Laba Bersih Emiten Nikel NICL Tumbuh 13,7 Persen jadi Rp 73,5 Miliar
Laba bersih NICL tumbuh 13,71 persen dari Rp 64,7 miliar pada semester I 2023 menjadi Rp 73,5 miliar pada semester I 2024. Halaman all
(Kompas.com) 26/07/24 12:27 12174935
JAKARTA, KOMPAS.com - Emiten pertambangan nikel yang berbasis di Sulawesi, PT PAM Mineral Tbk (NICL) melaporkan kenaikan laba usaha sebesar 1,25 persen dari Rp 86,7 miliar pada semester I 2023 menjadi Rp 87,8 miliar pada semester I 2024.
Sementara itu, laba bersih NICL tumbuh 13,71 persen dari Rp 64,7 miliar pada semester I 2023 menjadi Rp 73,5 miliar pada semester I 2024.
Pada semester I 2024, penjualan perseroan mengalami penurunan 11,95 persen menjadi Rp 419 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, penjualan NICL tercatat sebesar Rp 476 miliar.
SHUTTERSTOCK/LP-STUDIO Ilustrasi nikel, penambangan nikel.Penurunan ini disebabkan karena harga rata-rata nikel pada semester I 2024 lebih rendah jika dibandingkan denganharga rata-rata nikel pada semester I 2023.
Direktur Utama NICL Ruddy Tjanaka mengatakan, walaupun dari segi omzet penjualan pada periode ini menurun dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya, namun dari sisi volume penjualan mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yakni sebesar 4,2 persen dari 679.066 metrik ton (MT) menjadi 707.597 MT.
"Kami cukup gembira atas kinerja enam bulan pertama di tahun 2024, perseroan berhasil melakukan efisiensi sekaligus mengoptimalkan sumber daya yang ada, di tengah kondisi operasional yang cukup menantang, yakni adanya kendala curah hujan yang cukup tinggi pada periode Januari hingga Juni 2024, perseroan masih bisa meningkatkan volume penjualan pada semester I tahun ini," kata Ruddy dalam keterangannya, Jumat (26/7/2024).
Pada sisi neraca, hingga 30 Juni 2024, NICL melaporkan peningkatan total aset sebesar 7,22 persen dari Rp 856,8 miliar menjadi Rp 918,7 miliar jika dibandingkan posisi neraca pada 31 Desember 2023.
Adapun pertumbuhan ekuitas sebesar 4,88 persen dari Rp 745,4 miliar menjadi Rp 781,8 miliar dari posisi ekuitas pada 31 Desember 2023. Peningkatan tersebut dikontribusikan oleh peningkatan laba tahun berjalan.
SHUTTERSTOCK/KAISARMUDA Ilustrasi pengolahan bijih nikel.NICL menargetkan produksi nikel pada tahun 2024 sebesar 2,6 juta MT, meningkat 41 persen dari realisasi produksi tahun 2023 sebesar 1.847.000 MT. Target produksi tersebut juga untuk bijih nikel kadar Ni 1,30 hingga 1,50 persen.
Peningkatan target produksi ini didasari adanya permintaan pasar yang semakin meningkat karena semakin banyak smelter yang beroperasi.
Saat ini, perseroan telah mendapatkan persetujuan RKAB periode 2024 sampai 2026 dengan total volume penjualan yang telah disetujui sebesar 7.800.000 WMT.
Untuk mendukung kinerja operasional dan terpenuhinya target perseroan, saat ini daya dukung infrastruktur tambang yang telah dimiliki baik berupa angkutan jalan tambangdan juga pelabuhan dalam tahap peningkatan dan pengembangan untuk beroperasi secara maksimal.
“Perseroan optimis bahwa peningkatan produksi tersebut relevanterhadap supply and demand dengan kondisi perkembangankebutuhan industri nikel yang semakin meningkat. Informasi terakhir dari kementerian ESDM, RKAB yang disetujui sebesar 240 juta ton," ujar Ruddy.
Dia menyatakan, kendala yang dihadapi di lapangan saat ini adalah cuaca dan ketersediaan alat-alat produksi. Kondisi ini menyebabkan tidak terpenuhinya supply alias pasokan.
“Dukungan pemerintah untuk industri nikel memberikan optimisme kepada perseroan untuk meningkatkan produksi nikel. Dengan adanya peningkatan produksi akan memberikan dampak yang positif bagi kinerja operasional dan keuangan kami yang nantinya akan tercermin dalam peningkatan laba bersih perseroan," teramg Ruddy.
Ruddy juga menambahkan, perseroan akan fokus pada rencana peningkatan cadangan nikel. Untuk merealisasikan rencana peningkatan cadangan, perseroan berupaya secara konsisten melakukan kegiatan eksplorasi yang berkelanjutan, melalui konservasi cadangan dan optimalisasi cadangan marginal.