Rekening Bos Asesoris di Bekasi Hanya Disisakan Rp 53.000 Usai Dibunuh Istri dan Anaknya
Yudi mengecek isi rekening Asep dan mendapati isi saldonya hanya tersisa Rp 53.000. Halaman all
(Kompas.com) 24/07/24 18:01 11949543
KABUPATEN BEKASI, KOMPAS.com - Rekening milik Asep Saepudin (45), hanya disisakan Rp 53.000 usai dibunuh oleh istrinya, Juhairah (45), anaknya Silvia Nur Alfiani (22) dan kekasihnya, Hagistko Pramada (22).
"Setalah dicek, saldonya hanya Rp 53.000. Di situ timbul kecurigaan kami," ujar adik Asep, Ade Mulyana (43) saat ditemui di Desa Taman Rahayu, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Rabu (24/7/2024).
Padahal, setelah 10 hari kepergian Asep, ada panggilan telepon dari perusahaan pinjaman online. Pihak perusahaan pinjol itu mengatakan, ada pengajuan pinjaman atas nama Asep pada 27 Juni 2024.
Padahal, di hari itu Asep yang merupakan bos asesoris di Bekasi itu dibunuh oleh istri, anak dan kekasihnya.
“Kalau enggak salah, 10 hari (setelah Asep meninggal dunia), itu ada telepon dari pinjol. Kan telepon (Asep) dipegang sama adik saya (Yudi), diangkat sama dia. Intinya, dia menagih,” kata Ade.
Kepada perusahaan tersebut, Yudi mengatakan, Asep telah meninggal dunia. Dia berjanji akan membayar seluruh tagihan Asep.
Mendengar hal tersebut, customer service pinjol justru kaget. Pasalnya, ada pencairan dana dari ponsel Asep pada 27 Juni 2024 sekitar pukul 07.00 WIB sebesar Rp 13 juta.
Berangkat dari hal tersebut, Yudi mengecek isi rekening Asep dan mendapati isi saldonya hanya tersisa Rp 53.000.
“Alhamdulillah, adik saya (Yudi) diingatkan. Pernah, sudah lama, kakak saya itu menitipkan ATM dan informasikan pin ATM dia. Adik saya baru ingat itu. Aduh, saya jadi merinding. Karena apa? Dari situ titik terangnya,” ucap Ade.
Saat mengecek, justru Yudi kebingungan karena isi saldo ATM Asep hanya tersisa Rp 53.000. Hal ini tidak berkesinambungan dengan pencairan dana pinjol.
Setelah memutar otak, Ade dan Yudi menghubungi customer service bank untuk mengetahui hasil mutasi rekening pada 27 Juni 2024 ini.
“Dari pihak Halo BCA itu mengonfirmasikan, ‘27 Mei ada uang masuk dari PT… sebesar Rp 43,5 juta pada jam 06.40 WIB. Terus, masuk lagi dari PT… sebesar Rp 13 juta’. Itu, dua-duanya PT pinjol,” kata Ade.
Belum selesai Ade dan Yudi menarik napas dalam-dalam, keduanya dibuat terkejut karena ada transaksi keluar yang ditransfer melalui mobile banking sebesar Rp 54 juta ke rekening Silvia.
“Di situ, sudah mulai terungkap, ‘Astagfirullah, ini bagaimana ceritanya uang bisa masuk ke situ (rekening Silvia). Enggak benar ini anak’,” tutur Ade.
Namun, keesokan harinya, yakni 28 Juni 2024, juga ada transaksi keluar ke rekening Silvia senilai Rp 10 juta.
“Sudah, mulai, ‘oh, selama ini mah berarti kami dibohongi’. Karena ini motifnya ada uang. Kronologi yang diceritakan anak dan istri enggak beres,” tegas Ade.
Diberitakan sebelumnya, pembunuhan berencana terhadap Asep berlangsung di rumah korban, RT 03/RW 04, Desa Taman Rahayu, Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (27/6/2024).
Pembunuhan berencana ini dilakukan oleh istri Asep, Juhariah (45), anak Silvia Nur Alfiani (22), dan kekasih anaknya, dan Hagistko Pramada (22).
Beberapa jam setelah pembunuhan berencana oleh ketiganya, terdapat pencairan dana melalui dua perusahaan pinjaman online (pinjol) senilai Rp 56 juta yang dilakukan tersangka dengan ponsel korban.
Pencairan dana berhasil, Silvia mentransfer melalui mobile banking ke rekeningnya dan menyisakan uang sebanyak Rp 53.000 dalam rekening Asep.
Pembunuhan berencana terbongkar setelah keluarga Asep mencium adanya sejumlah kejanggalan.
Usai mengantongi sejumlah barang bukti, Ade bersama adiknya, Ahmad Wahyudi (33), melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian pada 11 Juli 2024.
Menindaklanjuti laporan tersebut, polisi akhirnya membongkar makam Asep demi kepentingan penyelidikan pada 16 Juli 2024.
#pembunuhan-berencana #pembunuhan-berencana-di-bekasi #ayah-dibunuh-istri-dan-anak-di-bekasi