Keberhasilan Hanya Milik Mereka yang Bersungguh-sungguh

Keberhasilan Hanya Milik Mereka yang Bersungguh-sungguh

Bisnis perikanan penuh spekulasi, sarat risiko, dan sangat bergantung kondisi alam. - Halaman all

(InvestorID) 11/07/24 09:10 10398784

Sebelum terjun ke dunia usaha perikanan yang relatif kompleks, Subaskoro, direktur utama PT Tunas Bersaudara Juwana, sempat dua tahun melakoni bisnis skala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yaitu berdagang susu sapi murni. Itu dijalani Baskoro, sapaan akrab Subaskoro, sewaktu tinggal di Jakarta pada 2012.

Usaha tersebut berkembang cukup bagus. Hanya saja, karena Baskoro harus pulang kampung, bisnis itu tidak dilanjutkannya. Baskoro tidak menyesal, karena dari situlah, banyak pengalaman berharga yang didapatkan dan kemudian diterapkan dalam menggeluti bisnis perikanan saat ini.

Pria kelahiran Pati itu percaya, keberhasilan hanya bisa diraih oleh orang yang bersungguh-sungguh, sebagaimana pepatah Arab, "Man jadda wa jada" (siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia pasti akan bisa dan berhasil). Karenanya, Baskoro selalu bekerja keras, bersungguh-sungguh, dan pantang menyerah, apa pun bisnis yang dijalaninya.

Nilai-nilai kehidupan itu ia peroleh kala menimba ilmu di Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Gontor. “Man jadda wa jada, itu pelajaran pertama yang saya peroleh saat belajar di Gontor. Saya selalu mengingatnya bahwa saya harus bersungguh-sungguh agar berhasil,” tutur Baskoro kepada wartawati Investor DailyTri Listiyarini, baru-baru ini.

Sikap tersebut memang pas dengan bisnis perikanan yang ditekuni Baskoro saat ini, penuh spekulasi, sarat risiko, dan sangat bergantung kondisi alam. Dengan karakter bisnis yang demikian, pelaku usaha perikanan tangkap, termasuk Baskoro, harus pintar-pintar mengatur strategi. Ia mesti berupaya menjaga arus kas perusahaan tetap lancar, sekalipun musim paceklik datang.

Karenanya, membangun kemitraan dan menciptakan trust dan chemistry dengan para pembeli harus terus dilakukan. “Bisnis perikanan tangkap itu tidak mudah. Gambling-nya tinggi. Dalam setahun, cuaca tidak mendukung itu ada tiga bulan. Kami benar-benar bertaruh dengan alam,” kata Baskoro.

Dalam menjalankan usaha di bidang perikanan tangkap tersebut, Baskoro juga memiliki misi ingin ikut berperan menjaga laut. Alasannya, di dalam laut ada ‘harta karun’ yang tidak akan ada habisnya, asalkan dijaga secara saksama. Lalu, bagaimana upaya Baskoro dalam mewujudkan misi itu, serta strategi apa yang ditempuh untuk memajukan dan mengembangkan bisnisnya di masa depan, berikut petikan wawancaranya.

Mengapa Anda memilih bisnis perikanan tangkap?

Pertama, mungkin Anda pernah mendengar lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut. Nah, nelayan itu pelaut, anak cucunya juga harus menjadi pelaut. Kalau dulu anak cucu menjadi pelaut atau nelayan beneran, sekarang cukup memanajemeni apa yang ada di laut. Saya adalah anak dan cucu nelayan, saya akan ikut menjaga laut dengan cara berupaya ikut mengelolanya secara baik.

Kedua, ada yang bilang tidak semua pebisnis berani masuk perikanan tangkap. Ya, sudah banyak pengusaha yang mencoba bisnis ini, banyak yang sukses, tapi banyak juga yang gagal. Sebab, bisnis ini memang benar-benar bertaruh dengan alam. Kita nggak tahu apa yang akan terjadi di laut. Kami hanya bisa berdoa ketika kapal sudah lepas jangkar atau bertolak dari dermaga, berharap yang baik-baik saja. Ini yang sedang saya coba taklukkan.

