Pernah Jadi Pakaian Sehari-hari, Kenapa Kini Kebaya Dipakai di Acara Tertentu Saja?
Saat ini, sebagian besar perempuan Indonesia sudah tidak berkebaya sehari-hari. Mengapa?
(Kompas.com) 24/07/24 19:19 11955123
JAKARTA, KOMPAS.com – Dahulu, perempuan Indonesia menggunakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari untuk kegiatan apa pun. Lambat laun, penggunaan kebaya menjadi terbatas.
Kini, sebagian perempuan hanya mengenakannya pada acara tertentu. Salah satu pegiat kebaya Atie Nitiasmoro mengungkapkan, mulai terkikisnya kebiasaan perempuan Indonesia berkebaya sehari-hari tampak sejak tahun 1980-an.
“Waktu saya kecil, saya masih lihat orang pakai kebaya sehari-hari, tapi enggak banyak. Tahun 1980-an, saya lihat semakin sedikit, paling kalau pakai pun itu mbok-mbok di pasar atau teman-teman ibu saya kalau ada acara kumpul arisan. Tapi sebatas itu dan acara pernikahan,” ucap dia kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.
Memasuki tahun 1985, orang-orang yang berkebaya sehari-hari semakin berkurang. Para perempuan memang masih berkebaya, tetapi hanya di acara tertentu saja.
“Dan kami anak muda juga merasa terbebani saat itu untuk berkebaya, karena harus pakai sanggul dan selop,” Atie berujar.
Masuknya pakaian modern
Atie mengatakan, tidak ada peraturan yang resmi mengatakan bahwa kebaya hanya bisa digunakan untuk acara tertentu saja.
Menurut dia, berkurangnya penggunaan kebaya sebagai pakaian sehari-hari justru dibatasi oleh individu masing-masing yang merasa kurang nyaman.
“Mungkin dari diri kita sendiri yang merasa lebih nyaman pakai baju dari luar, lebih praktis untuk sehari-hari dan terkesan lebih modern,” kata dia,
Alhasil, pemandangan perempuan berkebaya sehari-hari di luar rumah pun semakin jarang terlihat.
Mereka tergantikan oleh perempuan yang pakaiannya lebih “modis” seperti rok, celana, kemeja, tanktop, sweater, jaket, dan kaus. Sementara kebaya masih eksis dalam lingkup kecil berupa acara adat atau formal.
Namun, ada pengecualian bagi masyarakat Bali yang sejak dulu sampai saat ini masih ada perempuan yang menggunakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari.
Menurut Atie, hal ini kemungkinan besar terjadi karena mereka lebih kuat dan teguh dalam memegang adat istiadatnya.
Jangan lupakan hal-hal tradisional
Keputusan banyak perempuan yang dahulu lebih memilih untuk menggunakan pakaian “kekinian” daripada bertahan dengan kebaya dalam kesehariannya cukup disayangkan.
“Itu mungkin kita euforia dengan hal-hal yang baru dari luar, jadi cenderung melupakan yang lama. Itu yang tidak bagus,” terang Atie.
Padahal, jika menengok negara lainnya seperti Italia, mereka masih memiliki bangunan kuno yang sangat terjaga sampai saat ini. Indonesia pun sebenarnya bisa seperti Italia perihal kebaya.
“Bangunan kuno sangat terjaga dan menjadi salah satu sumber devisa negara. Turis datang ke Italia untuk lihat bangunan-bangunan kuno itu,” papar Atie.
“Kalau kita cenderung menerima yang baru, mungkin pendapat saya bisa salah, tapi melupakan yang lama. Kalau di sini (Italia), mereka menerima yang baru tetapi tetap memegang kuat yang lama,” lanjut dia.
Sejak bertahun-tahun lalu, ratusan perempuan Indonesia yang tergabung dalam komunitas kebaya telah menggaungkan kampanye berkebaya sehari-hari.
Kampanye itu membuahkan hasil berupa mulai banyak perempuan dari berbagai usia yang kembali menggunakan kebaya, meski tidak sesuai pakem karena dipadukan dengan pakaian modern.
Kampanye berkebaya sehari-hari juga menghasilkan penetapan Hari Kebaya Nasional setiap 24 Juli oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2023.
View this post on Instagram
#berkebaya #kebaya #kebaya-sehari-hari #kebaya-untuk-sehari-hari #hari-kebaya-nasional #hari-kebaya-nasional-2024