Menikmati Pantai Pink dan Pantai Pasir

Menikmati Pantai Pink dan Pantai Pasir

Pemerintah perlu mendorong percepatan pembangunan infrastruktur dasar dan amenitas di destinasi-destinasi andalan, sebelum berharap investor datang. Halaman all

(Kompas.com) 15/07/24 11:18 10838318

PERJALANAN saya ke Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu, akhirnya mempertemukan saya dengan salah satu pantai yang cukup sering muncul di barisan rekomendasi destinasi wisata Lombok ala linimasa media sosial, yakni Pantai Pink dan Pantai Pasir.

Daya tarik versi media sosial Pantai Pink memang tidak lepas dari teknik-teknik pencitraan digital yang dikemas apik dengan konsep "post truth" atau "pascakenyataan".

Sasaran utamanya tentu para pengguna media sosial sijagat maya, yang diharapkan akan meluangkan waktu untuk melancong ke Pantai Pink.

Kesan warna pink yang menonjol di layar ponsel saya, harus diakui, menjadi salah satu sebab utama mengapa saya kemudian harus meluangkan waktu untuk mampir ke Pantai Pink, sebagai obat penawar penasaran.

Walaupun fakta yang saya temukan, warna pantai yang sebenarnya tidaklah semerona gembar-gembornya.

Sebagaimana disampaikan oleh salah seorang turis asing yang sempat bertegur sapa dengan saya di sana, "No Sun, No Pink". Artinya, memang kesan Pink yang muncul di Media Sosial cukup menonjol alias melebihi fakta yang ada.

Boleh jadi memang penampakan udara pantai ini, terutama dari kamera drone, memang demikian. Meskipun jika dilihat langsung dalam jarak pandang mata, hasilnya berbeda.

Artinya, bukan berarti pantainya tidak berwarna pink. Namun kesan pink yang muncul jauh lebih tajam di media sosial ketimbang aslinya. Itu saja.

Meski demikian, penamaan Pantai Pink, menurut hemat saya, tentu tak ada salahnya juga. Nyatanya jika dicermati secara detail, memang terdapat serpihan karang berwarna kemerah-merahan yang berbaur dengan butiran-butiran pasir yang berwarna putih. Sehingga dibutuhkan sinar matahari yang cukup terik untuk memantulkan warna pink.

Nah, kebetulan di saat kedatangan saya, yang kemudian bertegur sapa dengan salah satu turis asing, cuaca sedang mendung.

Sehingga ketika saya bertanya kepada turis tersebut tentang Pantai Pink, jawabannya demikian. "No Sun, No Pink". Artinya, kesan pink yang muncul di dalam foto-foto dan video sosial media tak muncul di hari itu.

Tapi untuk sebuah branding destinasi, penamaan Pantai Pink sudah cukup mewakili kondisi yang ada. Selain bisa mengundang rasa penasaran, penamaan tersebut tidak terlalu melenceng dari fakta yang ada.

Kekuatan narasi dan story telling dari petugas lapangan di Pantai Pink terkait dengan relasi warna pink dengan pantai bisa menjadi penengahnya.

Dengan kata lain, para pengelola pantai harus bisa memberikan narasi dan visualisasi yang masuk akal, mengapa pantai ini dinamakan Pantai Pink.

Ada syarat dan ketentuan kapan Warna Pink akan terlihat sangat menonjol, misalnya. Sebut saja di saat terik matahari. Atau di saat pengunjung mengambil pasir langsung dari pantai dan mengurainya langsung di depan mata.

Dibutuhkan waktu sekitar 3 jam dari Kota Mataram menuju Pantai Pink di Lombok Utara. Setidaknya itulah waktu versi perjalanan saya bersama tim belum lama ini.

Nyaris tanpa macet dan tanpa banyak gangguan lainnya, kecuali beberapa ruas jalan menjelang memasuki kawasan pantai terdapat kerusakan jalan yang tidak terlalu berarti.

Namun, saya kira, kerusakan-kerusakan sporadis tersebut tetap harus menjadi perhatian bagi Pemda setempat untuk waktu-waktu mendatang.

Pasalnya, aksesibilitas yang baik adalah salah satu syarat bagi sebuah destinasi untuk berkembang dan mendapatkan kunjungan berulang (repeat visit) di kemudian hari.

Dengan jarak tempuh yang tidak terlalu lama, cukup bisa diwajari mengapa kemudian tidak banyak terdapat penginapan di sekitar Pantai Pink dan Pantai Pasir.

Para pengunjung yang datang dari arah Kota Mataram akan memilih untuk kembali lagi ke Kota Mataram, setelah menikmati keindahan Pantai Pink dan Pantai Pasir, karena jarak tempuh yang tidak terlalu lama untuk perjalanan pulang - pergi (PP).

Selain karena faktor perjalanan yang tidak terlalu lama, ekosistem destinasi wisata Pantai Pink juga belum siap untuk para pengunjung yang ingin menginap.

Sementara untuk sebuah pantai yang disinggahi pengunjung dalam waktu beberapa hari, setidaknya ekosistemnya mendekati Senggigi, jika tak mau menyebutkan Bali, misalnya.

Artinya, sudah terbentuk kawasan yang terintegrasi, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas (amenitas) pendukung yang bisa menopang aktifitas keseharian para pengunjung, di luar daya tarik pantai itu sendiri tentunya.

Sepanjang pengamatan saya, hanya terdapat satu dua penginapan kelas atas di sekitar Pantai Pink. Itu pun diberlakukan sebagai penginapan tertutup yang dikelola secara terpisah (diperkirakan memegang konsesi HGU tersendiri), dengan penjagaan cukup ketat, yang nampaknya secara operasional tidak berkaitan dengan keberadaan Pantai Pink itu sendiri.

