Cerita Nasta Ulur, Produksi Batik Ramah Lingkungan hingga Tembus Austria dan Kanada

Cerita Nasta Ulur, Produksi Batik Ramah Lingkungan hingga Tembus Austria dan Kanada

Nasta Rofika merintis Ulur Wiji, jenama ecofashion alias fesyen ramah lingkungan. Halaman all

(Kompas.com) 09/07/24 18:15 10210664

JAKARTA, KOMPAS.com - Produk fesyen pasti sudah tidak asing lagi bagi Anda. Namun, apakah Anda pernah mengetahui atau membelu produk fesyen ramah lingkungan?

Nasta Rofika merintis Ulur Wiji, jenama ecofashion alias fesyen ramah lingkungan. Nasta sebetulnya memulai bisnis fesyen pada tahun 2015 kala ia masih bekerja sebagai pegawai kantoran.

Sambil bekerja, Nasta mengikuti sekolah fesyen pada akhir pekan. Impiannya, kelak bisa menjadi seorang perempuan wirausaha, dan tak selamanya menjadi pegawai kantoran.

Ilustrasi Kampung Batik Lawyan. Berikut rekomendasi tempat beli batik di Solo

“Dari 2015 sampai 2019 itu saya masih mengerjakan fast fashion, membuat apa saja asal jadi duit. Gaun, jilbab. Brand pertama saya namanya Nasta, menggunakan nama sendiri,” ujar Nasta.

Namun, produk-produk Nasta tak bisa bersaing, karena cepatnya perubahan tren dan banyaknya produk dengan konsep yang sama. Akhirnya, pada 2019, ia memutuskan untuk menghentikan Nasta, sambil melakukan refleksi.

Sebagai seorang sarjana teknik lingkungan, Nasta punya impian melahirkan produk fesyen yang ramah lingkungan. Ia sempat mencoba ecoprint, tetapi ternyata sudah banyak pemainnya.

Hingga akhirnya ia ingin melakukan inovasi produk eco fesyen dengan menggunakan batik.

“Batik akan menyampaikan apa yang jadi aspirasi saya, dan saya berikan added value supaya lebih eco, dengan memilih warna alam. Saya riset lagi dan belajar soal warna alam. Waktu itu, belum banyak yang mengeluarkan produk seperti ini,” kata Nasta.

Selama setahun, ia memikirkan konsep baru produk yang akan dikeluarkannya. Masa pandemi, yang menjadi masa-masa sulit bagi pelaku UMKM, justru menjadi awal kebangkitan Nasta dan karyanya.

Shutterstock/Stephanie Lena Lee Ilustrasi batik

Awal Juli 2020, Nasta meluncurkan produk Ulur Wiji. Saat itu, tak ada satu pun produk yang laku.

“Di awal, saya merasa produk saya bisa menyelamatkan dunia, ternyata enggak ada yang beli. Sedih banget. Saya idealis, kainnya harus eco banget, benar-benar memilih produsen yang bertanggung jawab pada lingkungan,” ujar dia.

Pada Agustus 2020, Nasta mengubah strategi pemasaran dengan melakukan pendekatan kepada influencer yang selama ini dikenal sebagai pencinta lingkungan. Cara ini efektif, karena akhirnya produk Ulur Wiji diminati dan mulai banyak konsumen yang membeli produknya.

Pada 2021, Nasta yang selama ini membangun bisnisnya di Penajam Passer Utara, Kalimantan Timur, memutuskan kembali ke kampung halamannya di Mojokerto, Jawa Timur.

Sang suami pun resign dari pekerjaannya dan membangun usaha bersama Nasta. Mereka memutuskan kembali ke Jawa Timur untuk memenuhi permintaan sang ibu.

Kini, Ulur Wiji sudah memberdayakan 10 orang artisan batik dan enam penjahit mitra.

Secara bisnis, Ulur Wiji memiliki tiga visi misi yaitu melestarikan budaya melalui produk batik, menghadirkan produk yang ramah lingkungan, dan memberdayakan anak muda dan perempuan.

Pemasaran produknya sebagian besar masih di dalam negeri, tetapi sudah mulai merambah ke beberapa negara melalui penjualan retail, di antaranya ke Singapura, Malaysia, dan Austria.

Ulur Wiji juga bermitra dengan salah satu pengusaha di Kanada yang memperkenalkan produknya.

Nasta pun terpilih menjadi salah satu dari 20 peserta Women Ecosystem Catalyst (WEC) 2024.

WEC merupakan program yang digagas PT HM Sampoerna Tbk melalui Payung Program Keberlanjutan “Sampoerna Untuk Indonesia” (SUI) bersama Perkumpulan Imajinasi Penaja Mula dan Dinas Koperasi UKM Provinsi Jawa Tengah.

WEC yang baru selesai digelar pada awal Juni lalu, membawa banyak cerita bagi Nasta. Rangkaian WEC yang berlangsung sejak Januari 2024, memberikan berbagai wawasan dan ilmu.

WEC memberikannya berbagai pengalaman baru. Ia menyebutkan, baru pertama kali bertemu venture capital, mendapatkan pendampingan secara intens dari para ahli, dan diajak merefleksikan bisnis yang sudah dijalaninya selama ini.

Nasta mendapatkan kesempatan didampingi mentor yaitu perancang busana Ali Charisma dan Nisaul Aulia, founder dan director Basicludo, konsultan strategi.

#umkm #batik #hm-sampoerna #fesyen #fesyen-ramah-lingkungan

https://money.kompas.com/read/2024/07/09/181500426/cerita-nasta-ulur-produksi-batik-ramah-lingkungan-hingga-tembus-austria-dan