Bukalapak (BUKA) Meleset Jauh, Target Rp 200 M Batal?

Bukalapak (BUKA) Meleset Jauh, Target Rp 200 M Batal?

Bukalapak (BUKA) kembali membukukan adjusted EBITDA negatif pada kuartal II-2024. Target adjusted EBITDA tahun ini Rp 200 miliar batal? - Halaman all

(InvestorID) 01/08/24 20:00 13040843

JAKARTA, investor.id – PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) kembali membukukan adjusted EBITDA negatif pada kuartal II-2024 sebesar minus Rp 41 miliar, meski lebih baik dibandingkan realisasi kuartal II-2023 yang minus Rp 125 miliar.

Bukalapak mencatatkan adjusted EBITDA positif pertama kali sebesar Rp 15 miliar pada kuartal I-2024, sehingga adjusted EBITDA pada semester I-2024 menjadi minus Rp 26 miliar dibandingkan semester I-2023 yang minus Rp 334 miliar.

Bukalapak mengatribusikan realisasi adjusted EBITDA kuartal II-2024 yang mengecewakan pada dua faktor. Pertama, normalisasi beban umum dan administrasi dari level rendah pada kuartal I-2024 menjadi naik ke Rp 292 miliar (+41% qoq, +3% yoy). Kedua, peningkatan contribution margin secara kuartalan (qoq) tidak cukup tinggi untuk menutupi normalisasi beban umum dan administrasi.

“Menyusul rilis kinerja kuartal II-2024, manajemen Bukalapak (BUKA) memutuskan untuk membatalkan guidance 2024 yang diberikan pada awal tahun, dimana target adjusted EBITDA minimum Rp 200 miliar. Adapun guidance yang baru diestimasi akan diumumkan pada kuartal III-2024,” tulis Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Edi Chandren dalam ulasannya, Kamis (1/8/2024).

Adapun pendapatan segmen O2O (online to offline) emiten berkode saham BUKA tersebut turun 11% qoq pada kuartal II-2024, meski total processing value (TPV) masih tumbuh 4% qoq.

Tantangan Baru Bukalapak 

Pelemahan pendapatan BUKA secara kuartalan diatribusikan oleh manajemen kepada pelemahan musiman (seasonal weakness) karena libur Lebaran, sehingga mengurangi kontribusi layanan yang memiliki take rate lebih tinggi.

Selain itu, layanan produk virtual, seperti pulsa dan token listrik, mendapatkan tantangan dari beberapa kompetitor kecil di daerah, yang direspons oleh perseroan dengan menurunkan biaya layanan untuk menjaga permintaan.

“Tantangan itu merupakan perkembangan yang relatif baru, setidaknya dalam beberapa kuartal terakhir, sehingga perlu dimonitor lebih lanjut oleh investor. Sebab kompetisi yang intens berpotensi terus menekan margin segmen tersebut,” jelas Edi.

Alhasil, Bukalapak (BUKA) membukukan lonjakan kerugian hingga 93,06% menjadi Rp 751 miliar pada semester I-2024 dibanding rugi sebelumnya Rp 389 miliar. Padahal, pendapatan emiten teknologi ini naik dua digit.

Berdasarkan laporan keuangan BUKA, emiten e-commerce ini membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 2,41 triliun per Juni 2024, tumbuh 10,61% secara tahunan (yoy) dari Rp 2,18 triliun.

Segmen O2O berkontribusi sebesar Rp 1,2 triliun, naik 16,78% yoy dan segmen marketplace menyumbang Rp 1,2 triliun, tumbuh 6,01% yoy. Sayangnya, peningkatan pendapatan ini diiringi kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 19,63% yoy menjadi Rp 1,95 triliun.

Meski beberapa pos beban BUKA seperti beban penjualan dan pemasaran serta beban umum dan administrasi menurun signifikan, namun kerugian nilai investasi yang belum dan sudah terealisasi bersih mencapai Rp 1,32 triliun pada semester I-2024. Angka itu jauh lebih besar daripada periode sama 2023 yang minus Rp 120,82 miliar.

Editor: Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #bukalapak #buka #saham-buka #adjusted-ebitda #rugi-bukalapak #stockbit #berita-ekonomi-terkini

https://investor.id/market/368870/bukalapak-buka-meleset-jauh-target-rp-200-m-batal