Dari sisi pengelolaan, Pantai Pink mengandalkan Kelompok Wisata Desa. Dalam perbendaharaan Kementerian Pariwisata, namanya biasanya disebut Pokdarwis atau Kelompok Sadar Wisata.

Dalam peristilahan pariwisata, Pokdarwis termasuk ke dalam kategori DMO (Destination Management Organisation), di level Desa.

Sehingga cukup bisa dipahami tata kelola Pantai Pink masih terbilang sangat biasa. Pondok-pondok dan warung-warung di sekitar pantai kurang tertata dengan baik. Sampah masih berserakan.

Dan yang agak mengkhawatirkan, tidak ada listrik di pantai ini. Cukup disayangkan memang. Beberapa pengunjung mengeluhkan absennya listrik ini, karena tidak bisa mengisi ulang batrai ponsel mereka.

Terdapat tiga Pantai Pink. Dari Pantai Pink Satu menuju Pantai Pink Dua dan tiga, dibutuhkan transportasi laut. Pengunjung bisa menyewa kapal nelayan dengan harga berkisar antara Rp 600.000 - Rp 700.000 untuk satu kali perjalanan.

Rutenya dari Pantai Pink Satu, menuju Pantai Pink Dua, Pantai Pink Tiga, dan berakhir di Pantai Pasir.

Pemandangan laut di antara empat destinasi tersebut cukup memanjakan mata. Pemandangan pinggir laut yang masih asri, disertai deburan ombak yang tidak terlalu besar, cukup untuk membuat para pengunjung merasa tidak rugi telah mengeluarkan biaya sebesar itu untuk sewa kapal.

Di penghujung perjalanan laut, kapal akan berhenti di Pantai Pasir, pantai yang muncul di tengah laut di antara beberapa pulau.

Selain unik karena muncul di tengah hamparan air laut di saat air pasang mulai surut, pantai ini cukup ramai disinggahi karena sangat menarik untuk dijadikan sebagai latar foto-foto yang bisa diunggah oleh para pengunjung di laman media sosial.

Saya bertemu cukup banyak pengunjung di pantai pasir, termasuk salah satu selebritis nasional dan beberapa turis asing.

Sama seperti saya, kedatangan mereka juga dipicu oleh keunikan Pantai Pink dan Pantai Pasir yang mereka saksikan di media sosial.

Sebagian besar dari mereka datang untuk kunjungan pertama dan mengatakan masih akan berpikir-pikir lagi untuk datang kembali, karena beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah ekosistem wisatanya yang belum terlalu berkembang.

Alasan tersebut cukup bisa dipahami. Selain minimnya amenitas sebagaimana saya sebutkan di atas, nyatanya hanya Pantai Pink satu yang memiliki cukup banyak warung dan kedai.

Sementara pada Pantai Pink Dua dan Tiga nyaris tidak berpenghuni, hanya ada satu dua warung kecil yang kurang representatif untuk destinasi wisata.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, ada beberapa point pelajaran pariwisata yang saya dapat dari kunjungan ke Pantai Pink dan Pangai Pasir di Nusa Tenggara Barat ini.

Pertama. peran media sosial untuk mendatangkan cukup banyak pengunjung ke Pantai Pink dan Pantai Pasir tidak bisa dipandang sebelah mata. Hal yang sama bisa diterapkan oleh destinasi-destinasi lain.

Memang kesan berlebihan yang dibangun dengan konsep "post truth" tak selamanya bisa berkelanjutan.

Untuk menutupi gap antara kesan dan fakta, mau tidak mau pengelola harus mengembangkan kawasan wisatanya dengan lebih kreatif lagi, agar pengunjung lebih nyaman dan berniat untuk kembali lagi jika mereka datang kembali ke Lombok.

Kedua, kekuatan sektor pariwisata untuk mendatangkan penghasilan bagi masyarakat sangatlah besar, jika dijalankan dengan serius dan kreatif oleh para pengelola destinasi, diatur dengan bijaksana oleh otoritas terkait, dan disosialisasikan secara kreatif dengan dukungan teknologi kekinian.

Lihat saja, dengan kondisi destinasi yang terbilang biasa saja, masyarakat setempat bisa menikmati banyak peluang ekonomi yang bisa dijadikan sumber penghasilan.

Apalagi jika Pantai Pink bisa dikembangkan lebih kreatif dan atraktif lagi, tentu akan lebih banyak kantong-kantong masyarakat setempat yang terisi.

Jika penghasilan masyarakat meningkat, tingkat kemiskinan akan menurun, konsumsi rumah tangga akan bertambah, dan pertumbuhan ekonomi daerah akan membaik. Dan ujungnya, prospek investasi di daerah tersebut akan semakin positif.

Dan terakhir, yang ketiga, dukungan dari pemerintah, terutama pemerintah daerah, nyatanya sangatlah berarti dalam mengakselerasi perkembangan destinasi wisata.

Pemerintah perlu mendorong percepatan pembangunan infrastruktur dasar dan amenitas di destinasi-destinasi andalan daerah, sebelum berharap investor datang.

Selain itu, pemerintah daerah juga perlu terlibat langsung dalam penyiapan konsep pengembangan destinasi dan peningkatan kapasitas SDM lokal yang akan mengelola destinasi wisata.

Tanpa intervensi seperti itu, rasanya butuh waktu lama bagi destinasi-destinasi lokal untuk berkembang pesat dan mendatangkan manfaat ekonomi sebesar-besarnya kepada masyarakat setempat. Semoga.

#pantai-pink-di-lombok #pantai-pasir

https://travel.kompas.com/read/2024/07/15/111847927/menikmati-pantai-pink-dan-pantai-pasir