Saham Emiten Baru Sempat Naik ke Rp 500-an, Kini Nasibnya Nahas

Saham Emiten Baru Sempat Naik ke Rp 500-an, Kini Nasibnya Nahas

Saham ini perdana dicatatkan di BEI per 8 Juli 2024. - Halaman all

(InvestorID) 24/07/24 09:22 11900386

JAKARTA, investor.id - Saham PT Indo American Seafoods Tbk (ISEA) baru dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) per 8 Juli 2024. Perseroan menggelar initial public offering (IPO) di Rp 250/saham.

Saham ISEA sempat melambung tinggi dari Rp 250, yakni tepatnya ke Rp 545 pada perdagangan intraday 19 Juli 2024. Artinya melejit 118% dari harga perdana.

Tapi masa-masa indah tampaknya berjalan singkat. Karena di 19 Juli itu akhirnya saham ISEA ditutup mentok auto reject bawah (ARB) 24,80% ke Rp 376.

Selanjutnya setelah itu, pada perdagangan 22 dan 23 Juli saham ini selalu ARB.

Kemudian pada awal sesi I perdagangan 24 Juli saham ISEA juga ambles lagi. Di sekitar pukul 09.17 WIB, ISEA ada di Rp 173 atau minus 18,40%.

Indo American Seafoods berdiri sejak tahun 2006 dan memiliki lokasi tambak udang, pabrik, dan kantor di Lampung Selatan. ISEA membidik lonjakan kinerja keuangan hingga ribuan persen pada 2024.

Direktur Utama Indo American Seafoods, Ibnu Syena Alfitra, menyampaikan bahwa perusahaan akan fokus pada peningkatan utilitas pabrik yang saat ini baru mencapai 20% dari total kapasitas produksi sebesar 70 ton per hari.

"Dengan adanya dana segar hasil IPO sebesar Rp 72,5 miliar, kami akan mengoptimalkan produksi dan memperbaiki performa kami. Sekitar 90% dari dana IPO akan digunakan untuk modal kerja, terutama pembelian bahan baku seperti udang dan bahan baku lainnya. Kami berharap omzet dan performa kami di tahun 2024 akan lebih baik dari sebelumnya," jelasnya usai melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Senin (8/7/2024).

Ibnu menambahkan, utilitas pabrik Indo American Seafoods masih berada di kisaran 20-30%, sementara kapasitas terpasang sudah mencapai 70 ton per hari. Dengan peningkatan modal kerja, perusahaan berharap dapat meningkatkan penggunaan utilitas secara signifikan. Perusahaan juga memiliki lahan seluas 40 hektare yang baru terutilisasi sekitar 20%.

Sedangkan dari segi industrinya, prospek bisnis ekspor udang juga terlihat cerah, terutama dengan pasar utama di Amerika Serikat dan Jepang. Ibnu menyampaikan, selama populasi dunia terus bertambah, permintaan akan protein seperti udang akan terus meningkat.

"Udang Vaname dan Black Tiger adalah produk andalan perseroan karena memiliki densitas tinggi dan tahan terhadap penyakit," tambah Ibnu.

Laba Bersih

Ekspor menyumbang sekitar 80% dari total pendapatan perusahaan, dengan Amerika Serikat sebagai pasar terbesar. Ke depan, perusahaan juga menargetkan ekspansi ke pasar Eropa dan China.

"Kami optimis dengan pertumbuhan konsumsi global dan terus mencari pasar baru. Pasar Amerika Serikat dan Jepang tetap menjadi fokus utama kami, namun kami juga melihat potensi besar di Eropa dan China," jelas Ibnu.

Perusahaan berencana untuk meningkatkan fasilitas produksi dengan menambah kapasitas pembenihan dan pakan. Saat ini, fasilitas tambak berada di Lampung, sementara ruang proses dan kursori berada di Lampung Selatan.

"Dengan kapasitas produksi yang ada, kami berharap dapat memenuhi kebutuhan pasar internasional. Ekspor kami sudah masuk ke pasar Amerika dan Jepang, yang merupakan pasar besar untuk udang," ujar Ibnu.

Dengan strategi tersebut, Ibnu optimistis perseroan mampu membukukan pendapatan sebesar Rp 360 miliar, melonjak 95,98% dari pendapatan tahun 2023 sebesar Rp 199 miliar.

Sejalan dengan itu, ISEA mengincar laba bersih naik 1,451% menjadi Rp 27 miliar dari sebelumnya hanya Rp 1,74 miliar pada 2023.

Editor: Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #indo-american-seafoods #isea #saham-isea #emiten-baru #berita-ekonomi-terkini

https://investor.id/market/367943/saham-emiten-baru-sempat-naik-ke-rp-500an-kini-nasibnya-nahas