Cerita "Starling" di Sudirman, Seminggu Bisa 3 Kali Beli Termos Gara-gara Disita Satpol PP
Penjaja kopi keliling (starling) di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, Sufiandi (24), mengaku kerap kali dikejar Satpol PP ketika sedang berjualan. Halaman all
(Kompas.com) 12/07/24 22:16 10564830
JAKARTA, KOMPAS.com - Penjaja kopi keliling (starling) di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, Sufiandi (24), mengaku kerap kali dikejar Satpol PP ketika sedang berjualan.
Sufiandi yang sehari-hari menjajakan kopi di Jalan New Delhi belakang Mall JFX Sudirman mengaku harus mengayuh sepedanya lebih cepat ketika petugas Satpol PP datang ke jalan tersebut.
"Kalau diliat sama Satpol PP yang dari wali kota, dikejar ke mana aja. Kayak saya ketahuan di depan sama Satpol PP, dikejar," ujar dia kepada Kompas.com, Jumat (12/7/2024).
Sufiandi mengatakan, jika dia tertangkap Satpol PP, maka termos yang menjadi napas dagangannya akan disita.
Kalau sudah begitu, ia terpaksa pulang ke rumah dan tidak melanjutkan bekerja.
"Kalau sekarang-sekarang, ngambilnya termos semua. Kalau dulu sama sepeda. Itu kalau diambil sama sepedanya harus nebus Rp 400.000. Kalau termos sih paling rokok Dji Sam Soe itu," tambah dia.
Sufiandi yang berasal dari Madura, telah bekerja selama empat tahun di Jakarta. Ia hafal betul, Satpol PP mana yang masih bisa diajak berkompromi.
"Yang enggak bisa diatur Satpol PP-nya itu yang dari Balai Kota sama dari Monas. Jangankan sampai ngelayanin orang beli, lewat saja diambil kalau ketahuan," kata dia.
Jika termosnya disita Satpol PP, Sufiandi terpaksa harus membeli termos baru untuk dapat berjualan. Sebab, Satpol PP biasanya mengembalikan termosnya dalam rentang waktu yang lama.
"Kadang ada yang sampai seminggu, ada yang setengah bulan," ujar dia.
Bahkan kata Sufiandi, kalau lagi apes, dia bisa dikejar sampai tiga kali dalam seminggu. Setiap kali Sufiandi ditangkap, termosnya selalu disita.
"Pernah seminggu tiga kali diambil termos saya. Diambil Satpol PP, beli lagi, diambil lagi, beli lagi," ujar dia.
Kata Sufiandi, dirinya pernah beberapa kali terjatuh karena dipepet Satpol PP akibat dirinya melarikan diri.
"Dipepet bang kalau kita lewat jalan yang gak ada mobil, sampai jatuh. Sering saya. Di Jalan Manila sini pernah dipepet sampai jatuh," cerita dia.
Ia bahkan hapal jam kedatangan Satpol PP, sehingga dirinya bisa menyiapkan diri.
"Kalau dari kelurahan jam setengah delapan, setengah 9 dari kecamatan, jam 10 jam 11 itu Balai Kota, trus kadang jam setengah 12 dari Monas situ. Dikejar sampe dapet. Emang udah biasa kaya gitu, emang itu tantangannya," tambah dia.
Akan tetapi, pria asal Sampang, Madura ini sadar, ia tidak bisa membebankan masalahnya kepada Satpol PP.
Ia menyadari, bahwa ia memang salah berjualan di jalan-jalan protokol.
"Mereka kan tugas. Di sini memang jalan protokol, Sudirman memang enggak boleh jualan. Jadi kalau gak ada pedagang di depan, Satpol PP gak akan ke sini," tambah dia.