Bangganya Pasangan Loper Koran dan Pedagang Sayur, Tiga Anaknya Sekolah Tinggi meski Hidup Sulit

Bangganya Pasangan Loper Koran dan Pedagang Sayur, Tiga Anaknya Sekolah Tinggi meski Hidup Sulit

Meski Sunaryo hanya seorang loper koran dan Parni bekerja sebagai pedagang sayur keliling, ketiga anaknya kini telah bekerja di dunia medis. Halaman all

(Kompas.com) 10/07/24 13:36 10307778

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - Pasangan suami istri (Pasutri) bernama Sunaryo (64) dan Parni (59) sangat bangga karena bisa menyekolahkan anaknya sampai ke tingkat pendidikan tinggi.

Meski Sunaryo hanya seorang loper koran dan Parni bekerja sebagai pedagang sayur keliling, ketiga anaknya kini telah bekerja di dunia medis.

“Anak pertama saya itu asisten dokter gigi, anak kedua saya ahli gizi di Rumah Sakit Harapan Kita, dan yang terakhir apoteker. Saya bangga,” ungkap Sunaryo saat berbincang dengan Kompas.com di rumahnya, Pondok Betung, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Selasa (9/6/2024).

“Aku bisanya itu (sekolahkan anak), daripada beli motor, mending pentingkan anak sekolah. Enggak punya apa-apa, enggak apa-apa. Yang penting, pendidikan anak sekolah,” ujar Sunaryo melanjutkan.

Oleh karena itu, Sunaryo dan Parni mengucap syukur kepada Sang Pencipta telah diberikan ketabahan dan kekuatan selama menyekolahkan ketiga buah hati.

Mereka tidak mau melihat ketiga anaknya bernasib sama seperti orangtuanya.

“Kalau saya jujur ya, saya orang buta huruf ya, saya enggak sekolah sama sekali. Anak saya bisa sarjana dan sekarang dengan pekerjaannya, saya sujud syukur, Alhamdulillah banget. Saya bangga banget,” ujar Parni.

“Aku juga sekolah cuma sampai SD. Jadi, orang enggak sekolah bertemu sama orang enggak sekolah juga,” seloroh Sunaryo.

Dalam perjalanannya menyekolahkan anak, Sunaryo dan Parni kerap kali diremehkan orang mengingat pekerjaan mereka hanyalah loper koran dan pedagang sayur keliling.

Tapi, pasutri ini tidak ingin mengambil hati omongan tersebut sehingga mereka menjalani pekerja dengan ikhlas dan jujur.

“Ibaratnya, dibilang anak masuk sekolah SMP dan SMA nanti utangnya banyak. Ya biarin orang pada bilang, yang penting saya enggak. Biarin saja, Allah yang tahu. Yang penting kita jujur,” kata Parni.

“Mirip-mirip kayak gitu, \'cuma jual sayur dan loper koran, bisa apa?\'” timpal Sunaryo lagi.

Kesulitan dalam membiayai sekolah anak pernah mereka rasakan. Beruntung, keduanya mempunyai tetangga yang selalu mendukung hal-hal baik.

“Itu kasih semangat saya, \'ada kemauan pasti ada jalan, ayo\'. Kalau anak-anak enggak bisa makan nih, diutangi beras, nanti saya cicil. Atau nanti bayarnya pakai sayuran. Alhamdulillah,” ujar Parni.

“Kalau ada kemauan pasti ada jalan. Jadi dia kasih semangat terus, pinjam duit sama saudara saja enggak ada yang percaya. Dia (tetangga) Alhamdulillah mau tolongin. Tapi sekarang dia sudah meninggal,” tambah Parni.

Untuk diketahui, Sunaryo dan Parni bekerja menggunakan sepeda untuk berkeliling atau mengantar koran ke rumah pelanggan.

Sunaryo sendiri sudah menjadi loper koran sejak berusia 23 tahun, sedangkan Parni menggeluti pedagang sayur keliling sejak berumur 15 tahun.

Dari tiga anak, Sunaryo dan Parni mempunyai delapan cucu yang beberapa telah berusia remaja.

Meski sudah dilarang bekerja karena usia, Sunaryo dan Parni tetap mempertahankan pekerjaan mereka.

Bukan karena kebutuhan ekonomi, pekerjaan ini mereka anggap sebagai olahraga untuk memperlancar peredaran darah.

"Aku nih seolah-olah olahraga saja. Kalau jualan, ya untungnya mah enggak seberapa. Kata orang bagus sambil olahraga," kata Sunaryo.

#kisah-inspiratif #sunaryo-40-tahun-jadi-loper-koran

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/07/10/13360191/bangganya-pasangan-loper-koran-dan-pedagang-sayur-tiga-anaknya-sekolah