Mendag: Kalau Hanya Mengandalkan Jawa, Swasembada Gula dan Beras Akan Mustahil...
Kawasan pertanian di pulau Jawa sudah banyak yang beralih fungsi lahan menjadi kawasan industri dan kawasan perumahan. Halaman all
(Kompas.com) 09/07/24 05:07 10152782
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (Mendag Zulhas) menyatakan, swasembada gula dan beras tidak akan tercapai jika hanya mengandalkan wilayah pulau Jawa saja.
Hal itu lantaran kawasan pertanian di pulau Jawa sudah banyak yang beralih fungsi lahan menjadi kawasan industri dan kawasan perumahan.
“Kita pertanian hanya mengandalkan produksi di Jawa, mau sampai kapan? Mau swasembada gula dan beras? Wong tanahnya enggak ada, sudah jadi pabrik, jadi perumahan,” ujarnya saat Rapat Kerja bersama dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Senin (8/7/2024).
“Jadi kalau kita bermimpi mau swasembada gula, beras, di Jawa enggak mungkin, mustahil. Mau pakai teknologi apapun,” sambungnya.
Walau demikian lanjut Mendag Zulhas, Indonesia memiliki masa depan untuk membuat lahan pertanian di kawasan Kalimantan dan Papua. Sebab, kawasan itu dinilai memiliki lahan yang luas sehingga mekanisasi pertanian bisa digalakkan di sana.
Dia tak menampik ketika proses mekanisasi pertanian nantinya akan digenjot di sana, hasil yang didapati tak akan instans. Namun dia menyakini upaya itu bisa membebaskan Indonesia dari ketergantungan impor pangan khususnya beras.
“Kayak India, kalau India menyetop ekspor berasnya ke kita pasti harga beras kita mahal karena kita ketergantungan impor dari sana. Jadi saya Fikri, kalau kita fokus pada mekanisasi di Kalimantan dan Papua, mudah-mudahkan 5 tahun hasilnya bisa. Tapi kita harus serius,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Kementerian Pertanian menggelontorkan anggaran Rp 8,069 miliar guna menggarap lahan pertanian di Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menargetkan Merauke menjadi daerah percontohan pertanian modern yang mampu menekan biaya produksi dan meningkatkan indeks kesejahteraan petani.
"Mimpi kami ke depan adalah mentransformasi pertanian tradisional menuju modern dengan tujuannya adalah meningkatkan kesejahteraan petani karena kita bisa menekan biaya produksi hingga 60 persen," kata Amran dalam keterangan tertulis, Rabu (17/4/2024).