Butuh Kerja Sama dan Koordinasi untuk Mencapai Net Zero Emission
Indonesia memiliki target untuk mencapai net zero emission (NZE) pada 2060. - Halaman all
(InvestorID) 30/07/24 15:06 12654469
JAKARTA, investor.id – Untuk mencapai target net zero emission (NZE) maka membutuhkan kerja sama, kolaborasi, dan keselarasan lintas sektor dan lintas pemangku kepentingan. Adapun komunikasi memegang peranan kunci agar tujuan keberlanjutan dapat tercapai sesuai waktu yang dicanangkan.
Komitmen keberlanjutan NZE yang pertama kali muncul saat Conference of the Parties (COP 21) pada 2015 menelurkan Paris Agreement yang disepakati 197 negara, termasuk Indonesia. Ini untuk menjaga kenaikan temperatur rata-rata global hingga 2 celsius dibandingkan pada masa pra-industri dan sedapat mungkin menjaga kenaikan temperatur tersebut tidak melebihi 1,5 celsius.
Dalam menjaga perubahan iklim ekstrem tersebut, kesepakatan NZE dunia adalah mencapai target NZE pada 2050, sementara Indonesia memiliki target untuk mencapai NZE pada 2060.
Berkaitan itu, International Association of Business Communicators (IABC) - Indonesia Chapter, sebagai bagian dari IABC yang berpusat di Chicago, Illinois, Amerika Serikat, turut memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan upaya-upaya keberlanjutan di tanah air, termasuk dalam pilar Environment, Social, and Governance (ESG), utamanya bagaimana komunikasi, public relations, dan public affairs dapat berperan aktif menyuarakan aksi-aksi keberlanjutan.
Presiden International Association of Business Communicators (IABC) – Indonesia Chapter Elvera N Makki menjelaskan, IABC Indonesia memiliki perhatian terhadap keberlanjutan, termasuk ESG di Indonesia, karena dampaknya yang sangat besar terhadap kehidupan manusia saat ini dan di masa depan. Peran komunikasi sangat penting untuk menyuarakan aksi-aksi keberlanjutan dan meningkatkan kesadaran masyarakat, juga korporasi lintas sektor untuk bersama-sama berperan aktif dalam mencapai target Net Zero Emission di Indonesia pada 2060 mendatang.
“Untuk itu, kami menyelenggarakan forum sebagai diskusi rutin dengan para pemimpin dan profesional keberlanjutan, agar sebagai praktisi komunikasi, kami memahami dan dapat turut menyebarkan informasi-informasi penting terkait topik krusial ini,” jelas dia dalam keterangan tertulis, Selasa (30/7/2024).
Dalam hal ini, IABC - Indonesia Chapter mengadakan webinar IABC Power Brain Communication Webinar 2024: Sustainability and ESG Series dengan mengangkat tema "Net Zero Emission\'s Targets and Updates, pada Selasa (16/7/2024) secara daring, menghadirkan narasumber dari berbagai sektor industri yaitu Executive Vice President Perencanaan Sistem Ketenagalistrikan PT PLN (Persero) Warsono, Head of Sustainability and Corporate Affairs PT Unilever Indonesia Tbk Nurdiana Darus, dan Sales Director Indonesia Wärtsilä Energy Febron Siregar.
Webinar ini juga dimoderatori oleh Communications and Social Impact Advisor VMCS Public Relations, dan juga President of IABC Indonesia Elvera N Makki.
Febron Siregar menyampaikan, Wärtsilä memiliki target dekarbonisasi pada 2030. Sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah energi terbarukan, maka dibutuhkan solusi penyeimbang yang fleksibel untuk memastikan stabilitas dan keandalan dari energi terbarukan tersebut, yang kapasitasnya diharapkan meningkat 8 kali pada 2050.
Menurut dia, untuk mencapai net zero emission pada 2050, maka energi terbarukan harus menyediakan 89% pasokan ketenagalistrikan dunia. Memilih teknologi yang fleksibel dan tepat untuk sistem tenaga sangat penting untuk menjaga pasokan listrik yang stabil dan dapat diandalkan.
“Wärtsilä baru-baru ini meluncurkan pembangkit listrik tenaga hidrogen berskala besar pertama di dunia, yang menjawab kebutuhan dekabornisasi di sektor energi,” jelas Febron.
Transisi Energi
Sementara itu, Warsono memaparkan strategi transisi energi dari sektor ketenagalistrikan yang berkelanjutan dan berkeadilan. Setiap negara, jelas dia, memiliki strategi berbeda dalam transisi energi, tergantung dari kondisi masing-masing negara.
“Di Indonesia, kami memiliki empat pilar teknologi untuk percepatan pengembangan energi terbarukan dengan skenario pengurangan bertahap penggunaan batubara,” jelas dia.
Pilar pertama terkait target penambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 75% dan energi berbasis gas 25% pada 2040. PLN juga mengupayakan super grid, sebagai pilar kedua, di mana jaringan transmisi dijadikan sebagai enabler yang mengatasi ketidakcocokan antara potensi energi baru dan terbarukan dengan pusat permintaan.
Pilar ketiga menitikberatkan pada penggunaan secara masif penetrasi tenaga surya dan angin pada sistem kelistrikan melalui pembangkit yang fleksibel dan smart grid. Terakhir, pilar green emerging technology, yang memaksimalkan penggunaan penyimpanan, CCS/CCUS1, co-firing hydroge, ammonia, dan energi baru seperti nuklir.
Adapun Nurdiana Darus menjelaskan, Unilever berkomitmen mencapai target NZE pada 2039, dengan aksi nyata dan terukur dalam 9area di sepanjang rantai bisnis perusahaan di tahapan hingga tahun 2030, termasuk yang berkaitan dengan pemasok, bahan baku, desain kemasan dan penyimpanan, hingga logistik.
Nurdiana pun memaparkan secara detil target-target keberlanjutan di masing-masing scope 1, 2, dan 3, yang berfokus pada pengurangan emisi dan dekarbonisasi,
“Ambisi Unilever menuju net zero emission terangkum dalam Climate Transtition Action Plan (CTAP). Pada periode antara tahun 2025-2023, kami telah mengurangi 89,45% emisi karbon pada
operasionalisasi, instalasi panel solar di beberapa pabrik pada Agustus 2023 yang berkapasitas 2,5 MWp, dengan pengurangan emisi CO2 hingga 1.500 ton per tahun, setara dengan menanam 20.000 pohon. Instalasi ini merupakan terbesar di kawasan Jababeka,” kata dia.
Editor: Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #nze #net-zero-emission #iabc-indonesia #elvera-n-makki #febron-siregar #nurdiana-darus #warsono #berita-ekonomi-terkini
https://investor.id/business/368571/butuh-kerja-sama-dan-koordinasi-untuk-mencapai-net-zero-emission