Kapan Anda memulai bisnis tersebut?

Bisnis yang saya jalankan ini sebenarnya bisnis turunan keluarga. Pada 1970-1980-an, kakek saya adalah salah satu dari tiga orang di daerah saya yang memiliki kapal. Saat itu, ayah saya yang jadi manajer usaha kakek saya. Pada 1990-an, ayah saya mencoba mandiri dengan membuat kapal sendiri, hingga akhirnya memiliki tujuh unit kapal. Tapi pada tahun 2000-an, ayah saya rupanya juga sibuk di koperasi perikanan sehingga sekian waktu bisnis itu terbengkalai.

Pada 2007, saat saya mulai kuliah di Jakarta, ambil ilmu komunikasi, bisnis perikanan tangkap di Pati mulai tumbuh dan mencapai puncaknya pada 2010-2012. Karena itu, pada 2013, begitu lulus, saya langsung diminta pulang untuk mengembangkan bisnis ayah saya. Saat itu, berdirilah PT Tunas Bersaudara Juwana.

Saya memulai bisnis dengan bendera PT Tunas Bersaudara Juwana benar-benar dari nol. Saat saya mendirikan perusahaan baru, ayah saya hanya berpesan agar saya mengembangkan bisnis menjadi lebih besar. Modalnya tiga kapal dari ayah saya yang usianya sudah sangat tua, sekitar 20 tahun, ibaratnya saya dapat ampas.

Baru pada 2014, perusahaan saya mulai membuat kapal sendiri, dua kapal. Bisnis mulai benar-benar berjalan atau operasional pada akhir 2015 atau awal 2016. Kapal ayah saya kemudian saya jual karena mengoperasikan kapal tua itu banyak makan biaya.

Anda lulusan ilmu komunikasi, ada kendala saat memulai bisnis ini?

Awalnya memang tidak mudah. Namun, dengan upaya yang sungguh-sungguh, jalan terbuka. Sebenarnya saat kuliah, saya sudah bantu-bantu ayah saya, misalnya membantu mengurus perizinan kapal di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Jakarta. Itu tentu pengalaman yang berharga. Ilmu yang saya peroleh saat kuliah juga cukup bermanfaat, terutama untuk menjalin komunikasi bisnis dan membangun jaringan bisnis. Juga bermanfaat saat saya harus berkomunikasi dengan para sesepuh di keluarga saya.

Bisnis yang saja jalani ini awalnya bisnis keluarga, sehingga saya harus bisa mengombinasikan pemikiran-pemikiran terdahulu dengan pemikiran masa kini. Bisnis perikanan tangkap ini kental dengan nuansa kejawen, sehingga saat pertama perusahaan beroperasi sempat ada debat, tapi bisa selesai dengan komunikasi yang baik.

Bisnis Anda sangat bergantung musim, bagaimana mengatasinya?

Betul sekali. Dalam setahun, hanya 8-9 bulan kami bisa operasional secara normal, 3-4 bulan lainnya adalah cuaca buruk. Biasanya, Januari sampai periode Imlek, hujan terus-menerus dan terjadi badai. Bahkan, di wilayah pengelolaan perikanan (WPP) tertentu dalam setahun kami hanya bisa bekerja lima bulan, sisanya cuaca buruk dan tidak musim ikan. Banyak kapal yang berlindung karena badai, ombaknya setinggi 6-7 meter. Alhasil, kapal tidak bisa dioperasikan.

Semua itu tentu memengaruhi cashflow atau likuiditas perusahaan. Apalagi, bisnis perikanan tangkap sifatnya triwulanan. Tiga bulan kapal melaut, baru pulang. Yang saya lakukan adalah mengupayakan berbagai cara agar cashflow perusahaan terjaga, seperti melakukan kemitraan, menjaga komunikasi dan chemistry bisnis, terutama dengan pembeli (buyer).

Bahkan terkadang ada istilah kasbon. Kapal berangkat maka pemilik kapal bisa minta pinjaman dana ke buyer. Ketika kapal pulang, hasil melautnya langsung dipotong, ini demi likuiditas. Dalam konteks ini, trust harus ada antara pemilik kapal atau pemilik ikan dan pembelinya.

