan secara real time, misalnya kualitas sambungan las.
Pabrik Chery sudah mengadopsi kembaran digital atau digital twin. Dengan teknologi ini bisa membuat produksi jadi lebih efisien. Di sisi lain potensi kesalahan saat produksi bisa dihindari.
Chery menyebut sudah mengadopsi penggunaan teknologi pengelasan CMT (Cold Metal Transfer). Ini tidak hanya mengurangi percikan, tetapi juga menandakan evolusi dalam manufaktur mobil yang dapat meningkatkan keselamatan dan daya tahan.
Meskipun mayoritas pengelasan sudah robotik, namun ada beberapa posisi yang tetap harus dilakukan oleh pekerja manusia.
Selanjutnya lembaran besi plat yang sudah menjadi body mobil itu akan diangkut ke tempat pengecatan untuk dilakukan pengecatan.
Distribusi mesin, sasis, hingga pemasangan body. Semuanya diatur dalam waktu yang bersamaan secara otomatis. Dari penglihatan kami, pekerja manusia lebih banyak dibutuhkan untuk mengerjakan bagian yang sulit dijangkau oleh mesin otomatis tersebut.
Selanjutnya, kami diajak ke tempat perakitan akhir basis produksi Chery.
Terdapat total 164 stasiun kerja di jalur produksi utama, total 333 stasiun kerja termasuk jalur sub-perakitan). Kapasitas produksi tahunan bengkel ini adalah 300.000 mobil, satu menit dapat menghasilkan satu mobil.
Lebih spesifik terdapat 6 jalur produksi utama otomatis, 5 jalur sub-perakitan fleksibel, dan 3 jalur inspeksi untuk jenis mobil internal combustion engine (ICE), mobil hybrid, plug in hybrid electric vehicles (PHEV), dan battery electric vehicles. Saat melakukan kunjungan bengkel ini adalah Tiggo 8 dan Tiggo 9.
Chery telah melakukan ekspor kepada lebih dari 80 negara dan wilayah di seluruh dunia, memiliki 10 pabrik di luar wilayah China, serta 1.500 diler dan outlet yang melayani 11 juta pengguna di seluruh dunia, termasuk 1,9 juta pengguna di luar China.
Chery mengklaim pabrik ini secara keseluruhan bisa memproduksi 60 mobil per jam atau satu menit untuk satu mobil lengkap. Kinerja tinggi ini secara total mampu menghasilkan 300.000 unit kendaraan per tahun dan 200.000 suku cadang otomotif knockdown.
Pada beberapa tahun terakhir, kuantitas Tenaga Kerja (TK) di berbagai negara terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan, termasuk Indonesia. Candra Fajri... [382] url asal
BEBERAPA tahun terakhir, kuantitas Tenaga Kerja (TK) di berbagai negara terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan, termasuk Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Februari 2023, jumlah angkatan kerja di Indonesia mencapai 144 juta orang, meningkat sekitar 2,5 juta dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan jumlah tenaga kerja tentu membawa dampak positif, terutama dari sisi penyediaan sumber daya manusia yang memadai untuk memenuhi kebutuhan sektor-sektor ekonomi yang terus berkembang. Selain dari sisi kuantitas, kualitas tenaga kerja pun mengalami peningkatan.
Hal tersebut terlihat dari data BPS (2023) yang menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja di Indonesia yang memiliki pendidikan menengah ke atas mencapai 63,6% dari total angkatan kerja, naik dari 60,5% di tahun 2020. Kualitas tenaga kerja yang semakin baik tersebut memberikan dampak positif pada produktivitas nasional.
Teori pertumbuhan ekonomi menyebutkan bahwa peningkatan kualitas tenaga kerja melalui pendidikan dan pelatihan dapat berkontribusi pada peningkatan output dan efisiensi ekonomi secara keseluruhan. Artinya, dengan tenaga kerja yang lebih terdidik dan terampil, sektor-sektor ekonomi di Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk berinovasi dan meningkatkan daya saing di pasar global.
Seiring dengan peningkatan kuantitas dna kualitas tenaga kerja, sektor-sektor ekonomi di Indonesia juga mengalami integrasi yang semakin erat. Integrasi ini ditandai dengan semakin terhubungnya berbagai sektor ekonomi, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
Alhasil, kondisi tersebut menciptakan tantangan baru dalam hal efisiensi operasional, terutama mengingat semakin terbatasnya Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa cadangan minyak bumi Indonesia hanya tersisa untuk 9,5 tahun ke depan dengan tingkat produksi saat ini.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, maka sektor-sektor ekonomi mutlak dituntut untuk semakin efisien dalam menggunakan SDA yang ada. Sekaligus mengembangkan metode baru untuk memanfaatkan sumber daya secara lebih berkelanjutan.
Kini, teknologi adalah jawaban dalam meningkatkan efisiensi, baik dalam proses produksi maupun off production seperti logistik dan manajemen rantai pasok. Penggunaan teknologi digital ? seperti Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) ? telah memungkinkan perusahaan untuk mengotomatisasi proses produksi, meningkatkan akurasi, dan mengurangi limbah.
Studi dari McKinsey (2023) menyebutkan bahwa perusahaan yang mengadopsi teknologi digital dalam operasional mereka dapat meningkatkan produktivitas hingga 30%. Selain itu, teknologi juga membantu dalam kegiatan off production dengan mengoptimalkan rantai pasokan dan distribusi, yang pada akhirnya meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya operasional.