Kisah Sunaryo, 40 Tahun Jadi Loper Koran demi Bantu Mencerdaskan Masyarakat

Kisah Sunaryo, 40 Tahun Jadi Loper Koran demi Bantu Mencerdaskan Masyarakat

Bagi Sunaryo, loper koran merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Melalui jasanya, dia turut andil dalam mencerdaskan masyarakat. Halaman all

(Kompas.com) 10/07/24 06:32 10274727

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - Sunaryo (64), telah menggeluti pekerjaan sebagai loper koran selama 40 tahun.

Setiap harinya, dia harus mengayuh sepeda dari rumahnya di Pondok Aren, Tangerang Selatan ke Pesanggrahan, Jakarta Selatan demi mengantarkan koran ke rumah pelanggannya.

Pria asal Kulon Progo itu mulai menjadi loper koran di Jakarta sejak 1983 atau saat usianya masih 23 tahun. Dia menggeluti pekerjaan tersebut pertama kali setelah diajak temannya.

Bagi Sunaryo, loper koran merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Melalui jasanya, dia turut andil dalam mencerdaskan masyarakat.

“Saya ini hanya berjuang agar semuanya ikut cerdas. Karena saya sekolahnya cuma sampai SD,” ungkap Sunaryo kepada Kompas.com di rumahnya, Pondok Betung, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Selasa (9/7/2024).

Sunaryo bercerita, dia sempat mengalami masa jaya sebagai seorang loper koran. Hal itu terjadi di era Presiden Soeharto.

Saking banyaknya pelanggan, dia selalu keteteran mengantar surat kabar dari berbagai macam media massa di Indonesia.

Belum lagi, hujan turun saat pagi hari. Alhasil, omelan pelanggan selalu menjadi makanan sehari-hari.

“Ya umpamanya, \'lah kok korannya siang?\', \'iya, Pak, maklum, karena hujan, situasinya saya pakai sepeda\',” ujar Sunaryo.

“Terus, ada lagi kalau saya lempar (ke rumah pelanggan) terus enggak ada orang, besoknya diomelin. \'Korannya basah kemarin, enggak bisa dibaca\', \'Maaf, Pak. Kemarin aku ke sini belum hujan\',” kata Sunaryo melanjutkan.

Meski begitu, Sunaryo tidak pernah mengambil hati perkataan pelanggannya. Kata maaf merupakan kunci agar pelanggannya tidak pergi ke loper koran lain.

Seiring perkembangan zaman, surat kabar justru makin ditinggalkan pembaca. Kondisi ini berdampak dengan menurunnya pelanggan Sunaryo.

Dia tidak pernah menyangka bahwa beberapa nama-nama beken media massa mulai gulung tikar mengingat oplahnya terus merosot.

“Karena, sekarang ini sudah ada ponsel. Singkatnya, mau apa saja, pakai ponsel bisa, mau berita apa saja ada. Keadaannya sudah berubah, enggak kayak dulu,” ujar Sunaryo.

“Dulu waktu zaman Presiden Soeharto kan gampang cari langganan. Kalau sekarang kan modelnya sudah pakai komputer dan ponsel. Apa boleh buat? Karena keadaan ya,” tambah dia.

Dari ratusan, kini pelanggan Sunaryo bisa terhitung jari. Semua pelanggannya merupakan orang yang gemar membaca dan membutuhkan informasi lengkap.

Dengan begitu, Sunaryo sudah tidak bisa lagi menjual koran secara eceran. Kalau pun bisa, itu hanya untung-untungan.

“Aku 9 pelanggan Harian Kompas, Media Indonesia 7, Warta Kota 5. Setelah ada ponsel, merosot total. Ya semuanya itu, Nova, Kartini, Femina, itu sudah enggak ada,” tutur dia.

Terlepas dari makin berkembangnya zaman, Sunaryo menduga ada beberapa faktor lain yang menyebabkan menurunnya pelanggan, salah satunya adalah harga bahan pokok yang makin mahal.

Masyarakat yang gemar membaca, tapi dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah berpikir dua kali untuk membeli surat kabar.

Kata Sunaryo, daripada membeli koran, lebih baik uang mereka pakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang lebih pokok.

“Dunia ini sudah berubah, apa-apa mahal. Sementara, kebutuhan yang lainnya masih belum terpenuhi. Masyarakat ekonomi menengah ke bawah enggak bisa beli,” ungkap dia.

Sunaryo menyadari, kini usianya sudah senja dan pelanggannya semakin berkurang. Namun hal itu tak bisa dijadikan alasan untuk dirinya berhenti dari profesi ini.

“Aku nih (loper koran) seolah-olah olahraga saja. Kalau jualan, ya untungnya mah enggak seberapa. Kata orang bagus sambil olahraga. Enggak (cari keuntungan), lebih kesehatan,” imbuh dia.

“Karena situasi sekarang enggak kayak zaman mbah saya dulu, usianya bisa 95 tahun. Sekarang saja, 65 tahun sampai 75 tahun sudah pada enggak kuat berdiri, sudah banyak penyakit gula,” katanya lagi.

Sunaryo mengaku anak-anaknya sudah meminta dirinya berhenti bekerja. Namun, dia tidak mau meninggalkan pekerjaan yang telah dia geluti sejak masih muda itu.

“Sudah biasa kerja, kalau diam di rumah, justru badan pada sakit. Ya yang tadi saya bilang, hitung-hitung olahraga setiap pagi,” ujar dia.

Bangga

Sunaryo merupakan kepala rumah tangga dari tiga orang anak. Istrinya bernama Parni (59) yang sampai saat ini masih bekerja menjadi pedagang sayur keliling.

Sama seperti Sunaryo, setiap pagi Parni keliling menggunakan sepeda dan topi capingnya.

Dari tiga anak, Sunaryo dan Parni mempunyai delapan cucu yang beberapa diantaranya telah berusia remaja.

Meski hanya seorang loper koran dan pedagang sayur keliling, pasangan suami istri itu bangga dengan pekerjaannya.

Dari jerih payah mereka ini bisa mengantarkan ketiga anaknya meraih mimpi.

“Anak pertama saya itu asisten dokter gigi, anak kedua saya ahli gizi di Rumah Sakit Harapan Kita, dan yang terakhir apoteker. Saya bangga,” ucap Sunaryo.

#loper-koran #sunaryo-40-tahun-jadi-loper-koran

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/07/10/06320681/kisah-sunaryo-40-tahun-jadi-loper-koran-demi-bantu-mencerdaskan