Tolak Laporkan “Driver” Ojol, Keluarga Korban Tabrak Lari di Taman Sari Tak Mau Matikan Rezeki
Keluarga SK, korban tabrak lari di Taman Sari, enggan melaporkan driver ojek online ke polisi karena tidak mau mematikan rezeki pelaku. Halaman all
(Kompas.com) 18/07/24 13:51 11186397
JAKARTA, KOMPAS.com - Keluarga SK, korban tabrak lari di Taman Sari, Jakarta Barat, enggan melaporkan driver ojek online (ojol) ke polisi.
Salah satu alasannya pihak keluarga tidak mau mematikan rezeki pelaku.
“Kenapa tidak lapor ke polisi? Karena pihak keluarga sudah memutuskan untuk mengikhlaskan almarhum dan tidak mau mengusut sampai mematikan rezeki pelaku,” kata kerabat SK, DP (21) dalam unggahan Instagram @dramaojol.id, dikutip Kompas.com, Kamis (18/7/2024).
“Kami hanya ingin bertemu dan meminta pertanggungjawaban secara moral dan etika,” lanjutnya.
Sebagai informasi, Kompas.com telah mendapat izin dari DP untuk mengutip pernyataannya.
Peristiwa tabrak lari terjadi di Jalan Gajah Mada, Krukut, Taman Sari, Jakarta Barat, Rabu (8/5/2024) pukul 17.50 WIB.
Mulanya SK menyebrang dari Halte Transjakarta Mangga Besar ke depan sebuah rumah makan.
Di sana, SK hendak pulang bekerja selepas pulang kerja.
“Saat (korban) menyebrang sesuai dengan lampu pejalan kaki, ada driver Gojek motor yang menerobos lampu merah dan menabrak korban hingga terjatuh,” kata DP.
Setelah peristiwa kecelakaan itu, pengemudi ojol berdalih bahwa dia hanya menyenggol tas korban.
“Menurut saksi setempat, driver Gojek tersebut menerobos dan menabrak korban karena tersenggol spion atau stang motornya,” ucap DP.
Alhasil, SK terjatuh dan kepala bagian kanan terbentur hingga mengalami pendarahan.
Menurut SK, pelaku sempat ingin kabut, tapi ditahan oleh warga setempat.
“Korban segera dilarikan ke IGD RS Husada Mangga Besar dan memperoleh penangan pertama perdarahan,” ungkapnya.
Dalam kesempatan ini, pelaku ikut menemani korban ke rumah sakit.
Namun, sekitar pukul 20.00 WIB, pelaku meminta izin untuk melanjutkan pekerjaan.
“Pihak keluarga menyetujui karena saat itu keluarga hanya fokus pada kondisi korban dan memang bawaan pelaku banyak sekali,” ungkap DP.
Meski begitu, pihak keluarga hanya terpikir untuk menahan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan meminta nomor telepon sebagai bentuk pertanggungjawaban.
“Namun, pelaku memberikan nomor palsu. Untuk KTP pelaku ditahan oleh RS Husada,” tegas DP.
Kendati demikian, kondisi SK semakin kritis dan perlu menjalani perawatan di Intensive Cardiology Care Unit (ICCU).
Setelah beberapa hari, SK mengembuskan napas terakhir pada 11 Mei 2024.
“Pihak keluarga sudah melapor ke Gojek sebanyak 2 kali, tapi penangannya nol. Pihak keluarga hanya ingin pertanggungjawaban driver secara etika dan meminta bantuan kepada Gojek untuk memberikan wadah mempertemukan pihak keluarga dan pelaku,” ungkap DP.
Kompas.com telah menghubungi pihak Gojek. Tetapi, sejauh ini belum ada pernyataan.
Sementara itu, berdasarkan komentar Instagram @dramaojol, Gojek menyatakan akan menindaklanjuti peristiwa tersebut.
Hingga saat ini, Gojek telah menghubungi pihak keluarga.
“Kami siap memfasilitasi proses mediasi antara pihak keluarga dengan oknum driver yang bersangkutan pada 18 Juli 2024,” tulis akun @gojekindonesia.
Atas peristiwa ini, Gojek telah menonaktifkan oknum tersebut sebagai mitra.
“Kami juga siap mendampingi keluarga korban dan oknum driver di pertemuan besok (hari ini),” pungkas @gojekindonesia.
Untuk diketahui, pihak Gojek telah mengizinkan Kompas.com untuk mengutip pernyataan @gojekindonesia dalam komentar akun @dramaojol.id.