Wall Street Anjlok hingga 2% Setelah Rilis Data Tenaga Kerja AS, Mengapa?
Indeks-indeks Wall Street anjlok hingga 2% pada Jumat (2/8/2024). Setelah rilis data tenaga kerja AS untuk Juli, mengapa? - Halaman all
(InvestorID) 03/08/24 05:38 13101496
NEW YORK, investor.id – Indeks-indeks Wall Street anjlok hingga 2% pada Jumat (2/8/2024). Setelah rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) Juli yang jauh lebih lemah dari perkiraan, sehingga memicu kekhawatiran bahwa ekonomi bisa jatuh ke dalam resesi.
Dikutip dari CNBC internasional, S&P 500 jatuh 1,84% hingga ditutup pada 5.346,56. Nasdaq Composite anjlok 2,43% hingga ditutup pada 16.776,16, sehingga mencatatkan penurunan indeks yang sarat teknologi dari level tertingginya menjadi lebih dari 10%. Dow Jones Industrial Average terpangkas 610,71 poin (1,51%) hingga ditutup pada 39.737,26. Pada titik terendah sesinya, indeks 30 saham itu sempat turun sebesar 989 poin.
Saham anjlok setelah Departemen tenaga Kerja melaporkan pertumbuhan lapangan kerja di AS pada Juli melambat lebih dari yang diprediksi. Sementara tingkat pengangguran naik ke level tertinggi sejak Oktober 2021. Nonfarm payrolls hanya tumbuh 114 ribu bulan lalu, melambat dari 179 ribu lapangan kerja yang ditambahkan pada bulan Juni dan di bawah 185 ribu yang diprediksi para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones. Tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,3%.
Imbal hasil obligasi AS 10 tahun turun ke level terendah sejak Desember karena investor membanjiri obligasi untuk mencari keamanan karena takut The Fed membuat kesalahan minggu ini dengan mempertahankan suku bunga pada level saat ini.
Beberapa nama saham megacap mengalami kerugian tajam, karena hasil kuartal kedua Amazon memicu kekhawatiran investor tentang tingkat pengeluaran modal terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) Big Tech yang melonjak. Raksasa e-commerce itu turun 8,8% setelah gagal memenuhi estimasi pendapatan Wall Street dan mengeluarkan perkiraan yang mengecewakan.
Sedangkan saham Intel anjlok 26% setelah mengumumkan arahan yang lemah dan PHK. Saham Nvidia turun 1,8%, setelah mengalami kerugian 6% sehari sebelumnya.
Nasdaq adalah yang pertama dari tiga tolok ukur utama yang memasuki wilayah koreksi, turun lebih dari 10% dari rekor tertingginya. S&P 500 dan Dow masing-masing turun 5,7% dan 3,9% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa.
Penurunan Wajar
Kepala strategi teknis LPL Financial Adam Turnquist mengatakan, penurunan pada Jumat adalah ‘jalur wajar’ dalam pasar saham yang sedang naik setelah tren naik yang tajam.
"(Nasdaq) sangat overbought memasuki Juli, hal yang sama terjadi pada semikonduktor. Banyak dari antusiasme AI itu belum benar-benar terbukti pada tahap ini," katanya, seraya menambahkan bahwa ini bukan akhir dari kisah AI.
Namun, bukan hanya saham teknologi yang mengalami tekanan jual pada Jumat. Saham bank terpukul karena kekhawatiran resesi dengan Bank of America turun 4,9% dan Wells Fargo turun 6,4%.
Minggu ini penuh gejolak dengan S&P 500 bergerak lebih dari 1% di masing-masing dari tiga sesi perdagangan terakhir. Pasar saham menguat pada Rabu ketika Fed memberikan isyarat kuat bahwa pemangkasan suku bunga akan dilakukan pada pertemuan berikutnya di bulan September.
Namun, setelah angka pekerjaan yang lemah pada Jumat, banyak investor mulai percaya bahwa bank sentral seharusnya bertindak pada Rabu lalu.
Editor: Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #wall-street #nasdaq #s-p-500 #dow-jones #the-fed #pemangkasan-suku-bunga #data-tenaga-kerja-as #berita-ekonomi-terkini