Problematika Peredaran Narkoba di Kampung Bahari yang Tak Kunjung

Problematika Peredaran Narkoba di Kampung Bahari yang Tak Kunjung "Padam"

Polres Metro Jakarta Utara menggerebek Kampung Bahari dan menangkap 31 orang pada Sabtu (13/7/2024). Halaman all

(Kompas.com) 15/07/24 11:47 10839211

JAKARTA, KOMPAS.com - Problematika peredaran narkoba di Kampung Bahari, Jakarta Utara seakan tak pernah usai. Kampung tersebut kerap digerebek polisi karena terindikasi ada peredaran narkoba di dalamnya.

Terbaru, Polres Metro Jakarta Utara kembali menggerebek kampung tersebut pada Sabtu (13/7/2024).

Dalam kegiatan Operasi Nila Jaya 2024, sebanyak 31 orang ditangkap dari tempat persembunyian mereka di Kampung Bahari.

Barang bukti yang turut disita berupa 103 gram sabu-sabu, 26 paket sabu-sabu, 12 timbangan digital, 2 televisi, dan 4 decoder.

Ada juga 1 laptop, 1 alat hitung hitung uang, 11 bong, 1 senapan angin, 4 air gun berikut gas CO2, 25 senjata tajam (sajam), 1 drone, 1 kotak petasan, dan 3 alat hisap.

Tidak ada aksi perlawanan dalam penggerebekan. Mereka hanya sempat mengelak saat hendak ditangkap.

Willi (46), salah satu pelaku yang ditangkap dalam penggerebekan tersebut mengakui, mereka yang terjaring dalam operasi ini belum seberapa.

“(Masih) banyak (yang belum tertangkap). Kalau saya lihat memang begitu (Kampung Bahari jadi ladang peredaran narkoba), ramai begitu, kalau saya lihat,” kata Willi saat ditemui di Polres Metro Jakarta Utara, Sabtu.

Pengakuan Willi ini menjadi bukti bahwa peredaran narkoba di Kampung Bahari belum sepenuhnya usai.

Mereka yang tidak tertangkap ini tengah kembali asyik membangun ekosistem peredaran narkoba di Kampung Bahari.

Merawat

Hadirnya polisi di Kampung Bahari seolah-oalah dianggap musuh setiap kali “lumbung ekonomi” mereka diusik.

Oleh karena itu, mereka merawat ekosistem peredaran narkoba dengan sangat hati-hati.

Mereka menerbangkan drone dengan tujuan mengamati wilayah di Kampung Bahari, termasuk jika ada penggerebekan polisi.

Sementara, sejumlah CCTV mereka pasang di beberapa sudut Kampung Bahari yang tersambung atau termonitor ke sebuah layar berupa televisi.

“Kalau kemudian kita melakukan penegakan hukum secara hard skill atau momentumnya terlambat, mereka melakukan penyerangan, baik menggunakan petasan ataupun senjata tajam,” ujar Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Gidion Arif Setyawan.

Bukan hanya senjata tajam, para pelaku juga memakai airsoft gun dalam melakukan perlawanan ke polisi demi mengamankan peredaran narkoba di Kampung Bahari.

Dengan melakukan perlawanan, Gidion menyampaikan, para pelaku berharap dapat menata atau membangun ekosistem peredaran narkoba di Kampung Bahari.

“Sehingga proses pendistribusian atau proses penyalahgunaan narkotika berjalan dengan cukup lama, seakan-akan menjadi ikon tempat tersebut menjadi tempat penjualan, sampai dengan penggunaan narkotika,” ungkap Gidion.

Perlawanan yang sempat mereka lakukan saat polisi hendak menggerebek Kampung Bahari pada 8 Mei 2023.

Lahirnya Kampung Bahari

Dari penelusuran arsip Kompas, Kampung Bahari kerap muncul dalam laporan Kompas sejak 1996.

Namun, informasi itu awalnya berkisah tentang warga yang rumahnya tergusur pemerintah daerah.

Tiga tahun berselang atau pada 1999, Kampung Bahari mulai dikategorikan sebagai daerah rawan kejahatan.

Kampung itu bersama 15 wilayah lain di Jakarta Utara dikategorikan Pusat Pengendalian Sosial Pemda DKI Jakarta sebagai daerah yang patut diwaspadai masyarakat saat melintas di sana.

Informasi tentang kejahatan narkoba di Kampung Bahari pertama kali muncul pada 8 November 2013.

