Siapa Hisyam Bin Yahya Kakek Habib Luthfi yang Disebut Termasuk Pendiri NU?
Habib Hasyim bin Yahya merupakan sosok yang alim
(Republika) 31/07/24 06:27 12731005
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Beredarnya Buku Pelajaran Ahlussunnah Waljamaah Ke-NU-an Jilid I untuk Kelas 2 yang diterbitkan oleh RMI PCNU Kabupaten Tegal yang juga beredar di lingkungan satuan-satuan Pendidikan Ma’arif NU, memicu polemik.
Buku tersebut memuat pernyataan sejarah yang disebut tak sesuai dengan fakta. Buku itu menyatakan bahwa salah satu pendiri NU adalah Kakek dari Habib Lutfhi bin Yahya Pekalongan, Yaitu Habib Hasyim bin Yahya. Siapakah Habib Hasyim bin Yahya?
Dikutip dari laman resmi JATMAN, Habib Hasyim bin Yahya adalah putra dari Habib Umar bin Hasan bin Toha bin Yahya. Sebelum lahir, Habib Umar (jid buyut Abah Luthfi yang dimakamkan di Indramayu) pernah berencana memberi nama calon putranya dengan nama Abdullah. Namun, oleh Habib Hasan (jid canggah Abah Luthfi, dimakamkan di Penang, Malaysia), calon cucunya diminta bernama Hasyim.
Habib Hasyim lahir hari Senin bulan Jumadil Akhir tahun 1280 H/1862 M, di Karangampel, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat.
Ayah Habib Hasyim bernama Habib Umar bin Thoha bin Hasan Sumodiningrat bin Thoha bin Yahya, yang ketika wafat dimakamkan di Karangmalang, Indramayu. Sedangkan Ibu beliau bernama Syarifah Hababah Marinah binti Hasan Al-Qudsi Al-Bantani.
Habib Hasyim memiliki seorang istri yang bernama Syarifah Salmah binti Muhammad bin Ibrahim bin Yahya. Syarifah Salmah ini adalah Raden Ayu Kun Maryati (keturunan dari para bangsawan Adipati).
Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai 12 anak, termasuk di antaranya ayah Habib Luthfi bin Yahya, yaitu Syarifah Thalhah, Habib Umar, Habib Abu Bakar, Syarifah Fadhlun, Syarifah Syifa, Syarifah Khodijaah, Habib Muhammad, Syarifah Su’ud, Habib Ali Al-Gholib (Ayah Habib Lutfi), Habib Yahya, Syarifah Ni’mah dan Habib Sholeh.
Selain dengan Syarifah Salmah, Habib Hasyim juga menikah dengan seorang Syarifah bermarga Al-Habsyi, dan dikaruniai 2 orang anak, yaitu Habib Husain dan Syarifah Fatimah.
Jika diurut ke atas, nasab Habib Hasyim bin Umar bin Yahya merupakan keturunan Baginda Nabi Muhammad Rasulullah saw. dari jalur Imam Husain, dengan silsilah sebagai berikut :
BACA JUGA:Dampak Foto dengan Presiden Israel, Nurul: Tiap Hari Terlintas untuk Mengakhiri Hidup Saya
Nabi Muhammad Rasulullah SAW.
