Seperti Apa Pakem Berkebaya?
Salah satu pakem yang perlu diperhatikan saat berkebaya di acara formal adalah penataan rambut.
(Kompas.com) 24/07/24 11:40 11916940
JAKARTA, KOMPAS.com – Dalam berkebaya ada beberapa pakem yang dianut sejak lama. Namun untuk pemakaian sehari-hari, pakem tersebut seringkali tidak dilakukan dengan pertimbangan agar bisa bergerak lebih luwes.
Ditambah lagi, berkebaya dengan cara yang simpel dapat membuat perempuan Indonesia lebih bersemangat untuk melestarikannya karena tidak ribet.
Alasannya, menurut pegiat kebaya Atie Nitiasmoro, mewajibkan berkebaya sesuai pakem untuk tampilan sehari-hari bisa membuat orang malas dan enggan.
“Kalau kita terlalu menuntut agar dalam keseharian harus pakai kebaya sesuai pakem, saya yakin orang akan males pakai. Ajakan berkebaya sehari-hari tidak akan disambut karena sudah ribet duluan, sudah bikin males,” kata dia kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.
Kendati demikian, pakem tetap harus diperhatikan ketika kamu menggunakan kebaya dalam acara formal, misalnya pertunangan atau pernikahan, wisuda, atau acara kenegaraan.
Lantas, apa saja pakem berkebaya?
1. Rambut disanggul
Menggunakan kebaya identik dengan riasan rambut yang digulung, disasak, dan disanggul agar rapi. Modelnya bisa mengikuti ciri khas masing-masing daerah.
“Kembali ke daerah masing-masing. Seperti kalau di Jawa, rambut disasak dan pakai sanggul. Di Bali kan sanggulnya beda dengan Jawa atau di daerah lain,” kata Atie.
2. Kebaya model bukaan depan
Kebaya yang digunakan adalah model bukaan depan, misalnya seperti kebaya Kartini atau Kutubaru. Sementra model lengannya bisa panjang atau tiga perempat.
3. Bawahannya kain tradisional
Dalam pakem berkebaya, bawahannya bukan rok biasa, apalagi celana kulot atau celana jeans. Atie menerangkan, bila dipakai sesuai pakem, kebaya perlu dipadukan dengan kain.
“Dipadukan dengan kain jarik, songket, atau tenun, sesuaikan dengan ciri khas daerah masing-masing. Di Medan, pakai kebaya tapi bawahnya kain ulos. Di Palembang pakai songket,” ungkap dia.
“Tidak ada pakem harus pakai kain Jawa karena kebaya ada dari Sabang sampai Merauke, dan dipakai dalam berbagai lapisan sosial. Kebaya dipakai oleh semua kelas sosial hampir di seluruh wilayah Indonesia, kebaya merekatkan persatuan Indonesia,” sambung Atie.
4. Pakai selop
Ketika menggunakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari, kamu bebas menggunakan model alas kaki apa pun, entah itu sneakers atau hak tinggi. Namun, dalam pakemnya, berkebaya harus menggunakan selop.
5. Jalan secara perlahan
Pakem lainnya yang perlu diperhatikan ketika berkebaya sesuai pakem adalah kamu harus berjalan secara perlahan.
Sebagai informasi, Atie dan empat pegiat kebaya lainnya, Indiah Marsaban, Rini Kusumawati, Tingka Adiati, dan Elvy Yusanti, menulis buku bertajuk “Kebaya Kaya Gaya”.
Buku itu dipublikasi pada Selasa (23/7/2024) untuk merayakan Hari Kebaya Nasional pada 24 Juli, yang telah ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2023.
View this post on Instagram
#berkebaya #hari-kebaya-nasional #kebaya #hari-kebaya-nasional-2024
https://lifestyle.kompas.com/read/2024/07/24/114021320/seperti-apa-pakem-berkebaya