Pekerja di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, mulai jadi sasaran peredaran narkoba. Narkoba yang diedarkan ke pekerja pelabuhan berasal dari Sumatera dan Cianjur, Jawa Barat.

Dari tiga pengedar yang ditangkap polisi, dua orang berinisial JN (48) dan HR (31) merupakan warga Kampung Bahari.

Penangkapan dua pelaku yang berasal dari Kampung Bahari itu sepertinya menjadi jalan masuk bagi polisi untuk mulai menyadari munculnya sarang baru peredaran narkoba di Jakarta.

Satu tahun kemudian, yakni pada 8 November 2014, polisi pertama kali menggerebek Kampung Bahari. Polisi menangkap 36 orang dan menyita 300 gram sabu, 500 butir ekstasi, dan 2 kilogram ganja.

”Kami mendapat informasi dari masyarakat, kampung itu akan dijadikan seperti Kampung Ambon di Jakarta Barat yang selama bertahun-tahun menjadi pusat pembuatan dan peredaran narkoba,” kata Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Jakarta Utara saat itu, Ajun Komisaris Besar Apollo Sinambela, (Kompas, 9/11/2014).

Jika penggerebekan polisi pada 8 November 2014 dihitung sebagai awal lahirnya Kampung Bahari sebagai kampung baru peredaran narkoba di Jakarta, kampung di pinggir rel kereta dekat Stasiun Tanjung Priok itu telah delapan tahun menjadi sarang narkoba.

Warganya pun sudah terbiasa, bahkan menjadi aktor-aktor penting demi mempertahankan stigma negatif kampung narkoba.

Tak usah kaget jika melintas di Kampung Bahari, ada pengurus wilayah yang justru bertanya hal-hal di luar dugaan.

”Sudah ambil (beli narkoba),” kata salah satu pengurus wilayah tingkat rukun tetangga saat ditemui pada suatu siang pertengahan Oktober 2022 di Kampung Bahari.

Bagi dia, peredaran narkoba di kampungnya sudah terlanjur kuat dan mengakar. Warga di sana bahkan hidup dan menjadikan narkoba sebagai mata pencarian.

Kondisi itu memunculkan pertanyaan lain, Kampung Bahari masih mampu bebas dari narkoba? Bagaimana masa depan generasi bangsa yang lahir di sana?

”Kalau mau bebas dari narkoba, caranya hanya satu, bawa anak-anak pergi dari sini. Kalau tetap di sini, hanya waktu yang bisa jawab, sampai kapan orang itu bertahan,” kata pengurus RT tersebut.

Counter wacana

Sosiolog dari Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, mengungkapkan, di Indonesia, termasuk Kampung Bahari, ada beberapa tempat yang menjadi sarang peredaran narkoba.

Mereka seperti mafia, mempunyai komunitas dan subkultur tersendiri. Mereka berani melawan aparat dan memiliki solidaritas yang solid.

Namun, peredaran narkoba tampaknya sulit diberantas apabila ada anggota polisi yang sudah tidak lagi “merah putih”.

“Kalau sudah memintal, menjadi jaringan, memang sulit diberantas. Apalagi kalau ada koneksi dengan oknum aparat,” ujar Bagong saat dihubungi Kompas.com, Minggu (14/7/2024).

Bagong menganggap, sekadar patroli secara rutin dari pihak kepolisian tidak akan efektif untuk menumpas peredaran narkoba di Kampung Bahari.

Tetapi, penggerebekan yang konsisten dan aparat tidak masuk perangkat pengedar, menurut Bagong, akan lebih baik.

“Peredaran narkoba sudah menjadi gaya hidup. Memberantasnya tidak cukup pendekatan keamanan. Perlu counter wacana,” kata Bagong.

Dengan begitu, polisi perlu bekerja sama dengan pemangku wilayah untuk menciptakan gaya hidup baru di Kampung Bahari yang positif.

“Untuk bandar dan pengedar, (perlu) pendekatan legal punitif. Kalau untuk pecandu, perlu counter wacana (wacana tandingan), biar masyarakat bisa memilih wacana yang benar,” pungkas Bagong.

#narkoba-di-kampung-bahari #penggerebekan-narkoba-di-kampung-bahari #bisnis-narkoba-di-kampung-bahari #kampung-bahari-digerebek-lagi #kampung-bahari-sarang-narkoba

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/07/15/11473311/problematika-peredaran-narkoba-di-kampung-bahari-yang-tak-kunjung-padam