Cerita Peternak Asal Sragen Raup Untung dari Ternak Ayam Pejantan
Cerita peternak asal Gondang Sragen Gudel Patmono yang menggeluti ternak ayam pejantan dengan panen tak sampai 2 bulan, bagaimana prospeknya? Halaman all
(Kompas.com) 17/07/24 10:19 11053308
KOMPAS.com - Bagi sebagian orang, jenis ayam pejantan bisa dibilang masih cukup asing di telinga. Daging ayam ini sejatinya sudah beredar sangat luas sejak lama dan lazim dikonsumsi masyarakat di Tanah Air.
Ayam pejantan sendiri sejatinya merupakan produk sampingan dari perusahaan pembibitan unggas (breeding) yang menetaskan ayam petelur layer betina dalam bentuk DOC (day old chicken).
Perusahaan breeding kemudian menyortir ayam sesuai jenis kelaminnya. DOC ayam betina dijual sebagai ayam petelur layer, sementara DOC ayam pejantan kemudian dengan harga rendah kepada peternak untuk dibesarkan sebagai ayam pedaging.
Gudel Patmono, warga Desa Wonotolo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen, adalah salah satu peternak yang sudah cukup lama menggeluti budidaya ayam pejantan.
Menurut Mono, sapaan akrabnya, ayam pejantan memiliki beberapa keunggulan seperti daya tahan terhadap penyakit yang cukup baik, harga panenan yang stabil, dan masa pemeliharaan yang relatif singkat yakni 50-60 hari.
"Kenapa saya milih pejantan karena pertama bandel. Ayam pejantan itu paling bandel sama penyakit, panennya juga lumayan cepat apabila menggunakan pakan asli dari pabrik, bukan pakai buatan sendiri," ungkap Mono ditemui di kandang ayam miliknya, pada Jumat (12/7/2024).
Saat ini, ia memelihara ayam pejantan dengan populasi 2.000 ekor. Dari jumlah sebanyak itu, ayam kemudian bisa dipanen dua sampai tiga kali setiap bulannya.
"Kalau untuk panenan saya estafet, kita buat setiap bulan panen ada 500 ekor. Kalau dari DOC sampai masa panen 58 hari sudah mulai panen," kata Mono.
Sempat bekerja sebagai karyawan di perusahaan roti, dirinya kini banting setir menjadi peternak ayam pejantan sebagai profesi utama.
Menurut pria asal Kabupaten Karanganyar ini, prospek ayam pejantan masih cukup menjanjikan. Alasannya karena permintaan di pasar masih tinggi sementara belum banyak peternak yang berbudidaya ayam pejantan.
Selain itu, dengan harga yang lebih murah, ayam pejantan kerap menjadi subtitusi ayam kampung. Ayam ini memiliki tekstur daging yang kenyal dan sedikit berlemak dibandingkan ayam broiler, sehingga dagingnya mendekati ayam kampung.
"Kalau untuk pejantan di wilayah Sragen karena belum banyak peternaknya sampai sekarang itu masih prospek, karena bakul istilahnya masih cari banyak, harga terakhir panenan Rp 35.000/kg hidup," ucap Mono.
Modal dan keuntungan ternak ayam pejantan
Sebagai gambaran, untuk memelihara ayam pejantan dengan populasi 100 ekor dari usia anakan (DOC) sampai besar siap panen bobot sekitar 1 kilogram, modal yang diperlukan sekitar Rp 3 juta.
Rinciannya modal untuk pembelian pakan pabrikan Rp 2,5 juta sebanyak 250 kg atau 5 karung, Rp 260 ribu untuk pembelian DOC, dan Rp 240 ribu untuk biaya vaksin, vitamin, listrik, dan sebagainya.
"Kalau sampai panen 1 box (DOC) isi 100 ekor, itu habis pakan 4 sampai 5 karung (pakan pabrik) sekitar Rp 2,5 juta. Jadi setelah ditambah biaya lain-lain, HPP (harga pokok produksi) Rp 30.000/kg," ujar dia.
Sementara harga jual ayam pejantan saat ini adalah Rp 35.000/kg, bahkan terkadang lebih tinggi. Sehingga ada selisih keuntungan yang didapatkan peternak yang melakukan pembesaran ayam pejantan sebesar Rp 5.000/ekor.
Sebaliknya, keuntungan juga bisa lebih rendah bila ada angka kematian. Secara umum, bila dilakukan pemeliharaan yang baik, angka kematian ayam rata-rata di bawah 5 persen.
Dengan asumsi kematian ayam di bawah 5 persen, dalam sekali panen sebanyak 500 ekor, ia bisa meraup penghasilan sekitar Rp 2 juta dari ternak ayam pejantan. Sementara dalam sebulan, ia bisa melakukan panen dua sampai 3 kali dari kapasitas kandangnya saat ini.
Biaya lain yang bisa dihemat yakni efisiensi pakan. Di mana dari 250 kg pakan pabrikan untuk 100 ekor, juga tak seluruhnya terpakai untuk konsumsi pakan 100 ekor ayam.
Karena menganggapnya prospeknya cukup bagus dengan keuntungan yang didapatkannya saat ini, ia tengah membangun kandang baru dengan kapasitas yang sama tak jauh dari lokasi kandangnya saat ini.
Muhammad Idris/Money.kompas.com Kandang ternak ayam pejantan di Sragen.Mono menyebut, guna menghindari kerugian dari wabah, sebaiknya peternak melakukan vaksinasi rutin pada ayam di kandang. Kebersihan kandang juga menjadi aspek utama lainnya dalam berbudidaya ayam pejantan.
Beberapa penyakit yang umum menyerang unggas di Indonesia seperti gumboro hingga tetelo alias Newcastle disease (ND).
Mono merujar, selama ini dirinya tak memusingkan penjualan. Ini lantaran hasil panen ayam pejantan selalu diborong pengepul dari Grobogan.
"Masih untung terus sampai saat ini, jualnya kita punya pembeli sendiri, sudah punya pengalaman jualnya. Sudah ada pembeli sendiri, bakulnya juga konsekuen dan langsung dibayar (setelah ambil ayam)," ucapnya.