Cerita Pedagang Starling di Jakarta, Cari Nafkah Jauh dari Rumah demi Anak Istri di Kampung
Pedagang starling asal Tasikmalaya, Endang (58), bekerja di Jakarta tak hanya untuk dirinya. Halaman all
(Kompas.com) 08/07/24 15:05 10080918
JAKARTA, KOMPAS.com - Pedagang kopi keliling (starling) asal Tasikmalaya, Endang (58), jungkir balik bekerja di Jakarta tak hanya untuk dirinya. Dia menghidupi istri dan anaknya di kampung halaman dari hasil menjual kopi setiap hari.
Setiap bulannya, ia mengirimkan uang ke istri dan anaknya yang sedang duduk di bangku SMP.
"Setiap dua minggu, saya ngirim Rp 400.000 ke istri, jadi sebulan Rp 800.000," ujar dia kepada Kompas.com, Senin (8/7/2024).
Uang itu digunakan itu biaya hidup sehari-hari termasuk biaya pendidikan anaknya.
Dirinya menjelaskan, istri dan anaknya sempat tinggal bersama dirinya di Jakarta. Akan tetapi, biaya hidup di Jakarta sangat mahal sehingga mereka lebih memilih pulang kampung.
Saat di kampung halaman, sang istri sebenarnya juga bekerja, tetapi hanya jika ada panggilan saja.
Sementara penghasilannya sendiri juga pas-pasan. Endang menjelaskan, dirinya hanya mendapatkan Rp 100.000 setiap harinya.
"Ya rata-rata setiap hari alhamdulillah dapat Rp 100.000 sih," tambah dia.
Jika sedang hujan, kata dia, penjualannya hanya mencapai Rp 50.000 setiap harinya. Sementara jika sedang ramai, ia bisa membawa pulang uang sebesar Rp 150.000 setiap hari.
"Saya juga perlu bayar kontrakan gubug gitu Rp 500.000 setiap bulannya, belum lagi biaya keamanan Rp 100.000," ujar dia.
Akhirnya setelah dipotong untuk biaya hidupnya di Jakarta, Endang hanya bisa mengirim sebanyak itu ke keluarga di kampung.
Setiap harinya, Endang hanya berjualan di kawasan Taman Langsat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Dia bilang, tenaganya tidak cukup kuat lagi untuk berkeliling Jakarta. Selain itu, pendapatannya ketika mangkal di Taman Langsat lebih besar ketimbang ia berkeliling.