Apesnya Wanita di Duren Sawit, Kehilangan Uang Jutaan Rupiah karena Dugaan Penipuan Lowongan Kerja
Seorang perempuan berinisial PS mengaku jadi korban penipuan lowongan kerja di perusahaan yang berlokasi di ruko daerah Duren Sawit, Jakarta Timur. Halaman all
(Kompas.com) 15/07/24 11:41 10839221
JAKARTA, KOMPAS.com - Nasib sial menimpa seorang wanita asal Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur, berinisial PS (24).
PS mengaku bahwa dirinya jadi korban dugaan penipuan lowongan kerja sebuah perusahaan yang mengatasnamakan PT MLI yang berlokasi di Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur.
Alhasil, PS harus merelakan uang Rp 1,7 juta miliknya hilang saat melakukan wawancara di perusahaan yang mengaku bergerak di bidang logistik tersebut.
Kronologi
PS bercerita bahwa ia sebenarnya tak pernah mengajukan lamaran pekerjaan ke PT MLI.
Dirinya memang sempat melamar kerja di salah satu situs lowongan kerja. Namun, ia tak pernah memasukkan lamaran ke PT MLI, melainkan ke sebuah perusahaan logistik berinisial PT T.
"Ternyata yang saya lamar itu beda, bukan perusahaan yang sekarang (PT MLI)," ujar PS kepada Kompas.com, Minggu (14/7/2024).
Pada Selasa (2/7/2024), tiba-tiba PS mendapat panggilan untuk menghadiri wawancara kerja ke PT MLI, Rabu (3/7/2024).
Ia datang diantar keponakannya ke alamat PT MLI yang terletak di sebuah ruko di Klender. Setibanya di ruko, PS bertemu dengan seorang resepsionis.
Ia lantas diminta menunggu di sebuah ruangan. Di ruangan tersebut, menurut PS, ada sekitar 10 orang lainnya yang juga hendak melamar kerja.
Tak lama, PS dipanggil seorang diri untuk bertemu dengan W, salah seorang karyawan perusahaan tersebut.
PS yang sudah mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan wawancara ternyata hanya ditanya soal dari mana dirinya mendapat informasi pekerjaan ini.
Kemudian, PS diiming-imingi gaji Rp 5,1 juta per bulan dengan tambahan uang makan Rp 100.000 setiap minggu jika dirinya diterima bekerja.
"Libur Sabtu dan Minggu. Untuk lembur Rp 30.000 per hari. Terus dia ngasih tau benefit-nya BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan," ujar PS.
Pada hari itu juga, PS langsung diminta mengikuti pelatihan dari perusahaan, tetapi ia harus lebih dulu membayarkan uang Rp 1,7 juta.
Uang tersebut nantinya akan dikembalikan setelah PS tuntas mengikuti pelatihan.
"Pas disuruh bayar Rp 1,7 juta saya kaget. Katanya nanti setelah training dibalikin, jam 1 juga udah clear nanti dibalikin. Boleh DP dulu Rp 500.000. Saya bingung," ujar PS.
Saat itu, PS hanya membawa uang Rp 100.000. Ia pun menyerahkan uang tersebut ke W.
Namun, tak cukup sampai di situ, PS diminta untuk mengambil uang ke ATM terdekat guna menggenapi kekurangan uang Rp 1,6 juta.
Saat hendak mengambil uang, KTP milik PS ditahan oleh PT MLI. Kemudian, ia diantar oleh sekuriti perusahaan tersebut untuk mengambil uang di ATM terdekat.
"Akhirnya saya mengambil duit keluar. Si Ibu (W) akhirnya menyuruh sekuriti buat anterin saya ke ATM Bank DKI," tambah dia.
PS yang belum sadar dirinya ditipu menyerahkan uang Rp 1,6 juta yang baru ia ambil dari ATM kepada W.
Setelahnya, ia diminta menandatangani dokumen bermaterai dan KTP miliknya pun dikembalikan.
Dari situ, masih pada hari yang sama, PS diarahkan untuk pergi ke sebuah kantor di wilayah Kalideres, Jakarta Barat, untuk mengikuti pelatihan sebelum bekerja.