Sayyidah Fathimah Az-Zahra Istri Ali bin Abi Thalib RA
Al-Imam Al-Husain
Al-Imam Ali Zainal Abidin
Al-Imam Muhammad Al-Baqir
Al-Imam Ja’far Shadiq
Al-Imam Ali Al-Uraidhi
Al-Imam Muhammad An-Naqib
Al-Imam Isa Ar-Rumi
Al-Imam Ahmad Al-Muhajir
As-Sayyid Ubaidillah
As-Sayyid Alwi
As-Sayyid Muhammad
As-Sayyid Alwi
As-Sayyid Ali Khali’ Qasam
As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath
As-Sayyid Ali
As-Sayyid Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad
As-Sayyid Al-Imam Alwi Al-Ghuyur
As-Sayyid Ali Shohibud Dark
As-Sayyid Muhammad Maula Ad-Dawilah
As-Sayyid Imam Alwy
As-Sayyid Ali An-Naas
As-Sayyid Hasan Al-Akmar
As-Sayyid Sulthanul Awliya Al-Imam Yahya (leluhur Al bin Yahya)
As-Sayyid Ahmad
As-Sayyid Kabiir Syekh
As-Sayyid Muhammad
As-Sayyid Thoha
As-Sayyid ‘Ulum Muhammad al-Qadhi
As-Sayyid Thoha
As-Sayyid Al-Quthb Al-Habib Hasan
As-Sayyid Thoha
As-Sayyid Umar
As-Sayyid Hasyim
Pada Senin, 15 Rabi’ul Akhir 1350 H/1931 M, Habib Hasyim bin Umar bin Yahya kembali ke haribaan ilahi, dua tahun setelah wafat sahabatnya Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Athos yang wafat pada tahun 1347 Hijriyah di bulan Rajab. Jenazah beliau dimakamkan di Sapuro. Hingga saat ini, Kompleks makam Sapuro selalu ramai oleh peziarah.
Pemerhati sejarah NU yang juga anggota Tim Kerja Museum NU, Riadi Ngasiran, menjelaskan mengutip Statuten Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO), didapati fakta bahwa tidak menyebutkan nama Habib Hasyim bin Yahya sebagai salah satu pendiri NU.
Dia menyebutkan, memang ada satu tokoh yang meskipun tidak disebut resmi dalam statuten pendirian NU, 31 Januari 1926, tapi justru menjadi Inspirator berdirinya NU yaitu Syekhona Muhammad Kholil Al-Bankalany.
“Kisah-kisah awal pendirinya NU, sebagai asbabul wurudnya, tak lepas dari Ulama Pesantren yg menjadi guru para Kiai pada zaman itu,” kata dia, kepada Republika.co.id, Selasa (30/7/2024).
Dia menilai, pernyataan Habib Luthfi tersebut adalah klaim sepihak. “Ya klaim sepihak tidak bisa dijadikan pijakan sebagai sumber sejarah. Sumber sejarah adalah fakta, bukan dongeng. Kalau ada sumber lisan, itu pun harus diverifikasi usianya sezaman atau tdak,” ujar dia.
“KH As\'ad Syamsul Arifin menjadi sumber lisan, tetapi usianya sezaman dengan muassis NU. Apalagi, pelaku langsung yang terlibat dalam proses awal berdirinya NU,” papar dia.
Riadi menjelaskan frase “tidak mau ditulis” dalam pernyataan buku tersebut juga dipertanyakan. Jika kalimat itu langsung disampaikan pelaku bisa dipahami. Misalnya, KH Masykur, Pimpinan Tertinggi Markas Barisan Sabilillah di Malang pada zaman Revolusi.
Setelah merdeka, beliau tidak mau ditulis, setidaknya tidak menonjolkan diri sehingga, semasa hidup beliau hanya ingin adanya masjid yang berdiri sebagai bentuk penghormatannya.
Baca juga: Salam Hormat Rifda Irfanaluthfi, Kamu Pemenang Sejati!
“Maka berdirilah Masjid Sabilillah di Kota Malang. Sesudah itu, selepas wafat beliau baru kita gali jejak perjuangannya. Sehingga, KH Masykur dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional,” tutur dia.
Riadi menekankan, tetapi di luar itu, seperti yang sering disebutkan Habib Luthfi bin Yahya, bahwa kakeknya berperan atas berdirinya NU, perlu dikaji lebih dalam dengan bukti-bukti primer.
Misalnya, apakah ada nama tersebut pada dokumen rapat, berita surat kabar sezaman, dan risalah atau memoar tokoh sezaman. “Bila semua sumber, baik primer maupun sekunder, tidak ada bisa dikatakan bahwa hal itu belum bisa dikategorikan sebagai Kebenaran sejarah,” ujar dia.
Ketua Umum...
#kakek-habib-luthfi-bin-yahya #kakek-habib-luthfi-pekalangan #kakek-habib-luthfi-pekalongan #buku-penyimpangan-sejarah-nu #buku-sejarah-nu #pbnu-buku-penyimpangan-sejarah-nu #nahdlatul-ulama #pendiri-n