Jadi Koleksi Mahal dan Digemari Orang Kaya, Biaya Produksi Tas Dior Ternyata Murah

Jadi Koleksi Mahal dan Digemari Orang Kaya, Biaya Produksi Tas Dior Ternyata Murah

Hasil investigasi mengungkapkan, Dior hanya membayar pemasok kurang dari Rp 1 juta untuk tas yang dijual Rp 45 juta. Halaman all

(Kompas.com) 07/07/24 19:00 10028858

KOMPAS.com - Tas-tas keluaran Dior, anak perusahaan konglomerat Perancis, LVMH dikenal memiliki harga yang sangat mahal, bahkan mencapai Rp 115 juta per buah.

Namun, Dior ternyata hanya membayar setiap tas yang diproduksi pemasok dari China dengan harga yang sangat murah, yakni sekitar Rp 1 juta.

Tak hanya itu, Dior juga dianggap mengeksploitasi pekerjanya agar menjual tas dengan harga yang jauh lebih murah kepada perusahaan itu dibandingkan harga jual dalam toko Dior.

Di sisi lain, kesejahterahan hidup para pekerja pembuat tas-tas mahal Dior juga mendapatkan sorotan. Pasalnya, mereka bekerja seharian penuh dan bahkan tidur di pabrik agar produksi tetap berjalan.

Tas Dior dihargai murah

Dior merupakan perusahaan di bidang mode yang dipimpin CEO Delphine Arnault. Dia adalah putri dari CEO LVMH Bernard Arnault, orang terkaya ketiga di dunia menurut Bloomberg Billionaires Index.

Merek fesyen mewah Dior terkenal dengan barang dagangan kelas atas, seperti tas tangan, pakaian, perhiasan, dan aksesori lainnya. Produk itu sering dijual dengan harga lebih dari 1.000 dollar AS atau Rp 16 juta.

Namun, penyelidikan baru-baru ini mengungkapkan bahwa tas Dior yang dihargai mahal itu tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memproduksinya.

LVMH diadukan ke pengadilan Milan, Italia pada Maret 2024 atas dugaan "mensubkontrakkan" pekerjanya kepada perusahaan pemasok tas kulit asal China yang memperlakukan pekerja dengan buruk, diberitakan The Street, Rabu (3/7/2024).

Karena itu, pihak berwenang Italia menyelidiki kondisi kerja di beberapa pabrik perusahaan yang memproduksi tas tangan Dior.

Dari hasil penyelidikan, Dior diduga membayar pemasok tas sebesar 57 dollar AS atau hanya Rp 926.352 untuk membuat tas tangan yang dijual seharga 2.780 dollar AS atau Rp 45,1 juta di tokonya.

Pembayaran itu tidak termasuk biaya pembelian kulit atau bahan baku mentah lainnya. Perusahaan disebut secara terpisah menanggung biaya desain, distribusi, dan pemasaran produk Dior.

Perusahaan fesyen asal Italia, Giorgio Armani dan para kontraktornya juga diselidiki dalam kasus ini, dikutip dari Deccan Herald, Sabtu (6/7/2024).

Armani diketahui membayar kontraktor sebesar 99 dollar AS atau Rp 1,6 juta per kantong untuk produk yang dijual dengan harga lebih dari 1.900 dollar AS atau Rp 30,8 juta. Selain itu, dia juga dituduh tidak mengawasi kontraktornya dengan baik.

Diduga eksploitasi pekerja

Dior Tas Lady Dior
Hasil investigasi juga mengungkapkan, perusahaan-perusahaan ini mengeksploitasi pekerja untuk memproduksi tas dengan biaya murah.

Dilansir dari Business Insider, Rabu, perusahaan kontraktor dari Dior adalah perusahaan asal China.

Sebagian besar pekerja berasal dari China, dengan dua orang tinggal di negara tersebut secara ilegal dan tujuh lainnya bekerja tanpa dokumen yang diperlukan.

Pihak berwenang mengeklaim, Dior gagal mengambil tindakan untuk memeriksa kondisi kerja di pabrik-pabrik kontraktor yang bekerja sama dengannya.

Dior juga tidak melakukan audit berkala terhadap kemampuan teknis perusahaan kontraktor selama beberapa tahun terakhir.

Para pekerja hidup dengan kondisi menyedihkan untuk memenuhi tenggat waktu produksi. Mereka tidur di pabrik agar perusahaan punya tenaga kerja selama 24 jam sehari.

Mereka bekerja pada hari libur dan malam hari untuk memproduksi tas sepanjang waktu.

Perangkat keselamatan juga ditarik dari mesin produksi sehingga pekerja mengoperasikannya dengan kecepatan lebih cepat.

Ini memungkinkan kontraktor mengendalikan biaya produksi dan mengenakan harga jual lebih rendah atas tas yang dibuat untuk Dior.

LVMH tidak mengomentari temuan ini. Namun, Dior diketahui menyerahkan memo yang menyoroti perbaikan rantai pasokannya.

Sementara, Armani Group mengaku akan bekerja sama dengan pihak berwenang. Armani juga berjanji menerapkan upaya pengendalian dan pencegahan untuk meminimalkan risiko pelanggaran dalam rantai pasokan produknya.

Hakim di Milan memerintahkan kedua perusahaan tersebut ditempatkan di bawah administrasi peradilan selama satu tahun. Namun, mereka diizinkan beroperasi selama periode tersebut.

Aturan ketenagakerjaan sering dilanggar

Eksploitasi pekerja termasuk masalah besar dalam industri mode.

Pada Mei 2024, peritel mode asal AS, Shein terungkap meminta para pemasoknya bekerja 75 jam seminggu dengan upah rendah. Hal ini melanggar undang-undang ketenagakerjaan China.

Para pekerja juga ditemukan bekerja di gudang yang rentan terkena kebakaran. Padahal, perusahaan itu telah berjanji untuk mengakhiri praktik tersebut pada 2021.

Jaksa penuntut kasus Dior dan Armani mengatakan, pelanggaran peraturan ketenagakerjaan adalah praktik industri yang umum dilakukan perusahaan-perusahaan barang mewah untuk mendapatkan keuntungan lebih tinggi.

"Ini bukan hal sporadis yang menyangkut satu lot produksi, namun metode manufaktur yang digeneralisasi dan dikonsolidasikan," tulis dokumen pengadilan yang mengusut kasus Dior.

Presiden Pengadilan Milan Fabio Roia menyebutkan, perusahaan barang mewah kerap terlibat masalah terkait penganiayaan pekerja, penerapan undang-undang ketenagakerjaan, kesehatan dan keselamatan pekerja, serta aturan terkait jam kerja dan gaji.

“Tetapi ada juga masalah besar lainnya, persaingan tidak sehat yang mendorong perusahaan-perusahaan yang taat hukum keluar dari pasar," imbuh dia.

#dior #lvmh #tas-dior #pemasok-tas-dior-dibayar-rendah #harga-produksi-tas-dior-rp-1-juta

https://www.kompas.com/tren/read/2024/07/07/190000265/jadi-koleksi-mahal-dan-digemari-orang-kaya-biaya-produksi-tas-dior-ternyata