Alex Bonpis dan Fredy Pratama Masih “Mencengkram” Kampung Bahari

Alex Bonpis dan Fredy Pratama Masih “Mencengkram” Kampung Bahari

Jaringan terpidana Alex Albert alias Alex Bonpis dan buron gembong narkoba Fredy Pratama masih bergeliat di Kampung Bahari. Halaman all

(Kompas.com) 16/07/24 06:59 10925355

JAKARTA, KOMPAS.com - Peredaran narkoba di Kampung Bahari belum juga usai meski polisi kerap menggerebek daerah yang masuk wilayah Kecamatan Tanjung Priok tersebut.

Jaringan narkoba di Kampung Bahari seolah-olah hidup berdampingan dengan masyarakat. Bahkan, disebut-sebut sebagai "lumbung ekonomi" mereka.

Mereka yang terlibat, diketahui merawat ekosistem peredaran narkoba di Kampung Bahari dengan berbagai perlengkapan canggih, mulai dari CCTV hingga drone.

Terkini, jaringan terpidana Alex Albert alias Alex Bonpis dan buron gembong narkoba Fredy Pratama masih bergeliat di Kampung Bahari.

Untuk diketahui, Alex Bonpis merupakan salah satu bandar terbesar di Kampung Bahari yang terlibat dalam kasus peredaran narkoba jaringan eks Kapolda Sumatera Barat Irjen Teddy Minahasa.

Padahal, sabu tersebut merupakan barang bukti kasus narkoba di Mapolres Bukittinggi.

Setelah membeli barang haram itu, Alex Bonpis akan memonopolinya, lalu menyuplai sabu ke sejumlah bedeng yang berada di pinggir rel.

Sementara itu, Fredy Pratama merupakan gembong peredaran narkoba jaringan internasional spesialis sabu dan ekstasi di wilayah Malaysia dan Indonesia.

Pria yang dikenal memiliki nama samaran The Secret, Cassanova, Mojopahit, dan Airbag itu masih buron hingga kini. Dia diduga bersembunyi di wilayah Thailand.

Kaki tangan Alex Bonpis

Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Gidion Arif Setyawan mengakui bahwa jaringan Alex Bonpis masih eksis di Kampung Bahari. Bahkan kepolisian telah memetakan jaringan ini.

Hal tersebut terungkap saat Gidion menjawab pertanyaan mengenai apakah jajaran kepolisian sudah memetakan bandar besar yang mengendalikan peredaran narkoba di Kampung Bahari.

“Dulu kan bandar besarnya (yang) terkenal Alex Bonpis. Nah kan sel-selnya itu kan pasti ada ya. Kami sudah petakan juga,” ujar Gidion kepada wartawan, Senin (16/7/2024).

Meski begitu, Gidion mengungkapkan bahwa jaringan Alex Bonpis bukan satu-satunya yang berada di Kampung Bahari.

“Itu analisis kami, pasti banyak sel. Rumah-rumah bedeng (di pinggir rel) juga banyak jaringan. Siapa punya rumah bedeng itu, (misal) punya orang, (yang) punya sel di atasnya, punya layer di atasnya, (dan) punya layer lagi di atasnya,” ungkap Gidion.

Jaringan Fredy Pratama

Selain kaki tangan Alex Bonpis, Gidion menduga jaringan Fredy Pratama juga masuk ke Kampung Bahari.

“Kami duga seperti itu, (Kampung Bahari) dijadikan pasar (oleh jaringan Fredy Pratama),” ungkap Gidion.

Hanya saja, jaringan Alex Bonpis diduga lebih kuat daripada Fredy Pratama.

Adapun pemasok narkoba ke Kampung Bahari dari berbagai macam wilayah yang ada di Indonesia.

“Banyak ya, termasuk salah satu yang paling besar, yang sudah kita ungkap, kelompoknya Alex Bonpis itu, banyak. Kalau peredaran barangnya dari mana, ada yang dari Aceh, ada yang dari peredaran Jakarta,” ujar Gidion.

Faktor ekonomi membelit

Ekosistem dalam peredaran narkoba di Kampung Bahari telah dibangun dan ditata oleh para bandar.

Hal itu membuat pendistribusian atau penyalahgunaan narkoba di Kampung Bahari bisa berjalan cukup lama sehingga wilayah tersebut menjadi ikon tempat penjualan hingga penggunaan narkoba.

Kompol Slamet Riyanto yang saat itu menjabat sebagai Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Utara Kompol mengungkapkan, faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab penumpasan peredaran narkoba di Kampung Bahari tak kunjung usai.

“Itu kan bagaimana ya, faktor ekonomi. Kalau dari keterangan yang kami tangkap, faktor ekonomi lebih cepat mendapatkan keuntungan,” kata Slamet saat dikonfirmasi pada Rabu (10/5/2023).

Hal senada dengan Slamet juga disampaikan oleh sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat.

Dari kacamata sosiologi, kata Rakhmat, kemiskinan merupakan akar masalah yang membuat sejumlah warga Kampung Bahari terjerat peredaran narkoba yang mereka jadikan sebagai mata pencarian.

"Di Kampung Bahari itu sudah mendarah daging semua orang terlibat, dan itu menjadikan narkotika sebagai satu bisnis, ladang ekonomi, dan dijadikan sumber pencarian mereka," ujar Rakhmat saat dihubungi Kompas.com, Senin (5/12/2022).

Hal tersebut membuat pendekatan keamanan yang kerap dilakukan pemerintah tidak membuat para pengedar berhenti meski dilakukan penggerebekan berulang kali.

Selama ini, lanjut Rakhmat, untuk menangani peredaran narkoba, polisi ikut turun tangan, menggerebek, menangkap pelaku, menjalani proses hukum, kemudian dianggap selesai oleh negara.

Padahal, permasalahan ini tidak sesederhana itu dan bukan sekadar penangkapan hingga proses hukum, melainkan harus menyentuh akar masalahnya.

"Kenapa ini berulang (peredaran narkoba di Kampung Bahari)? Kalau saya lihat menjadi siklus, lingkaran setan istilahnya. Karena akar masalahnya itu adalah masalah ekonomi," jelas Rakhmat.

#kampung-bahari #kampung-bahari-digerebek #alex-bonpis-narkoba #alex-bonpis-kampung-bahari #fredy-pratama #kampung-bahari-digerebek-lagi #kampung-bahari-sarang-narkoba

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/07/16/06591901/alex-bonpis-dan-fredy-pratama-masih-mencengkram-kampung-bahari