Sepi Pembeli, Pedagang Seragam Sekolah di Pasar Tomang Barat Harus Putar Otak agar Tetap Untung

Sepi Pembeli, Pedagang Seragam Sekolah di Pasar Tomang Barat Harus Putar Otak agar Tetap Untung

Pedagang seragam sekolah di Pasar Tomang Barat harus putar otak agar bisa tetap untung di tengah sepinya pembeli yang datang ke pasar. Halaman all

(Kompas.com) 09/07/24 22:31 10234805

JAKARTA, KOMPAS.com - Eko (50), pedagang seragam sekolah di Pasar Tomang Barat, Jakarta Barat, mengaku perlu memutar otak di tengah sepinya pembeli yang datang ke pasar.

Hal itu harus dilakukan agar barang-barang yang dijualnya bisa tetap laku sehingga ia tidak merugi.

"Kalau enggak bisa pakai cara A, pakai cara B untuk mendapat cuannya, enggak bisa cara B lagi, cara C," tutur Eko saat dijumpai Kompas.com di Pasar Tomang Barat, Jakarta Barat, Senin (8/7/2024).

Selain berjualan seragam sekolah, Eko memutuskan untuk menjual berbagai macam pakaian sehari-hari.

Bahkan, dia juga menjajakan pakaian bayi dan balita agar bisa lebih banyak mendapat pembeli.

"Ya makin ke sini harus bisa cari pelanggan. Kalau dagang hanya diam saja, terus putus hubungan dengan pelanggan, ya enggak bisa maju," terang Eko.

Eko menyadari bahwa perkembangan zaman yang semakin canggih membuat pembeli yang dulunya datang ke Pasar Tomang Barat, kini beralih ke toko daring.

Karena itu, Eko menerapkan sistem cash on delivery (COD). Ia menawarkan baju dengan cara menghubungi para pelanggan melalui WhatsApp lalu mendatangani rumahnya.

"Saya kasih diskon biar dia balik lagi, bahkan saya layani antar ke rumah atau bahasanya sekarang COD. Saya kasih full service lah buat pelanggan," ucap Eko.

Eko tak menampik bahwa sistem COD yang ia terapkan membuatnya tambah repot.

Sebab, ia harus membawa banyak baju agar bisa dicoba oleh pelanggan.

"Ya itu tetap cara pasar, tapi saya bawa ke rumah pelanggan. Mereka tetap bisa coba-coba baju," ungkap Eko.

Eko akhirnya bisa beradaptasi berjualan dengan sistem COD. Hal itu juga ia terapkan saat pandemi Covid-19 lalu.

"Kalau zaman pandemi, di kantong belanja ada nomor WhatsApp saya, dihubungilah kebutuhannya apa catat tuh, barang harian biasanya pakaian dalam, baju anak, seragam sekolah," ucap Eko.

"Setelah lengkap pesanan, langsung saya kirim. Jadi waktu pandemi memang enggak boleh buka kan pasar, jadi ya gitu caranya," sambungnya.

Berkat cara ini, pelanggan terus kembali. Bahkan, ia juga menjaga relasi dengan langganan sejak mertuanya berdagang.

"Langganan mertua juga banyak kan sejak dulu. Ya tetap terjaga sih," kata Eko.

Eko menilai, mereka bisa menikmati fasilitas belanja dengan layanan yang dia berikan.

Saat ini, penghasilan Eko juga stabil antara Rp 900.000 sampai dengan Rp 1,2 juta dalam sehari.

"It works. Langganan saya juga jadi bertambah," terang Eko.

Sebelumnya diberitakan, Eko mengeluhkan sepinya pembeli yang datang ke Pasar Tomang Barat semenjak pandemi Covid-19 melanda Indonesia.

"Sekarang sudah enggak kayak dulu. Sepi pembeli," ujar Eko saat dijumpai Kompas.com di Pasar Tomang Barat, Jakarta Barat, Senin.

Sebagai informasi, Kompas.com berkunjung ke Pasar Tomang Barat, Senin (8/7/2024). Saat dikunjungi, pasar ini terlihat sepi pembeli.

Padahal, pekan ini merupakan tahun ajaran baru bagi para siswa SD, SMP dan SMA.

Terhitung, ada sekitar 27 pedagang yang menjual seragam sekolah di Pasar ini.

Dari 27 pedagang itu, terhitung hanya sekitar enam kios yang sedang melayani pembeli. Selebihnya, para pedagang duduk sambil menawarkan barang dagangannya ke pengunjung yang datang.

(Penulis: Rizky Syahrial | Editor: Akhdi Martin Pratama)

#pedagang-seragam-sekolah #pasar-tomang-barat #pedagang-seragam-sekolah-di-pasar-tomang-barat

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/07/09/22315481/sepi-pembeli-pedagang-seragam-sekolah-di-pasar-tomang-barat-harus-putar