JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) nyungsep 71,01 poin (0,91%) ke level 7.716,5 pada penutupan perdagangan Kamis (24/10/2024). Saat IHSG hari ini kembali memerah, UNVR tersungkur, saham-saham ini juga alami nasib serupa.
UNVR dan saham-saham lainnya juga masuk daftar top losers.
Berdasarkan data RTI, saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) anjlok 8,5% menjadi Rp 2.130.
Sedangkan saham top gainers lainnya adalah PT Bank IBK Indonesia Tbk (AGRS) terjungkal 22% menjadi Rp 85 dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) jatuh 21,9% menjadi Rp 306.
Ada pula saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) turun 10,1% menjadi Rp 320 dan PT Daarma Henwa Tbk (DEWA) melemah 8,4% menjadi Rp 98.
Sementara itu, saat IHSG hari ini memerah lagi, indeks saham Asia bervariasi. Shanghai (China) jatuh 0,6% dan Hang Seng (Hong Kong) anjlok 1,3%. Sedangkan Straits Times (Singapura) menguat 0,1% dan Nikkei (Jepang) menguat 0,1%.
Saham ARA
Saat IHSG hari ini ditutup kembali melemah, cuan mengalir deras di lima saham dan masuk top gainers. Sebab, melonjak hingga 34%.
Diantara kelima, saham PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK) melonjak hingga membentur batas Auto Rejection Atas (ARA). Sebab, FOLK melejit 34% menjadi Rp 67.
Diikuti saham PT Wijaya Cahaya Timber Tbk (FWCT) melejit 19,8% menjadi Rp 127 dan PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) melesat 18,6% menjadi Rp 89.
Ada pula PT Multipolar Tbk (MLPL) meningkat 14,6% menjadi Rp 188 dan PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) melesat 12,9% menjadi Rp 122.
Editor: Indah Handayani (handayani@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Bisnis.com, JAKARTA - Gerakan “All Eyes on Rafah” dinilai memberikan dampak signifikan terhadap pasar Fast-Moving Consumer Goods (FMCG), khususnya di e-commerce. Masyarakat Indonesia mengurangi belanja produk-produk global dan beralih ke lokal, yang membuat produk dalam negeri unggul.
Berdasarkan riset Compas.co.id pada semester I/2024, seruan boikot Israel telah mengubah peta persaingan antara merek global dan lokal di Indonesia, terutama pada kategori perawatan dan kecantikan.
Co-founder & CEO Compas.co.id. Hanindia Narendrata mengatakan berdasarkan hasil riset perusahaan, enam dari sepuluh brand dengan nilai penjualan tertinggi di e-commerce pada semester pertama 2024 berasal dari brand lokal. Kondisi ini berbeda dengan tahun lalu atau sebelum munculnya gerakan All Eyes on Rafah.
“Hal ini menandai adanya pergeseran dibandingkan tahun sebelumnya, di mana brand global dan lokal sama-sama menduduki lima besar”, kata Narendrata dikutip, Selasa (10/9/2024).
Narendrata menjelaskan pada semester I/2024 nilai penjualan brand lokal yang berada di jajaran top 150 melampaui brand global, dengan nilai mencapai Rp5,01 triliun atau terpaut sekitar Rp 400 miliar dari brand global yang sebesar Rp4,62 triliun.
Produk global vs lokal
Peningkatan nilai penjualan brand lokal tersebut dampak dari serangkaian aktivitas yang terjadi di pasar offline, yang mempengaruhi pasar online. Gerakan boikot merupakan aktivitas yang cukup memberikan dampak pada peta persaingan pasar lokal dan global.
Kampanye yang bermula pada Oktober 2023 lalu ini menekan penjualan brand global di pasar offline yang berimbas ke online. Mulai dari himbauan sampai larangan penggunaan brand yang disinyalir terafiliasi dengan Israel.
“Berdasarkan kejadian ini, menurut penelitian Compas.co.id ada indikasi konsumen beralih dari menggunakan brand global ke lokal,” kata Narendrata.
Data live dashboard Compas.co.id pada periode 19 Mei - 15 Juni 2024, di Shopee dan Tokopedia, brand global dari sub kategori pelembab mengalami penurunan yang signifikan.
Dalam jangka waktu 2 minggu pasca ‘All Eyes on Rafah’ dan kembali maraknya gerakan boikot, nilai penjualan brand global turun hingga Rp95 juta, sedangkan pada periode yang sama brand lokal mengalami peningkatan hingga Rp456 juta.
Pada sektor FMCG boikot juga terjadi pada kategori makanan & minuman serta ibu & bayi. Jika dibandingkan ketiga kategori lainnya, kesehatan menjadi kategori yang paling sedikit terpengaruh dari boikot.
“Saat ini konsumen di Indonesia makin teliti dalam memilih produk yang sesuai dengan nilai-nilai yang sejalan dengan mereka. Gerakan ini telah membuka peluang bagi brand lokal untuk bersaing di pasar yang semakin kompetitif. Sebaliknya, untuk brand global hal ini menjadi tantangan untuk mempertahankan performa positif layaknya di tahun 2023 lalu,” kata Narendrata.