Pilu Tunarungu di Bekasi, Jadi Korban Tabrak Lari Bus Kemenhan dan Hendak Dipukul Sang Sopir

Pilu Tunarungu di Bekasi, Jadi Korban Tabrak Lari Bus Kemenhan dan Hendak Dipukul Sang Sopir

Seorangtunarungu inisial AS diduga menjadi korban tabrak lari bus Kemenhan di Jalan Pahlawan, Aren Jaya, Kota Bekasi. Halaman all

(Kompas.com) 27/07/24 18:34 12321684

BEKASI, KOMPAS.com - Seorang pria tunarungu berinisial AS (33) mengalami kejadian tak menyenangkan saat mengendarai sepeda motornya di Jalan Pahlawan, Aren Jaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi.

Pasalnya, AS menjadi korban tabrak lari oleh bus bertuliskan “Kemhan” di jalan tersebut, Senin (22/7/2024) pukul 05.20 WIB.

Kronologi

Adik korban, YA (26), menceritakan, peristiwa yang menimpa sang kakak terjadi usai mengantar adik perempuannya pergi bekerja menggunakan sepeda motor.

Mulanya, AS menurunkan adiknya di pinggir Jalan Pahlawan atau sebelum palang pintu pelintasan kereta api Bulak Kapal.

Setelah adiknya turun dari motor dan menyeberang pelintasan kereta api, tiba-tiba bus berwarna hitam bertuliskan “Kemhan” dengan kelir kuning menabrak motor AS.

Korban yang masih berada di motornya seketika terkejut lalu terjatuh ke arah kiri. Motor yang dikendarai pun menimpa kaki AS.

“Dia (pelaku) dari arah Aren Jaya, busnya itu dari arah Perumnas 3. Berarti, baru jemput karyawan Kemhan atau TNI, saya enggak mengerti tuh,” kata YA saat dihubungi Kompas.com, Kamis (25/7/2024).

“Busnya yang ini, di sini tulisannya Kemhan. Ini (dalam video) abang saya tunjuk-tunjuk, berarti benar yang itu, ada lampu biru di belakangnya,” ujar YA yang memperlihatkan video bus bertuliskan "Kemhan" tengah melintas di Jalan Pahlawan.

Usai terjatuh dan tertimpa motor, AS berusaha bangun meski kondisi lutut sebelah kirinya berdarah.

Kemudian, AS mengejar bus yang menabraknya dengan motornya yang sudah rusak. Sang sopir bus tak kunjung menghentikan laju kendaraannya usai menabrak AS.

“Nah, bus ini langsung lurus, enggak belok dulu. Kan seharusnya (kalau mau ke Tol Timur), belok ke kiri, putar balik, baru belok kiri lagi. Tapi, dia langsung lurus saja ke arah Tol Timur atau BTC,” kata YA.

“Itu kan jatuhnya tabrak lari, enggak ada tanggung jawab atau berhenti dulu. Lagi pula, isi bus itu kan ada karyawan lho, pokoknya karyawan Kemhan yang jadi TNI atau bagaimana,” ujar YA.

AS berusaha mengejar bus tersebut hingga 200 meter. Alhasil, korban meminta sopir menghentikan kendaraannya dan turun dari kursi kemudi.

“Abang saya itu minta minggirlah ceritanya. Pas minggir, sopirnya sempat turun. Tapi, kata abang saya, malah diancam dipukul. Sok jagoan,” kata YA.

Dalam kesempatan itu, korban berupaya meminta pertanggungjawaban pelaku menggunakan bahasa isyarat.

AS juga berusaha menjelaskan ke pelaku bahwa ia merupakan tunarungu. Namun, pelaku disebut tidak menghiraukan.

“Abang saya sudah tunjuk telinganya, \'Saya tunarungu, saya tunarungu\'. Ya responsnya kayak sok jagoan gitu, kurang lebih kayak mau memukul. Terus, disuruh pergi. Akhirnya, dia (pelaku) berangkat lagi, jalan lagi,” tutur YA.

Keluarga bingung penumpang bus cuek

YA menyampaikan, pihak keluarga bingung lantaran penumpang bus seolah tak acuh usai si sopir menabrak AS.

“Yang saya bingung, orang yang ada di dalamnya apa enggak ada belas kasih gitu,” ujar YA.

