Pemerintah Diminta Memperketat Regulasi Jajanan Anak
'Banyak ibu yang tidak tahu apa itu maltodekstrin, padahal itu gula juga. Penginnya pemerintah lebih tegas mengatur ini,' ujar Nurma. Halaman all
(Kompas.com) 04/08/24 15:13 13247833
JAKARTA, KOMPAS.com - Kekhawatiran para ibu di Jakarta terhadap kandungan tidak sehat dalam jajanan anak mendorong mereka untuk berharap pengetatan regulasi dari pemerintah.
Ressa (34), seorang ibu rumah tangga dari Jakarta Pusat, mengungkapkan keprihatinannya terhadap produk makanan yang menyamarkan kandungan gula dengan istilah lain yang kurang dipahami konsumen.
"Harapannya sih diatur khusus untuk anak-anak, terutama soal gula. Kadang ditulis bukan gula, tapi sebenarnya ada gula di dalamnya," kata dia saat ditemui Kompas.com di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu (4/8/2024).
Ressa berharap pemerintah bisa lebih tegas dalam mengatur label dan kandungan makanan kemasan untuk anak.
Ia pun lebih memilih membuat camilan sendiri di rumah untuk anak-anaknya yang dianggap lebih sehat.
"Saya lebih suka bikin puding atau snack sendiri, jadi lebih aman buat anak-anak," kata Ressa.
Sementara itu, Nurma (35), ibu rumah tangga dari Jakarta Timur, juga kerap menemukan kandungan gula tambahan dalam susu formula dan minuman kemasan.
"Banyak susu manis itu kandungan gulanya berlebihan ya, ada yang 16 gram, 18 gram. Sedangkan kebutuhan anak kan enggak segitu," ujar Nurma.
"Jadinya saya kalau mau kasih susu yang plain saja. Itu pun gulanya hanya dari gula susu saja, bukan gula tambahan," kata dia lagi.
Menurut Nurma, edukasi dan regulasi dari pemerintah sangat diperlukan untuk membantu orangtua memilih makanan yang aman bagi anak-anak.
Ia juga menyoroti pentingnya transparansi informasi mengenai kandungan dalam makanan.
"Banyak ibu yang tidak tahu apa itu maltodekstrin, padahal itu gula juga. Penginnya pemerintah lebih tegas mengatur ini," tambah dia.
Sebelumnya, ramai di media sosial X yang menyebutkan banyak anak harus menjalani cuci darah di RSCM.
Namun, hal ini langsung dibantah Dokter Spesialis Anak Konsultan Nefrologi RSCM Eka Laksmi Hidayati melalui siaran langsung akun instagram @rscm.official, Kamis (25/7/2024) lalu.
Eka mengungkapkan, saat ini ada 60 pasien anak yang rutin menjalani prosedur dialisis untuk menggantikan fungsi ginjal. Namun, tidak semua anak tersebut menjalani cuci darah.
Dari 60 pasien anak, ada 30 anak yang harus cuci darah. Tapi, ada juga anak yang menggunakan dialisis dengan mesin untuk kontrol per bulan.
RSCM memiliki banyak pasien anak cuci darah karena menjadi tempat rujukan dari sekitar Jakarta hingga luar Pulau Jawa.
Untuk menekan kasus cuci darah pada anak di Jakarta, Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono mengatakan, Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta secara berkala akan memberikan edukasi makanan sehat di lingkungan sekolah.
Hal ini disampaikan Heru mengingat maraknya kasus cuci darah pada anak dan Pemerintah Daerah (Pemda) diminta mengawasi makanan di sekolah sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024.
"Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan memberikan edukasi makanan yang sehat (di lingkungan sekolah)," ujar Heru kepada awak media di Jakarta Selatan, Rabu (31/7/2024) malam.
Dinkes dan Disdik DKI memiliki peralatan untuk mengecek kesehatan anak-anak.
"Ada beberapa sekolah yang punya dan juga tim dari Dinas Kesehatan selalu keliling (mengecek). Intinya mengedukasi kesehatan makanan yang sehat bagi anak-anak kita," ucap Heru.