Berapa karyawan Anda dan hasil tangkapan setahunnya?

Karyawan sekitar 100 orang, termasuk nakhoda, semuanya lokal. Kapal kita 150 gross tonnage (GT) untuk satu kapal, termasuk kapal besar. Karena usaha perikanan tangkap itu sifatnya spekulasi, tergantung cuaca atau alam, sulit saya bilang berapa tangkapan per tahun, tentatif. Contoh, kami punya kapal bagus, alat tangkap oke, nakhoda dan ABK oke, ternyata di laut nggak oke,nggak bisa apa-apa.

Sebaliknya, kami punya kapal nggak begitu oke, punya alat tangkap nggak begitu sempurna, tapi nakhoda dan ABK semangat, laut cuaca baik, dapat banyak. Ketika musim panen, dalam satu tahun bisa sampai 400-500 ton per kapal dengan catatan kapal itu 150-200 GT. Kalau di bawah 150 GT, bisa 200-300 ton setahun, enggak tentu karena muatan kapal itu tidak sama persis dengan ukuran kapal.

Pernah melaut tapi pulang tak bawa ikan?

Perikanan tangkap itu banyak spekulasinya. Itu biasanya terjadi pada Januari-Februari, ketika masuk angin barat, cuaca buruk, hujan turun, badai keluar, gelombang tinggi. Hampir dalam satu bulan sudah 2-3 kali kapal berlindung atau tidak beraktivitas. Yang kami takutkan ketika musim seperti ini ya modal kerja yang diangkut atau dibawa kapal itu enggak balik. Saat kapal berlindung, ABK hanya makan tidur, makan tidur, dan itu perbekalan yang kami bawa keluar terus, terutama solar.

Jadi, bisnis perikanan itu berbeda dengan bisnis yang lain. Gambling-nya tinggi sekali, spekulasi tinggi, makanya bisnis perikanan tangkap butuh perhatian khusus dari pemerintah. Pemerintah jangan lagi memunggungi atau membelakangi laut, karena memang harta karun ada di situ (laut). Untuk itu perlu keberpihakan, misalnya ada bunga kredit khusus untuk pelaku usaha perikanan tangkap.

Apa harapan Anda pada pemerintahan baru?

Sektor kelautan dan perikanan di Indonesia itu sangat kompleks, sehingga dari semua sisi butuh perhatian khusus dari Presiden terpilih Bapak Prabowo Subianto. Di sektor kelautan dan perikanan, sekarang ada kebijakan penangkapan ikan terukur. Sebaiknya, ini jangan dilaksanakan terlebih dahulu sebelum kajian benar-benar tuntas dan memuaskan mayoritas nelayan Indonesia.

Seperti apa gaya kepemimpinan Anda?

Saya mencoba untuk menjadi seorang pemimpin, bukan bos. Dalam pandangan saya, kalau bos itu dia tidak mau tahu, karyawan harus menguntungkan perusahaan, kalau tidak menguntungkan perusahaan maka dipecat, tidak ada kesempatan 2-3 kali bagi karyawan tersebut. Iitu gaya bos.

Kalau seorang pemimpin, dia tidak akan segan memberi kesempatan 2-3 kali bagi karyawannya untuk menunjukkan performanya. Contohnya, ketika nakhoda senior akan memasuki pensiun atau pindah kapal, biasanya dia akan menyerahkan posisi tersebut kepada wakilnya.

Tapi, dalam bisnis perikanan, tidak semua wakil nakhoda ini punya jiwa petarung. Karena itu, saya memberi kesempatan dia satu trip dulu, satu trip belum berhasil, saya kasih kesempatan satu trip lagi, kalau tidak berhasil juga baru saya berhentikan.

Strategi Anda untuk memajukan perusahaan?

