Bisa Pesan GoFood di TikTok, Katalis Baru Genjot Bisnis Gojek?

Bisa Pesan GoFood di TikTok, Katalis Baru Genjot Bisnis Gojek?

GoTo dapat memperoleh manfaat dari 125 juta pengguna aktif TikTok. Halaman all

(Kompas.com) 01/08/24 18:14 12896916

JAKARTA, KOMPAS.com - Unit bisnis On-Demand Service (ODS) PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) lewat Gojek diproyeksi akan mencatatkan pertumbuhan kinerja seiring dengan kolaborasi yang dilakukan, salah satunya penjualan GoFood melalui aplikasi TikTok yang sudah berjalan terbatas di awal paruh pertama tahun ini.

Dilansir dari paparan kinerja kuartal II GOTO, manajemen menyatakan bahwa GoFood bermitra dengan TikTok di Indonesia untuk uji coba fitur pengiriman layanan local services-nya TikTok.

Menurut publikasi riset terbaru Mandiri Sekuritas (Mansek), per 31 Juli 2024, TikTok berencana berkolaborasi dengan pihak ketiga dalam bisnis pesan-antar makanan (food delivery service), dan agen travel online, sebagaimana diberitakan 36kr dan South China Morning Post (SCMP).

Untuk pesan-antar makanan, Mansek melihat potensi keuntungan bagi GOTO ke depan dengan kolaborasi bersama TikTok. Apalagi sebelumnya, TikTok juga sudah menyelesaikan investasi lebih dari 1,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 23 triliun pada akhir Januari 2024 untuk mengembangkan Tokopedia secara jangka panjang.

“Berdasarkan pengamatan kami, penawaran ini (kerja sama) sudah tersedia dengan layanan pesan-antar makanan yang terhubung dengan platform GoFood. Potensi kolaborasi tersebut, menurut kami, dapat saling menguntungkan,” tulis riset Mansek, dikutip Kamis (1/8/2024).

“Pengamatan kami menunjukkan bahwa beberapa merchant sudah menghubungkan layanan pengiriman makanan ke platform GoFood,” tambahnya,

Menurut Mansek, terdapat sejumlah keuntungan yang bisa diperoleh dari kolaborasi itu. Antara lain, TikTok dapat memperoleh manfaat dari kekuatan ekosistem GoTo di bisnis pengiriman makanan, pengetahuan pasar lokal, dan skala operasional, sambil fokus pada monetisasi.

Kemudian, GoTo dapat memperoleh manfaat dari 125 juta pengguna aktif TikTok per 23 November 2023, algoritma canggih untuk personalisasi, serta ekosistem kontennya.

“Kami pikir perilaku pembelian impulsif dari pengguna TikTok Shop, ditambah meningkatnya penggunaan TikTok sebagai platform review juga cocok untuk penawaran layanan lokal,” sebut Mansek.

Oleh karena itu, Mansek mempertahankan rekomendasi beli untuk saham GOTO, dengan beberapa pertimbangan, di antaranya pertumbuhan pendapatan GoTo akan meningkat di kuartal 3-2024, didorong nilai transaksi bruto (GTV) di Gojek.

Selain itu, pada 29 Juli 2024, GOTO juga memperluas kerja sama dengan TikTok dengan menyediakan produk buy now pay later (BNPL) GoPay Later di Shop Tokopedia di aplikasi TikTok.

“Pertimbangan berikutnya potensi peningkatan pertumbuhan biaya layanan e-commerce dengan katalis positif makroekonomi yang membaik dan insentif konsumen yang lebih agresif,” tulis Mansek.

Berdasarkan paparan kinerja GOTO Selasa (30/7/2024), manajemen menyatakan segmen ODS atau Gojek, terus mencatatkan pertumbuhan didorong peningkatan penggunaan opsi layanan transportasi dan pengantaran yang lebih terjangkau. Hal ini merupakan kunci strategi mass market yang menjadi fokus Perseroan.

Mengacu laporan resmi, nilai GTV Gojek dalam 6 bulan (semester I-2024) naik 7 persen menjadi Rp 29,37 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 27,51 triliun, sementara GTV dalam 3 bulan naik 15 persen menjadi Rp 15,48 triliun dari sebelumnya Rp 13,57 triliun.

Pendapatan bruto Gojek dalam 6 bulan 15 persen menjadi Rp 6,72 triliun dari sebelumnya Rp 5,87 triliun. Menariknya Gojek mampu mencatatkan EBITDA yang disesuaikan positif menjadi Rp 256 miliar atau positif dalam 3 kuartal beruntun sejak Q4-2023.

Secara Grup GoTo, pendapatan bruto proforma naik 28 persen menjadi Rp 8,44 triliun dalam 6 bulan, pendapatan bersih proforma melonjak 87 persen menjadi Rp 6,60 triliun, sementara rugi EBITDA yang disesuaikan Rp 150 miliar, membaik 92 persen dan rugi periode periode berjalan Rp 1,37 triliun membaik 75 persen dari periode yang sama tahun lalu rugi Rp 5,39 triliun.

“Percepatan pertumbuhan di kuartal kedua kembali menegaskan tepatnya strategi untuk fokus pada konsumen mass market.” kata Direktur Utama Grup GoTo Patrick Walujo.

“Kami akan terus memberikan solusi bagi seluruh konsumen kami, baik yang membutuhkan kenyamanan maupun mementingkan harga. Langkah ini akan terus menjadi landasan pertumbuhan kami, seiring dengan upaya kami meningkatkan topline serta terus berkomitmen mencapai EBITDA Grup yang disesuaikan breakeven untuk tahun buku 2024," tambah dia.

Disclaimer: Artikel ini bukan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Segala rekomendasi dan analisa saham berasal dari analis dari sekuritas yang bersangkutan, dan Kompas.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi ada di tangan Investor. Pelajari dengan teliti sebelum membeli/menjual saham.

#gofood #tiktok #goto

https://money.kompas.com/read/2024/08/01/181400226/bisa-pesan-gofood-di-tiktok-katalis-baru-genjot-bisnis-gojek-