RS Polri: Dua Anak yang Dianiaya di Cilincing Belum Bertemu Orangtua Kandungnya
Penganiayaan terhadap MFW dan AT dilakukan sejak 21 Juli 2024 menggunakan benda tumpul, seperti penggaris besi, ikat pinggang, dan palu. Halaman all
(Kompas.com) 01/08/24 19:56 12908483
JAKARTA, KOMPAS.com - RC (6) dan MFW (1 tahun 8 bulan), dua anak yang menjadi korban penganiayaan orangtua asuhnya di Cilincing, Jakarta Utara, hingga kini belum bertemu dengan orangtua kandungnya.
"Orangtua anak belum ada di kita. Jadi, yang menunggu anak 6 tahun ini, kakaknya dan kakeknya," kata Kepala Rumah Sakit (Karumkit) RS Polri Brigjen Pol Hariyanto kepada wartawan di RS Polri, Kramatjati, Jakarta Timur, Kamis (1/8/2024).
"Kalau (korban) karena keluarga, ketemu sama kakaknya sama kakeknya, itu kan saudara ya. Jadi sudah terbiasa," ujar dia.
Saat ini kondisi MFW sudah mulai membaik setelah menjalani operasi, meskipun belum sadar.
Sedangkan sang kakak, RC mengalami luka lebam di bagian wajah, dada, perut, dan kaki serta harus mendapatkan terapi akibat trauma pada psikisnya.
"Kalau kakaknya sadar. Tapi masih takut. Jadi, pada kepala, pada wajah ada lebam-lebam. Tapi kondisi sadar," terang Hariyanto.
"Kalau adiknya itu belum sadar dan masih pakai alat bantu napas," imbuh dia.
Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Jakarta Utara, Kombes (Pol) Gidion Arif Setyawan, mengatakan, orangtua korban mulai menitipkan anaknya kepada tersangka sejak Juni 2024.
Penganiayaan terhadap MFW dan AT dilakukan sejak 21 Juli 2024 menggunakan beberapa jenis benda tumpul, seperti penggaris besi, ikat pinggang, dan palu.
"Akibat penganiayaan tersebut, korban yang masih balita menderita luka di bagian paha, kepala, dan beberapa bagian tubuh lainnya," ucap Gidion.
Akibat penganiayaan, kakak beradik itu dirawat intensif di ruang ICU Rumah Sakit Polri Kramatjati.
MFW dirawat di ruang ICU karena kondisinya kritis akibat luka di bagian kepala.
Sementara, RC menderita luka berat di beberapa bagian tubuhnya dan dirawat di kamar inap.
#dua-balita-di-cilincing-dianiaya #dua-balita-dianiaya-orangtua-asuh-di-cilincing