Pertama, terus berusaha membangun jaringan dan komunikasi seluas mungkin karena bisnis tanpa jaringan itu nonsense. Bukan hanya membangun jaringan di dalam negeri, saya juga tengah membangun jaringan ke luar negeri. Kedua, saya sedang menyiapkan diri agar perusahaan bisa merambah bisnis trading ikan, baik grosir maupun ritel, skala kecil maupun besar. Ketiga, saya juga sedang menyiapkan diri agar perusahaan bisa melakukan ekspor sendiri dan masuk bisnis hilir khususnya pengalengan ikan. Ini merupakan target menengah-panjang.

Apa filosofi hidup Anda?

Man jadda wa jada, siapa yang bersungguh-sungguh maka dapatlah ia. Ini pelajaran pertama yang saya peroleh saat belajar di Gontor dan selalu teringat sampai sekarang bahwa saya harus bersungguh-sungguh agar berhasil. Saya kira, ini tidak hanya berlaku untuk saya yang kebetulan terjun di bisnis perikanan tangkap, tapi juga untuk profesi lain, entah pengusaha atau bahkan wartawan sekalipun.

Dukungan keluarga terhadap profesi dan karier Anda?

Kalau istri dan anak pasti mendukung karier saya. Apa yang menjadi karier dan tanggung jawab dari suaminya pasti didukung. Keluarga besar juga mendukung. Bagaimana pun, bisnis yang saya jalankan ini awalnya punya keluarga yang harus saya kembangkan. Kami empat bersaudara, saya nomor dua. Saya dan adik saya persis, yang lulusan Fakultas Perikanan Universitas Diponegoro, yang mengelola bisnis. Adik saya bagian operasional, saya bagian manajemen makro dan eksternal.

 

Ingin Dirikan Rumah Produksi Film

Meski sibuk menjalankan bisnis perikanan tangkap, Direktur Utama PT Tunas Bersaudara Juwana Subaskoro masih memiliki keinginan tersimpan untuk bisa berkiprah di bidang perfilman. Pria kelahiran Pati pada 11 Mei 1987 tersebut berharap bisa mendirikan rumah produksi (production house/PH) dan membuat film tentang perikanan.

“Saya dulu sempat ada keinginan bikin film perikanan, bikin PH, cuma belum terealisasi. Bahkan sudah sempat bikin sinopsis, tapi kan harus mengumpulkan modal, minimal saat ini saya sudah membangun jaringan,” ujar dia kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Subaskoro, yang sempat juga bercita-cita menjadi presenter TV tersebut mengatakan, untuk saat ini yang menjadi prioritas utamanya adalah mengembangkan bisnis perikanan tangkap yang sudah dijalankannya agar lebih berkembang dan maju.

Alhasil, keinginan terpendamnya membuat film disimpan dulu karena saat ini bisnis perikanan tangkap dirasanya jauh lebih menguntungkan. “Meski risikonya tinggi, perikanan tangkap lebih menarik, termasuk dari sisi keuntungan,” kata pria penyuka travelling dan olahraga tersebut. (tl)

 

BIODATA

Nama: SUBASKORO, SIKom

Tempat/tanggal lahir: Pati, 11 Mei 1987.

PENDIDIKAN :

Sarjana Komunikasi, Universitas Jayabaya, Jakarta (2013).

KARIER :

Direktur Utama/Owner PT Tunas Bersaudara Juwana (2013-sekarang).

ORGANISASI :

-Wakil Ketua Umum Kadin Pati Bidang Kelautan dan Perikanan (2018-sekarang).

-Wakil Ketua Asosiasi Pemilik Kapal Motor Nelayan Pati (2018-sekarang).

-Anggota Bidang Kelautan dan Kemaritiman Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jateng (2022-2025).

-Wasekjen Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jateng (2021-2026).

-Ketua Alumni Gontor Karesidenan Pati (2024-2029).

 

Editor: Tri Listiyarini (tri_listiyarini@investor.co.id)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #subaskoro #subaskoro-hnsi-jawa-tengah #subaskoro-pt-tunas-bersaudara-juwana #subaskoro-kadin-pati-jawa-tengah #subaskoro-hipmi-jawa-tengah #berita-ekonomi-terkini

https://investor.id/investory/366691/keberhasilan-hanya-milik-mereka-yang-bersungguhsungguh