Rumah Singgah Kanker Yayasan RC Badak Butuh Perhatian dan Uluran Tangan Pemerintah
Biaya operasional membengkak hingga Rp 80 juta per bulan untuk tagihan listrik, air, lauk-pauk, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Halaman all
(Kompas.com) 31/07/24 18:06 12767548
TANGERANG, KOMPAS.com - Bagi pasien kanker di luar daerah, biaya perjalanan dan akomodasi bisa jadi beban tambahan saat menjalani perawatan rutin di rumah sakit rujukan.
Untuk itu, Rumah Singgah Kanker Yayasan Respon Cepat Badan Darurat Kemanusiaan (RC Badak) didirikan di Jalan Bahagia Nomor 25, RT 004/RW 005, Sukarasa, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang.
Sekilas, hunian ini tidak jauh berbeda dengan rumah yang ada di kompleks. Namun, berkat sentuhan tangan Asep Ruswiadi (54), rumah tersebut berubah menjadi tempat yang nyaman bagi para penyintas kanker, baik dewasa maupun anak-anak.
Rumah singgah ini mudah diakses. Hanya butuh waktu dua menit bagi mereka yang naik motor atau enam menit bagi pejalan kaki dari Pasar Anyar, Kota Tangerang yang berjarak 450 meter.
Namun, sayang, fisik bangunan rumah singgah tersebut terlihat mulai renta. Catnya sudah memudar.
Rumah dengan luas tanah sekitar 420 meter persegi itu terbilang luas untuk dijadikan tempat tinggal. Tetapi menjadi kurang luas saat dijadikan rumah singgah penyintas kanker.
Asep mengatakan bahwa Rumah Singgah Kanker Yayasan RC Badak yang berdiri sejak 2020 itu sudah disinggahi banyak penyintas kanker yang berasal dari kalangan menengah ke bawah.
Bahkan, kata Asep, jumlah penyintas kanker di rumah singgah itu sudah melebihi kapasitas, dari yang seharusnya hanya menampung 30 orang.
Namun, Asep sebagai pendiri bersama dengan relawan lainnya tetap akan menerima pasien penyintas kanker tanpa dipungut biaya alias gratis.
"Jadi kadang-kadang miris gitu melihatnya. Apalagi yang sudah smelly (bagian tubuh yang terserang kanker). Jadi satu ruangan tuh baunya, ya gitulah. Tapi ya mau dibilang gimana," ujar Asep kepada Kompas.com di lokasi, Rabu (31/7/2024).
Dengan anggaran yang sangat minim, Asep bersama relawan tetap setia meluangkan waktu untuk mengurus pasien penyintas kanker.
Mereka mengantarkan penyintas kanker ke rumah sakit rujukan yang ada di Jakarta dengan ambulans seadanya. Semua dilakukan Asep dan kawan-kawan dengan mengatasnamakan kemanusian.
"Kalau sudah bolak balik gitu biasanya biaya bensinnya bisa sampai Rp 300.000, tapi kami benar-benar tidak minta biaya sedikit pun ke mereka," kata dia.
Selain itu, fasilitas di sana juga tergolong minim, bahkan sangat minim. Seperti misalnya jumlah ruang yang terbatas, pasokan makanan dicukup-cukupi. Begitu pula dengan jumlah obat-obatan yang minim.
Asep mengungkapkan, saat ini yayasan yang dikelolanya sedang tertatih-tatih. Biaya operasional membengkak hingga Rp 80 juta per bulan untuk tagihan listrik, air, lauk-pauk, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Kemudian, rumah singgah kanker yang saat ini ditempati masih berstatus mengontrak. Mereka harus mengeluarkan dana Rp 60 juta untuk biaya kontrakan per tahun.
Begitu pula dengan obat-obatan yang tidak dijamin BPJS. Pengelola yayasan juga ikut mambantu untuk membelikannya.
"Rumah ini bukan hibah, ini rumah kontrakan dan setiap tahunnya kami harus membayar uang sewa sebesar Rp 60 juta," kata dia.
"Obat-obatan biasanya per bulan. Untuk belanja obat-obatan kalau dihitung dari sekian anak yang minum itu hampir Rp 80 juta. Di luar obat-obatan, kalau dari operasionalnya itu dihitung-hitung juga sampai Rp 80 juta. Jadi per bulan bisa sampai Rp 160 juta," tambahnya.
Kontribusi pemerintah daerah, baik Pemerintah Kota Tangerang maupun Provinsi Banten, hampir tidak ada. Padahal rumah singgah kanker yayasan RC Badak hanya satu-satunya di Banten.
Asep menambahkan, yayasan tersebut sejatinya sudah memiliki surat dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tangerang dan surat izin dari Dinas Sosial Kota Tangerang.
Namun, tetap saja tak ada bantuan yang datang dari pemerintah sejak yayasan itu berdiri.
"Ada suratnya Kesbangpol, ada suratnya Dinsos, izin gitu kan tapi enggak dilirik juga dari awal," keluh Asep.
Dia mengatakan, saat ini sebagian besar dana operasional di yayasan hanya berasal dari donatur tidak tetap.
Oleh karena itu, Asep berharap uluran tangan dari pemerintah untuk meringankan beban rumah singgah yang dikelolanya.
#rumah-singgah #penyintas-kanker #rumah-singgah-penyintas-kanker