Sudah Berusia Senja, Ini Alasan Sunaryo Tetap Bertahan Jadi Loper Koran
Hampir setiap hari Sunaryo mengayuh sepeda dari rumahnya di Pondok Aren ke Pesanggrahan demi mengantarkan koran ke rumah pelangganya. Halaman all
(Kompas.com) 10/07/24 07:28 10279487
TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - Sunaryo (64), memilih masih menggeluti pekerjaannya sebagai loper koran selama 40 tahun demi menjaga kebugaran tubuhnya.
Dalam menjalankan pekerjaannya itu, Sunaryo lebih memilih menggunakan sepeda. Hampir setiap hari, dia mengayuh sepeda dari rumahnya di Pondok Aren, Tangerang Selatan ke Pesanggrahan, Jakarta Selatan demi mengantarkan koran ke rumah pelangganya.
“Aku nih (loper koran) seolah-olah (hanya untuk) olahraga saja. Kalau jualan, ya untungnya mah enggak seberapa. Kata orang bagus sambil olahraga,” ujar Sunaryo saat berbincang dengan Kompas.com di kediamannya, Pondok Betung, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Selasa (9/7/2024).
Bapak tiga anak ini mengaku jika tak bekerja badannya akan terasa sakit.
“Lebih ke kesehatan. Karena situasi sekarang enggak kayak zaman mbah saya dulu, usianya bisa 95 tahun. Sekarang saja, 65 tahun sampai 75 tahun sudah pada enggak kuat berdiri,” tutur Sunaryo.
Pria asal Kulon Progo ini mengaku lebih memilih menggunakan sepeda dibandingkan sepeda motor untuk mengantarkan koran ke rumah pelanggannya.
Alasannya sederhana, dia mengaku tak begitu mahir menggunakan sepeda motor.
“Aku bisanya naik sepeda, kalau naik motor, aku takut. Jalanan sudah ramai. (Bisa naik motor, tapi) kalau enggak ada motor atau mobil, ya bisa pelan-pelan. Kalau di jalan raya, aku malah diomelin sama orang,” ujar Sunaryo.
Sepanjang dia menggunakan sepeda, sudah tiga kali Sunaryo mengalami kecelakaan. Pria asal Kulon Progo itu justru mengaku tak kapok bersepeda di jalan raya.
Bagi Sunaryo, loper koran merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Melalui jasanya, dia turut andil dalam mencerdaskan masyarakat.
“Saya ini hanya berjuang agar semuanya ikut cerdas. Karena saya sekolahnya cuma sampai SD,” ungkap Sunaryo.
Seiring perkembangan zaman, Sunaryo mengungkapkan bahwa surat kabar justru ditinggalkan pembaca. Kondisi ini berdampak dengan menurunnya pelanggan.
Dia tidak pernah menyangka bahwa beberapa nama-nama beken media massa mulai gulung tikar mengingat oplahnya terus merosot.
Dari ratusan, kini pelanggan Sunaryo bisa terhitung jari. Semua pelanggannya merupakan orang yang gemar membaca dan membutuhkan informasi lengkap.
Dengan begitu, Sunaryo sudah tidak bisa lagi menjual koran secara eceran. Kalau pun bisa, itu hanya untung-untungan.
“(Jumlah pelanggan) aku (sekarang ada) 9 pelanggan Harian Kompas, Media Indonesia 7, Warta Kota 5,” pungkas Sunaryo.