Tiga hari setelah peristiwa tabrak lari atau Kamis (25/7/2024), korban dan keluarga mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) untuk mencari sang sopir.

“Adik saya tanya, \'yang mana busnya?\'. Kata abang saya, \'yang itu\'. Ciri-ciri busnya itu warna hitam, di belakangnya itu ada lampu-lampu biru gitu. Kata abang saya, \'itu, itu’, sambil menunjuk,” tutur YA.

Menurut YA, bus “Kemhan” ini memang rutin melintas di Jalan Pahlawan. Oleh karena itu, keluarga mendatangi TKP untuk mencari pelaku dan meminta pertanggungjawaban.

Namun, upaya ini tak membuahkan hasil. Pihak keluarga justru kebingungan untuk menemukan pelaku.

“Abang saya kan tunarungu, pikiran dia kan cuma, ya dia ditabrak, dia minta tanggung jawab. Apalagi luka-luka, sampai pincang gitu. Kata saya, aduh, motor sampai rusak,” ujar YA.

Sejauh ini, kata YA, pihaknya juga belum melaporkan peristiwa tersebut ke polisi karena khawatir prosesnya berbelit-belit.

“Saya juga kadang-kadang bagaimana ya, namanya kami rakyat kecil, pengin lapor ke polisi tuh, apa benar entar ribet, bingung juga saya, Mas. Kadang-kadang kayak gini,” kata YA lagi.

Tak berniat penjarakan, hanya ingin pelaku minta maaf

YA berujar, keluarganya tidak ingin memenjarakan pelaku, tetapi ingin pelaku tak lari dari tanggung jawab.

“Saya enggak muluk-muluk pingin penjarakan dia kok. Dari keluarga saya enggak muluk-muluk dia bakalan dihukum atau bagaimana. Maksudnya, (yang penting ada) itikad baik,” kata YA.

“Kalau dia enggak mau mengeluarkan uang sepeser pun, enggak apa-apa bagi kami yang rakyat kecil,” tambah YA.

YA mengungkapkan, keluarga hanya berharap pelaku datang ke rumah AS secara baik-baik dan meminta maaf.

“Mengharapkannya hanya permintaan maaf saja sih, datang. Kalau situasinya kayak gini, keluarga kayak ikhlas atau enggak ikhlas. Mau mendoakan sopir itu sehat-sehat saja, takut sopirnya kena karma juga,” tutur YA.

Keluarga korban juga tidak berani melapor ke polisi. Keluarga memilih memviralkan terlebih dahulu peristiwa kejadian tabrak lari AS oleh bus bertuliskan “Kemhan”.

“Saya bingung juga. Mau melaporkan ke polisi itu kayak lebih baik memviralkan. Lebih baik viral daripada lapor polisi. Iya. Kami kan juga enggak tahu juga siapa yang menabrak waktu itu. Tetapi, korban ingat jenis bus dan sopirnya,” tutur YA.

Lapor polisi militer

YA mengungkapkan, pihak keluarga akhirnya melaporkan kasus tabrak lari yang menimpa sang kakak ke polisi militer.

Laporan tersebut dibuat oleh YA di Detasemen Polisi Militer Jaya, Jalan Rawa Tembaga Raya, Marga Jaya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jumat (26/7/2024).

“Itu sudah laporan. Pertama laporan, kayak kronologi dan segala macam. Kedua itu berita acara, wawancara,” kata YA saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (27/7/2024).

Laporan itu terdaftar dengan nomor LP/03/VII/2024. Surat tanda terima laporan tersebut ditandatangani oleh Komandan Sub Detasemen Polisi Militer Jaya/2-1 Letnan Satu Cpm Didin Hasanudin.

Saat YA membuat laporan, pihak polisi militer berjanji bakal membantu menuntaskan kasus ini.

“Respons polisi militer, Pak Didin, komandannya, ‘Pasti saya bantu dan pasti bakalan tuntas, Pak. Tenang saja, jangan takut’,” ungkap YA.

(Penulis: Baharudin Al Farisi | Editor: Akhdi Martin Pratama, Fitria Chusna Farisa, Jessi Carina)

#tabrak-lari-di-bekasi #tunarungu-di-bekasi-jadi-korban-tabrak-lari

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/07/27/18345521/pilu-tunarungu-di-bekasi-jadi-korban-tabrak-lari-bus-kemenhan-dan-hendak