Kisah Gus Wafi Terlibat Debat Nasab Ba Alawi

Kisah Gus Wafi Terlibat Debat Nasab Ba Alawi

Gus Wafi menjelaskan Nasab Ba Alawi jelas tersambung kepada Nabi Muhammad

(Republika) 13/07/24 14:16 10642983

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Beberapa waktu terakhir, konten digital diramaikan dengan sekelompok orang yang mempermasalahkan nasab Ba Alawi. Mereka menganggap habaib yang ada sekarang bukanlah keturunan Nabi Muhammad. Dasarnya adalah sebuah kajian yang diklaim ilmiah.

Dalam wawancara dengan Nabawi TV, pegiat kajian keislaman sekaligus alumnus Pesantren Sidogiri Jawa Timur M Fuad Abdul Wafi (Gus Wafi) menceritakan bagaimana kisahnya terlibat dalam perdebatan nasab Ba Alawi.

Suatu malam, pegiat kajian turos ini berdiskusi bersama orang-orang Kristen, Yahudi, atheis, dan sejumlah kelompok seputar isu-isu kemanusiaan. “Sama sekali belum terpikir mendiskusikan nasab,” kata Gus Wafi.

Kemudian datanglah beberapa teman kepadanya. “Niatnya bersilaturahmi,” ujar pendakwah tersebut. Setelah berdiskusi panjang teman tersebut mengeluarkan pernyataan, “Sekarang habaib sudah kalah, tidak ada yang berani berdebat dengan si penuduh (bahwa nasab Ba Alawi tak bersambung kepada Nabi Muhammad),” kata Wafi.

Alumnus Sidogiri tersebut kaget. Dia bertanya-tanya, apa masalahnya sehingga para habaib dianggap ‘kalah’. “Ya ini ustaz, tentang nasab Ba Alawi,” kata si teman yang datang ke rumah.

Si penuduh tadi sudah membuat karya yang diklaim ilmiah berbentuk buku. Kesimpulan karya tersebut adalah meragukan ketersambungan nasab para habaib kepada Rasulullah SAW.

Ulama hebat dahulu salah semua?

Ketika mengetahui hal tersebut, yang ada di benak Gus Wafi adalah sebagai berikut

Pertama kalau kajian tersebut benar, apa iya guru-guru yang dahulu mendidik saya, sekaligus ulama yang arif yang allamah, salah semua?

“Baik yang di Sidogiri atau yang lain, berarti salah semua dong,” kata Gus Wafi dalam wawancara tersebut.

Kedua, Nahdlatul ulama yang di dalamnya banyak kiai yang sangat mengagumi Ba ‘Alawi

Ini ada banyak orang. Contohnya almaghfur lahu KH Maimoen Zubair, KH Ahmad Nawawi bin Abdul Jalil dan KH Abdul Alim bin Abdul Jalil pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, atau Syaikhuna Kholil Bangkalan, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.

Lihat halaman berikutnya >>>

Kalau mau menggunakan ulama di Nusantara, ada Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, Syekh Muhammad Mahfud bin Abdul Manan at-Tarmasi, Syekh Nawawi al-Bantani, yang alim bahkan allamah (menguasai sejumlah ilmu). Salah satu kitab yang ditulisnya kemudian dipelajari di seluruh pesantren adalah Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadi’in, itu mengakui saadah Ba Alawi.

Kemudian Gus Wafi berpikir, kalau kajian yang membatalkan nasab Ba Alawi diakui, maka konsekuensinya sangat berat, mereka dianggap salah selama ini.

Ketika itu Gus Wafi curiga sekaligus penasaran. Maka dia meminta kitab tersebut. “Adakah yang bawa atau file PDF-nya. Ada teman yang hadir saat itu memberikan kitab yang dimaksud. Baik saya akan pelajari, kasih saya waktu satu pekan untuk mengkaji ini,” kata Gus Wafi.

Temuan yang mengejutkan

Setelah sepekan mengkaji buku hasil kajian yang katanya ilmiah itu, Gus Wafi mengaku mendapatkan banyak kesalahan. “Bahkan di halaman pertama, ketika membuat narasi, bahwa kajian yang dimaksud merupakan bagian dari amar maruf nahi munkar, karena menggali nasab yang bagi si penuduh masih bercampur dan syubhat, di situ penulis meyakini, kajian tersebut bukan pakai data ilmiah tapi nafsu pribadi si penuduh,” ujar Gus Wafi.

Alasannya, berdasarkan tradisi ulama yang ada, tidak ada tradisi mengkaji nasab, termasuk di dalamnya mengkaji ikhtilat nasab, termasuk amar maruf nahi munkar. “Kalau kita buka Kitab al-Hawi karya al-hafidz as-Suyuthi, al-imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawa al haditsiyah atau Fatawa al-kubro, dan ulama yang lain, ketika ada orang mengaku dzuriyah Rasulullah SAW, kemudian tidak bisa dibuktikan, apakah ulama langsung menghajar, memfitnah, merobohkan statemennya, lalu mengajak debat seluruh dunia? Tidak ada,” kata Gus Wafi.

Yang dilakukan ulama adalah berhenti atau tawakuf. “Misalkan antum bukan keturunan rasulullah, andaikan terus menarasikan bahwa dia keturunan Rasulullah, nanti amir yang memberikan semacam tahdzir, kepada si pengaku. Sedangkan ulama dia diam. Itulah kesepakatan para ulama,” kata Gus Wafi.

Al-Hafidz as-Suyuthi dan Imam Ibnu Hajar yang luar biasa alim menjelaskan, ketika menghadapi orang yang mengaku dzuriyat Nabi Muhammad, kemudian tidak bisa dibuktikan, maka masuk kepada masyhurun nasab.

Maksudnya, kalau ada orang yang terkenal di kalangan umum nasabnya tersambung kepada Rasulullah SAW, tapi tak diketahui secara syariat, berarti nasabnya masyhurun nasab wa mahjul fi ilmin nasab. Nasabnya populer, tapi belum diketahui dalam ilmu nasab.

“Tidak ada ulama yang mengatakan, ini nasabnya masyhur, tapi harus diteliti, harus dihujat, tidak ada seperti itu,” kata Gus Wafi.

“Jadi istilah amar maruf nabi munkar dalam membahas nasab adalah kebohongan yang nyata,” tambahnya.

#gus-wafi #habaib #nasab-ba-alawi #nasab-habaib #dzuriyah-nabi-muhammad #dzuriyat-rasulullah

https://khazanah.republika.co.id/berita/sgjw80451/kisah-gus-wafi-terlibat-debat-nasab-ba-alawi