Mengenang Hamzah Haz, Sang Penjaga APBN Indonesia
Didik menyebut Hamzah Haz sebagai penjaga APBN ketika terjadi pro dan kontra mengenai kebijakan kenaikan harga BBM. Halaman all
(Kompas.com) 24/07/24 13:27 11927787
JAKARTA, KOMPAS.com - Kepergian Wakil Presiden ke-9 Republik Indonesia Hamzah Haz menjadi duka nestapa tersendiri bagi ekonom sekaligus Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini.
Didik mengenang betul kontribusi besar Hamzah terhadap negara ini, salah satunya ketika sukses menjaga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada tahun 2000-an atau 2005.
Kala itu, Indonesia tengah dihadapi dinamika pro dan kontra mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berpotensi meletusnya krisis politik.
"Hamzah Haz ikut mendinginkan suasana dan meskipun tidak populer kemudian menyetujui kenaikan harga BBM dengan alasan kenaikan tersebut sebagai pilihan rasional," kata Didik mengenang Hamzah, dikutip dari siaran pers, Rabu (24/7/2024).
Dalam pandangannya mengenai keputusan tersebut, Didik menyebutkan, Hamzah tergolong pemimpin yang pro kebijakan berbasis evidence. Hal ini berbanding terbalik jika merujuk praktik politik saat ini.
Menurutnya, politikus sekarang justru mengeruk APBN dan mendulang utang di luar kemampuan membayarnya. Karena itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani dianggap perlu bersikap rasional seperti Hamzah dalam pengelolaan APBN.
"Kasus Perppu 01 dan utang Rp 1.520 triliun pada tahun 2020 dengan alasan Covid-19 adalah kesalahan sejarah keputusan APBN, yang dampaknya bisa sampai dua-tiga periode kepresidenan," kata Didik.
"Kini beban utang super berat, tahun utang jatuh tempo mencapai Rp 800 triliun dan bunga yang harus dibayar menguras pajak rakyat, mencapai Rp 500 triliun lebih," sambung dia.
Kini, dengan kepergian Hamzah, kata Didik, tak ada lagi sosok penjaga APBN di tengah kesalahan pengelolaan APBN.
"Selain rusak karena kesalahan politik dan kebijakan di pusat, APBN juga menjadi target korupsi dan bancakan yang masif di banyak daerah kabupaten/kota, provinsi serta di banyak kemenetrian dan lembaga negara," ungkap dia.
Tekun menulis
Hamzah juga mengenang bahwa Hamzah tak hanya cerdik dalam menjaga APBN, namun ia juga lihai ketika memberikan pencerahan masalah ekonomi-politik, khususnya politik anggaran dan APBN lewat tulisan.
Menurutnya, tidak ada politikus setekun Hamzah Haz dalam menulis masalah politik APBN di media massa pada akhir 1980-an dan tahun 1990-an.
"Tidak hanya menulis tetapi menekuninya dalam praktik kenegaraan dalam pembahasan-pembahasan di DPR di mana ia sekaligus sebagai pimpinan partai opposisi yang loyal," terang Didik.
Ia mengatakan, Hamzah merupakan seorang pemimpin yang matang dan pemikir, penyuka gagasan-gagasan bangsa dalam bidang politik dan ekonomi.
Karakteristik kepemimpinan Hamzah pun dinilai berbeda dengan zaman sekarang yang tidak menyukai gagasan atau pemikiran.
"Politikus zaman dulu matang ditempa zaman dan selalu bergulat dengan ide kebangsaan, tidak berbeda jauh dari generasi politikus pemikir dua-tiga dekade sebelumnya. Soerkarno, Hatta, Sjahrir, Soedjatmoko dan pemimpin lainnya menguasai ide pada masanya," jelas Didik.
"Terus terang jika membandingkan pemimpin sekarang dengan perjalanan pemimpin seperti Hamzah Haz dan generasi sebelumnya, kita mengelus dada, jauh seperti bumi dan langit. Yang simboliknya seperti pemikiran kebangsaan, buku dan mainan anak kecil," imbuh dia.
Diberitakan, Hamzah meninggal pada Rabu, pukul 09.30 WIB.
Kabar duka itu disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arwani Thomafi.
"Innalillahi wa inna ilaihi Rojiun. Benar, telah wafat Bapak Dr Hamzah Haz, pagi ini jam 09.30 di kediaman Tegalan," kata Arwani kepada Kompas.com, Rabu.
Arwani mengatakan, jenazah Hamzah Haz akan dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di Cisarua, Bogor, pada Rabu siang.
#hamzah-haz-meninggal #rekam-jejak-karier-hamzah-haz #profil-hamzah-haz #hamzah-haz-dimakamkan-di-bogor