Pria di Bekasi Dibunuh Istri dan Anak, Tetangga Tak Pernah Dengar Ada Cekcok
Tetangga Asep, korban pembunuhan istri dan anak di Bekasi mengaku tak pernah mendengar korban dan pelaku cekcok saat berada di rumah. Halaman all
(Kompas.com) 24/07/24 11:38 11916941
BEKASI, KOMPAS.com - Tetangga Asep Saepudin (43), korban pembunuhan oleh istri dan anaknya di Desa Taman Rahayu, Kecamatan Setu, Bekasi, mengaku tak pernah mendengar korban dan pelaku cekcok saat berada di rumah.
"Enggak pernah dengar cekcok atau berantem," kata tetangga korban dan pelaku, Rika Rahim, dikutip dari YouTube Kompas TV, Selasa (23/7/2024).
Rika meyakini keluarga tersebut tak pernah cekcok karena ia tidak pernah mendengar suara ribut-ribut selama bertetangga dengan korban dan pelaku.
Ia merasa Asep, istri, dan anaknya tampak seperti keluarga yang harmonis.
"Setahu saya selama ini rukun-rukun aja, enggak pernah kedengaran cekcok-cekcok. Orang kan kalau berantem suka kedengaran ya, ini mah enggak ada suara begitu (berantem)," jelas Rika.
Lebih lanjut, Rika menyampaikan bahwa ia juga tak mendengar suara apa pun sebelum korban dikabarkan meninggal dunia oleh istri dan anaknya.
"Enggak ada suara apa-apa. Tahu-tahu ya pas orang-orang udah pada ngumpul, korban sudah meninggal," tuturnya.
Sebelumnya diberitakan, Polres Metro Bekasi menangkap tiga pelaku pembunuhan berencana terhadap Asep Saepudin di wilayah Kampung Serang, Taman Rahayu, Kabupaten Bekasi.
Pelaku merupakan Istri korban, Juhariah (45), anak korban, Silvia Nur (22), dan pacar anak korban yang bernama Hagistko Pramada (22).
Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 44 ayat 3 juncto Pasal 5 UU RI No 23 tahun 2004 tentang KDRT ancaman hukuman 15 tahun kurungan penjara, Pasal 340 KUHP pembunuhan berencana ancaman pidana mati atau kurungan penjara seumur hidup.
Juhariah, Silvia, dan Hagistko memiliki motif berbeda-beda saat membunuh Asep.
Kapolres Metro Bekasi Kombes Twedi Aditya mengungkapkan, Juhariah tega menghabisi nyawa suaminya sendiri karena sang suami tidak mau membayar utangnya.
"Menurut keterangan, istri korban ini ada utang ke teman-temannya. Korban tidak bersedia melunasi," ujar Twedi.
Selain itu, Juhariah menganggap Asep tidak cukup menafkahinya sehari-hari. Hal itu membuat Juhariah menahan dendam dan akhirnya kongkalikong dengan sang anak untuk membunuh Asep.
Sementara itu, sang anak, Silvia, memiliki motif kesal kepada sang ayahanda karena hubungannya dengan kekasih, Hagistko, tidak direstui untuk ke jenjang pernikahan.
Twedi menyebutkan, Asep sendiri tidak merestui hubungan antara Silvia dan Hagistko karena kekasih anaknya tersebut memiliki utang.
"Anaknya sudah pacaran bertahun-tahun, tetapi enggak kunjung diberikan restu untuk menikah oleh korban," tambah Twedi.
Ironisnya lagi, setelah membunuh Asep, Silvia juga tega mengambil ponsel sang ayah. Ia menggunakan ponsel untuk bertransaksi di pinjaman online dan dikirim ke rekening pribadi serta rekening kekasihnya.
"Mengambil handphone korban untuk digunakan transaksi pinjaman online sebesar Rp 13 juta. Setelah Itu, melakukan pinjaman online melalui easycash sebesar Rp 43 juta. Lalu ditransfer ke rekening milik pelaku SN, kemudian ke rekening HP," tutur Twedi.
#pembunuhan-berencana-di-bekasi #suami-dibunuh-istri #ayah-dibunuh-istri-dan-anak-di-bekasi