Ketika Nyaris Tak Ada Tempat yang Aman Lagi Bagi Anak

Ketika Nyaris Tak Ada Tempat yang Aman Lagi Bagi Anak

Kini tak ada lagi tempat yang aman bagi anak-anak. Tak hanya ruang publik, tetapi juga sekolah, rumah hingga tempat penitipan anak. Halaman all

(Kompas.com) 01/08/24 08:50 12844247

JAKARTA, KOMPAS.com - Penganiayaan terhadap balita terjadi di daycare atau tempat penitipan anak di Depok, Jawa Barat, menambah daftar kasus kekerasan yang terjadi pada anak-anak.

Aksi penganiayaan diduga dilakukan oleh pemili daycare berinisial MI kepada anak berusia 2 tahun, MK. Sosok MI juga disebut-sebut merupakan influencer parenting.

Peristiwa ini terkuak setelah ibu korban, Rizki Dwi Utari (28), mendapat laporan dari satu guru dan terkonfirmasi dengan hasil rekaman CCTV salah satu ruangan.

Rizki menyebut, peristiwa penganiayaan yang dialami buah hatinya terjadi di daycare pelaku satu bulan lalu, tepatnya pada Senin (10/6/2024).

“Tanggal 10 Juni 2024, itu anak saya mendapatkan kekerasan berupa pemukulan di beberapa bagian tubuh, lalu ditendang perutnya sampai dia jatuh sampai dia tersungkur," kata Rizki, Selasa (23/7/2024).

Rikzy mengadukan aksi kekerasan yang dialami anaknya ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada Selasa kemarin.

Dalam rekaman CCTV yang diterima Kompas.com dari Rizki, mulanya MK bersama balita lain tengah berada di salah satu ruangan sambil menangis. Rekaman CCTV tersebut terekam pada Senin, 10 Juni 2024 sekitar pukul 09.02 WIB.

Tak berselang lama, seseorang yang diduga MI masuk ke ruangan. Melihat hal itu, MK langsung memeluk kaki kiri MI sambil menangis histeris

Namun, tiba-tiba MI memukul dan mencubit MK sampai terjatuh entah apa sebabnya. MI melanjutkan penganiayaan dengan mendorong dan membanting MK sampai terlentang.

Anak-anak dalam bayang-bayang kekerasan

Penganiayaan terhadap MK yang terjadi di daycare menjadi bukti bahwa tak ada lagi tempat yang aman bagi anak. Tempat penitipan yang semestinya melindungi anak sebagai pengganti orangtua, justru melakukan kekerasan.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra mengatakan, situasi anak-anak saat ini dalam keadaan tidak baik-baik saja.

"Anak-anak kita tidak baik-baik saja dan lingkungan yang aman bagi anak untuk tumbuh kembang mengalami situasi gap yang sangat jauh, terutama isu pengasuhan," kata Jasra kepada Kompas.com, Kamis (1/8/2024).

Bahkan, di sekolah, anak tak luput menjadi korban bullying atau perundungan baik dari seniornya maupun teman sebaya.

Berdasarkan data KPAI pada Januari sampai Agustus 2023, terdapat 2.355 kasus pelanggaran terhadap perlindungan anak.

Dari jumlah itu, 861 kasus terjadi di lingkup satuan pendidikan. Beberapa di antaranya adalah kasus bullying.

Di ruang publik, anak-anak juga sangat rentan menjadi korban. Meski bukan kekerasan, tetapi anak juga menjadi korban kecelakaan baik secara sendiri maupun melibatkan orang lain.

Pada November 2023, ada anak perempuan berusia dua tahun tewas terlindas minibus di Gang H Riih, RT 002 RW 022, Paku Jaya, Serpong Utara, Tangerang Selatan.

Selain itu, ada juga kasus anak berusia 6 tahun tewas setelah sebelumnya hanyut terbawa arus air saat main banjir. Peristiwa itu terjadi di Jalan Kampung Kemang, Bekasi, Jawa Barat pada Juni 2024.

Selain penganiayaan dan kecelakaan, kasus kekerasan seksual dialami anak juga terjadi. Ironinya, kasus pencabulan dan pemerkosaan itu terjadi di lingkungan keluarga.

Seorang ibu di Tangerang Selatan dan Bekasi, tega mencabuli anak kandung mereka. Aksi itu terjadi karena mereka diming-imingi pekerjaan dan uang oleh pemilik akun Facebook Icha Shakila.

Terbaru, kasus kekerasan seksual dialami anak juga terjadi di rumah ibadah. Peristiwa itu terjadi di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat dan terkuak pada Mei 2024.

Pelecehan dialami oleh empat dari lima bocah laki-laki yang dilakukan pria dewasa berinisial AF di area masjid wilayah Cengkareng, Rabu (8/5/2024) dan Kamis (9/5/2024).

NK (28), kakak dari salah satu korban berinisial N (8) menjelaskan, Pada Rabu, sekitar pukul 12.00 WIB, korban pertama sedang berada di area wudhu.

Selanjutnya, korban dihampiri oleh terduga pelaku yang langsung beraksi.

"Kejadiannya pas orang-orang pada shalat dzuhur. Di tempat wudhu, pelaku melakukan pencabulan ke satu anak," ujar NK ketika dihubungi, Jumat (10/5/2024).

Berdasarkan kesaksian terduga pelaku usai ditangkap warga, AF memegang-megang alat kelamin korban.

Pada Kamis pagi, ada tiga bocah laki-laki termasuk N yang sedang bermain di depan masjid tersebut.

"Ada cowok (AF) manggil, \'dek sini\'. Dua orang diajak ke samping masjid, langsung dipegang alat kelaminnya. Ditanya, \'kamu udah sunat belum?\'. Satu dipegang-pegang, satu diremas," ungkap NK.

#pencabulan #ibu-cabuli-anaknya #ibu-cabuli-anak-kandung #ibu-cabuli-anak-kandung-di-bekasi #penganiayaan-di-daycare-depok #pemilik-daycare-di-depok-dilaporkan-ke-polisi #pemilik-daycare-aniaya-balita

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/08/01/08504141/ketika-nyaris-tak-ada-tempat-yang-aman-lagi-bagi-anak