Memaksimalkan Koridor Ekonomi di Selat Malaka
Bagi Indonesia, manfaat dari koridor ini adalah peningkatan perdagangan produk hilir pertanian, perikanan, dan pertambangan. Halaman all
(Kompas.com) 09/07/24 09:47 10171808
DALAM kawasan Asia Tenggara, Selat Malaka memegang peranan penting bagi perekonomian regional. Di kawasan ini, Indonesia, Malaysia, dan Thailand (IMT) membentuk kerja sama sub-regional.
Dengan kesamaan sejarah, budaya, dan bahasa yang kuat, beberapa provinsi di tiga negara tersebut membentuk kerja sama sub-regional yang dinamakan Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT).
IMT-GT terdiri dari 10 provinsi di Sumatera, 11 negara bagian di Semenanjung Malaysia, dan 14 provinsi di Thailand bagian selatan.
Tujuan utama IMT-GT adalah mempercepat pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut. Saat ini, sebanyak 94 juta penduduk tinggal di wilayah IMT-GT, yang berkontribusi sebesar 25 persen total penduduk Indonesia, Malaysia, dan Thailand, serta 14 persen total penduduk ASEAN.
Pertumbuhan ekonomi tahunan IMT-GT adalah sekitar 4,4 persen (periode 2016-2022), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahunan IMT secara keseluruhan yang sebesar 3,4 persen.
Jika melihat GDP per kapita, nilai IMT-GT adalah 16.800 dollar AS, relatif mirip dengan GDP per kapita IMT yang mencapai 17.700 dollar AS.
Nilai perdagangan internasional di kawasan IMT-GT berkontribusi sebesar 35 persen terhadap total nilai perdagangan di IMT.
Selain itu, tingkat pengangguran di IMT-GT tercatat sedikit lebih rendah dibandingkan dengan tingkat pengangguran di IMT secara keseluruhan (4,5 persen di IMT-GT dan 4,8 persen di IMT).
Nilai investasi di kawasan IMT-GT bervariasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2022, terdapat investasi luar negeri sebesar 20 miliar dollar AS dan investasi domestik sebesar 13 miliar dollar AS.
Mobilitas penduduk di kawasan ini juga cukup tinggi. Jumlah pengunjung internasional meningkat signifikan setelah pandemi COVID-19, dari 0,5 juta menjadi 19 juta pengunjung internasional. Hal ini memberikan dampak besar pada kebangkitan sektor pariwisata.
Koridor ekonomi
Merujuk pada Cetak Biru Implementasi IMT-GT Periode 2022-2026, terdapat delapan sektor prioritas kerja sama. Delapan sektor tersebut terbagi menjadi tiga sektor utama dan lima sektor pendukung.
Cetak Biru tersebut adalah bagian dari Visi Jangka Panjang IMT-GT 2036, yaitu regional terintegrasi, inovatif, inklusif, dan berkelanjutan.
Tiga fokus utama adalah (1) pertanian dan industri berbasis agro, (2) pariwisata, dan (3) produk dan layanan halal.
Implementasi tiga fokus sektor tersebut didukung oleh lima sektor lain, yaitu (1) konektivitas transportasi, (2) fasilitasi perdagangan dan investasi, (3) lingkungan, (4) pengembangan sumber daya manusia, dan (5) transformasi digital.
Salah satu strategi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi adalah dengan membentuk koridor ekonomi.
Koridor ekonomi ini bertujuan menghubungkan berbagai titik penting, seperti kota besar, lintas batas antarnegara, pusat perdagangan, pelabuhan, pusat pariwisata, dan berbagai titik lainnya.
Koridor pertama adalah perluasan dari Songkhla (Thailand) – Penang (Malaysia) – Medan (Indonesia). Koridor ekonomi ini menghubungkan Thailand selatan, Malaysia utara, dan provinsi Sumatera Utara.
Bagi Indonesia, manfaat dari koridor ini adalah peningkatan perdagangan produk hilir pertanian, perikanan, dan pertambangan, terutama melalui pelabuhan Kuala Tanjung dan Sibolga.
Bagi Malaysia, manfaatnya diharapkan berupa peningkatan volume ekspor melalui Pelabuhan Penang.
Sementara bagi Thailand, koridor ini diharapkan dapat meningkatkan produksi pertanian di tiga provinsi (Chumphon, Surat Thani, dan Phatthalung).
Koridor kedua adalah Koridor Selat Malaka, yang menghubungkan pesisir Malaka di Thailand dan Malaysia. Jalur ini membentang dari Phang Nga (Thailand) hingga Pelabuhan Tanjung Bruas (Malaysia).
Koridor ketiga adalah Trans Sumatera, yang menghubungkan semua provinsi di Sumatera.
Menurut informasi dari Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), hingga Februari 2024 telah beroperasi 15 ruas jalan tol dengan total panjang 885 km. Panjang keseluruhan jalan tol ini direncanakan melebihi 2.800 km.
Koridor keempat menghubungkan Sumatera Barat, Riau, dan Johor. Provinsi Sumatera Barat berfungsi sebagai pintu Samudera Hindia.
Selanjutnya, dua titik di Provinsi Riau -Pelabuhan Sri Junjungan dan Pulau Rupat- berfungsi menyambungkan titik ke Johor. Pulau Rupat memiliki potensi pariwisata, sedangkan Pelabuhan Sri Junjungan berfungsi sebagai pelabuhan roro melintasi Selat Malaka.
Koridor kelima menghubungkan Thailand bagian barat daya, Aceh, dan Malaysia bagian barat laut. Bagi Indonesia, koridor ini diharapkan menciptakan sinergi dengan Thailand di wilayah Laut Andaman.
Bagi Malaysia dan Thailand, koridor ini memberikan peluang pariwisata di sepanjang Segitiga Sabang-Phuket-Langkawi.
Terakhir, koridor keenam berfungsi menghubungkan lebih banyak 13 provinsi di tiga negara. Rekomendasi tambahan ini melibatkan 6 provinsi di Pulau Sumatera, yaitu Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, Lampung, Kepulauan Riau, dan Bangka Belitung.
Koridor keenam ini dapat menjadi semacam game changer dengan menghubungkan banyak pusat pertumbuhan ekonomi. Dengan mendekati Singapura, diharapkan koridor ini bisa mendapatkan banyak manfaat.
Seluruh koridor tersebut fokus pada implementasi pembangunan berbagai sektor, seperti transportasi, komunikasi dan informasi, energi, manajemen sampah, penyediaan air bersih, dan lain-lain.
Arah ke depan
Dalam upaya memaksimalkan potensi ekonomi di Selat Malaka, kerja sama lintas batas dan pengembangan koridor ekonomi merupakan langkah strategis yang harus terus diperkuat.
Sebagai contoh, pengembangan sektor pertanian dan industri berbasis agro di Sumatera menjadi kunci utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Selain itu, peningkatan infrastruktur transportasi dan konektivitas antarwilayah akan membuka akses pasar yang lebih luas, memperkuat rantai pasok, dan meningkatkan daya saing produk lokal di kancah internasional. Tidak hanya itu, masih ada sektor lain yang bisa diperkuat.
Sebagai salah satu wilayah strategis di Asia Tenggara, keberhasilan pengembangan koridor ekonomi di Selat Malaka akan membawa dampak positif tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi Malaysia dan Thailand.
Melalui kolaborasi erat dan inovasi yang berkelanjutan, ketiga negara dapat menciptakan kawasan ekonomi yang terintegrasi dan berdaya saing tinggi.
https://money.kompas.com/read/2024/07/09/094702326/memaksimalkan-koridor-ekonomi-di-selat-malaka