Pelanggannya Kebanyakan Pemulung, Penjual Warung Nasi Terpaksa Banting Harga agar Tetap Laku

Pelanggannya Kebanyakan Pemulung, Penjual Warung Nasi Terpaksa Banting Harga agar Tetap Laku

Perantau bernama Juhaini (49) mengaku harus menurunkan harga makanan agar warung nasinya tetap laku. Halaman all

(Kompas.com) 25/07/24 10:16 12035643

JAKARTA, KOMPAS.com - Perantau bernama Juhaini (49) mengaku harus banting harga agar warung nasinya tetap laku.

Padahal, warung lain yang jaraknya hanya berjarak 20 meter darinya bisa menjual lebih mahal untuk menu yang sama.

“Di sini kalau mahal enggak laku. Di sini kan yang beli pemulung. Kalau kita naikin (harga), (pelanggan komplain) ‘Si teteh mah jualnya mahal’. Nanti pada menghilang,” ujar Juhaini saat ditemui di Jalan Subur Baru, seberang Roxy Mas, Cideng, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (24/7/2024).

Alhasil, pendapatannya per hari pun menipis. Juhaini harus berbelanja setiap pagi untuk kebutuhan warung nasi sederhana miliknya.

“Modalnya tadi ini Rp 130.000. Mau beli tahu tempe, tahu, kangkung. Gitu doang,” lanjut dia.

Juhaini menceritakan, jika dagangannya ludes terjual, dia bisa membawa pulang Rp 180.000.

Namun, itu belum dipotong modal hari ini dan uang tabungan untuk membeli elpiji tabung hijau.

Paket nasi dengan dua atau tiga lauk dibanderol sekitar Rp 10.000-12.000.

Perbedaan harga yang paling signifikan adalah minuman, baik itu kopi hangat atau yang pakai es.

Biasanya, satu gelas kopi atau teh ini akan dibanderol Rp 5.000. Namun, Juhaini hanya menjualnya Rp 3.000.

Dengan harga kopi sachet yang semakin tinggi, keuntungan Juhaini pun semakin menipis.

Saat ini, dia hanya meraup untung Rp 500 untuk setiap gelas minuman.

Pendatang dari Sumedang, Jawa Barat ini tidak tega jika mematok harga yang lebih mahal.

Pasalnya, pada dua tahun pertamanya di Jakarta, Juhaini dan suaminya juga bekerja sebagai pemulung.

#cerita-perantau-di-jakarta #cerita-perantau #cerita-juhaini-dari-pemulung-hingga-buka-warung

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/07/25/10165441/pelanggannya-kebanyakan-pemulung-penjual-warung-nasi-terpaksa-banting