Resep Andry Hakim Sukses Cuan Miliaran Rupiah dari Investasi Saham, Kombinasi 3 Hal Ini
Andry Hakim dikenal sebagai investor saham muda yang mampu membalikkan rugi menjadi untung miliaran rupiah saat pandemi Covid-19 pada 2020 silam. Halaman all
(Kompas.com) 15/07/24 15:20 10854813
JAKARTA, KOMPAS.com -Andry Hakim merupakan anak dari salah satu konglomerat di Indonesia. Orang tua Andry memiliki bisnis tambang dan perbankan. Salah satu bank yang cukup dikenal kala itu adalah Bank Harda Griya atau Bank Harda International.
Sebagai infomasi, Bank Harda beberapa waktu lalu diakuisisi oleh Chairul Tanjung lewat PT Mega Corpora dan kini berganti nama menjadi Allo Bank.
Andry sendiri mulai bergabung dengan bank milik orangtuanya pada usia 27 tahun. Saat ini, Andry dikenal sebagai investor saham muda yang mampu membalikkan rugi menjadi untung miliaran rupiah saat pandemi Covid-19 pada 2020 silam.
Berikut secuil cerita Andry Hakim tentang bagaimana dirinya mencapai keuntungan berlipat melalui saham di saat pandemi.
“Saat saya gabung dengan bisnis orangtua saya, saya melihat bahwa mereka memiliki perusahaan yang tercatat di BEI, namun sahamnya tertidur dan tidak ada pergerakan. Tentu sayang sekali, IPO tapi tidak tau cara menarik sahamnya supaya naik,” kata Andry memulai kisahnya, saat berkunjung ke Menara Kompas, Sabtu (13/7/2024).
Beli di harga terlemah
Andry mengatakan, dalam mencari cuan di pasar modal tentu tidak dengan cara instan. Dia bilang, ketika membeli saham dirinya mencari timing yang tepat untuk masuk, yakni ketika harga sahamnya mengalami pelemahan.
“Pesan saya tiga saja, yakni modal, skill, dan waktu. Kalau bisa mengkombinasikan tiga ini, jatuhnya (profit) investasi akan lebih cepat. Kalau misalkan modal sedikit, dan waktu dipanjangin, untungnya juga besar, kombinasikan saja tiga ini,” katanya.
“Hasil yang saya peroleh saat ini, karena saya telah masuk (beli saham dari lama) misal dari beberapa bulan lalu, bukan pas harga saham itu naik baru di beli, itu terlambat,” jelasnya.
Cek kinerja dan owner perusahaan
Andry bilang, sebelum membeli saham ia melakukan beberapa strategi untuk memastikan bahwa pemilik bisnis memiliki rekam jejak yang baik. Ia menjelaskan, meskipun perusahaan berkinerja jelek, tapi memiliki owner yang baik, tentu akan berjalan seiringan.
“Kalau saya selalu melihat, owner perusahaannya dulu baru mau beli sahamnya. Ada perusahaan bagus di-manage sama orang (rekam jejaknya) jelek, perusahaannya akan jelek. Tapi, kalau perusahaannya jelek, di-manage sama orang yang (rekam jejaknya) baik, tentu akan bagus kedepannya,” tambah dia.
Dia menekankan, investor harus benar-benar memastikan bahwa pemilik perusahaan adalah orang yang jujur. Menurut dia, sikap dan perilaku pemilik bisnis akan mencerminkan masa depan bisnis yang dikelola.
“Kalau selama rekam jekanya rugi terus, ya jangan pilih saham itu. Atau, ketika IPO sahamnya hancur dan jelek, jangan invest disitu,” ungkap dia.
Pilih-pilih saham di IHSG
Menurut dia berdasar chart Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rata-rata tidak mengalami kenaikan atau stagnan dari 2022 hingga 2024. Menurut dia, hanya 20 persen saham-saham yang ada di bursa saham Indonesia yang baik.
“Dilihat chart IHSG itu, rata-rata enggak naik atau stagnan dari 2022 ke 2024. Tapi, kita balik lagi, di bursa saham Indonesia itu 80 persen sahamnya jelek yang bagus itu hanya 20 persen,” ungkap dia.
“Lalu, bisa enggak dapat saham yang bagger (memberi keuntungan berlipat)? tentu saja bisa. Tapi kita harus pilih-pilih dalam 20 persen itu, karena yang jelek banyak,” tambahnya.
Beberapa industri yang menurut Andry memiliki peluang jangka panjang yang cukup baik, di antaranya financial and invest, manufaktur, teknologi, ritel, dan terkahir food and beverages.
“Ada masanya bisnis itu ramai, ada masanya juga bisnis itu sepi. Di saham sama, sekarang mungkin sepi, tapi one day nanti akan ramai lagi,” tegas dia.
Mulai bisnis sejak dini dengan support orangtua
Namun demikian, Andry menekankan bahwa investasi untuk menjadi kaya bukan hal yang bisa diraih dalam waktu singkat.
Andry bilang, ia mulai membangun karirnya sejak usia 21. Karir yang ia bangun sejak usia muda itu, bahkan bukan mengandalkan support dari orang tua.
“Bisnis pertama saya pinjam ke bank, dan saya mulai di sektor alat berat. Awal - awalnya keuntungan saya lumayan Rp 15-20 persen, keuntungan itu saya pakai untuk bayar cicilan dan sebagian saya keep,” ujar dia.