PS lantas datang ke kantor tersebut dan bertemu dengan 14 pelamar kerja lainnya. Menurut PS, 14 orang tersebut juga telah melakukan pembayaran sebesar Rp 1,7 juta ke perusahaan.
Pihak kantor di Kalideres itu menjelaskan bahwa para pelamar kerja memiliki kesempatan untuk bekerja di salah satu dari tiga perusahaan rekanan. Jika di tiga perusahaan itu mereka tak diterima, uang senilai Rp 1,7 juta akan dikembalikan.
"Misal di tempat A kita enggak keterima, dicariin ke B, dicariin ke C. Mentok tiga pilihan. Kalau misalkan tiga pilihan enggak diterima, katanya kembali dananya. Kalau kita keterima di salah satu tempat, itu enggak kembali," jelas PS.
"Kita kan juga bingung, kalau kita mutusin sepihak, duitnya enggak akan kembali, lanjutnya.
Di kantor Kalideres, PS diarahkan untuk mengisi posisi sebagai admin keuangan. Ia juga sempat dites kemampuan mengoperasikan Microsoft Excel.
Setelah melakukan tes, PS diminta untuk kembali melakukan wawancara kerja di sebuah restoran seafood di daerah Jatikarya, Kalimanggis, Bekasi, Jawa Barat, pada 8 Juli 2024.
Lantaran masih harus melakukan wawancara kerja lagi beberapa hari mendatang, PS pun pulang. Sesampainya di rumah, ia menceritakan proses wawancara kerja ini ke sang suami.
Sang suami meyakini bahwa istrinya telah ditipu lantaran proses wawancara kerja PS tak masuk akal. Karena itu, PS tak diizinkan suaminya untuk melanjutkan wawancara dan harus merelakan uang Rp 1,7 juta yang telah dikeluarkan.
"Karena saya izin dulu sama suami, disuruh enggak usah dateng. Akhirnya saya cerita semua, katanya \'wah itu mah enggak bener\'," tutur PS.
Sempat curiga
Sebelum melakukan wawancara sampai akhirnya tertipu, PS mengaku sempat menaruh rasa curiga.
Sebab, ketika ia datang untuk memenuhi undangan wawancara, orang yang mengaku sebagai sekuriti PT MLI terus memperhatikan keponakannya. Padahal, saat itu keponakan PS datang hanya untuk menemaninya.
"Keponakan saya disuruh cari makan, cari makan juga yang lama kata sekuritinya. Dia (keponakan) diperhatiin terus," kata PS.
Selain itu, kata PS, sekuriti tersebut meminta keponakannya untuk menunggu di luar ruko.
Keponakannya juga diminta tidak berada di warung sekitar ruko ataupun berkomunikasi dengan warga sekitar.
"Setiap ponakan saya ngomong sama warga sekitar warung, sekuritinya selalu nyamperin," jelas PS.
PS juga sempat curiga dengan bangunan yang diklaim PT MLI sebagai kantor. Sebab, bangunan itu tampak tak seperti kantor, hanya bangunan ruko biasa.
"Kecurigaan pertama adalah kantor yang enggak keliatan kayak kantor, yang kedua orang enggak bisa leluasa buat cerita ngasih tahu apa yang terjadi di sana itu," ujar dia.
Ragu lapor polisi
Usai kena tipu, PS mengaku kena tipu Rp 1,7 juta ragu untuk melapor ke polisi.
"Saya sempat mikir mau laporin itu, tapi mikir lagi, kira-kira kantor itu ada backing-nya gak ya?" ucap PS.
Pada akhirnya PS memilih tidak melaporkan kejadian penipuan yang dialaminya ke kepolisian.
Dia juga sempat melihat komentar media sosial Instagram yang mengatakan kasus ini telah terjadi sebelumnya dan tidak kunjung selesai hingga kini.
"Soalnya baca lewat komentar Instagram, ada banyak kantor yang bodong, tapi mereka tetap merajalela, enggak ketangkep polisi," tambah dia.
Akhirnya, PS dan sang suami lebih memilih berhati-hati dalam mendaftar pekerjaan dan mengikhlaskan uang yang hilang.
(Penulis: I Putu Gede Rama Paramahamsa | Editor: Fitria Chusna Farisa, Diamanty Melliana)
#penipuan-lowongan-kerja #penipuan-kerja-duren-sawit #penipuan-kerja-kalideres