Founder Napak Bhumi Ungkap Alasan Pilih Limbah Tekstil untuk Diolah Jadi Sepatu

Founder Napak Bhumi Ungkap Alasan Pilih Limbah Tekstil untuk Diolah Jadi Sepatu

Dari semua jenis limbah yang mencemari lingkungan, Napak Bhumi memilih limbah tekstil untuk diolah menjadi sepatu.

(Kompas.com) 05/08/24 19:08 13406128

JAKARTA, KOMPAS.com – Pendiri Napak Bhumi, Ebi, mengungkap alasan mengapa ia lebih tertarik memanfaatkan limbah tekstil untuk disulap menjadi produk fesyen berupa sepatu.

“Lebih ke tekstil karena belum ada yang ngangkat (isu) itu dulu. Masing jarang banget. Memang ada yang ngangkat, tapi jarang,” kata dia kepada Kompas.com di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (2/8/2024).

Semua bermula dari kekhawatiran Ebi, akan pencemaran lingkungan yang ia temukan sepanjang melancong secara backpacker bersama para wisatawan mancanegara (wisman) asal Eropa.

Dari beragam daerah yang dikunjungi, sebagian besar jenis limbah yang ditemukan berupa plastik, meski ada juga yang berupa limbah makanan dan tekstil.

Kendati demikian, kala itu sebagian besar masyarakat lebih menggaungkan pentingnya pengolahan limbah plastik dan makanan. Padahal, limbah tekstil juga dapat mencemari lingkungan.

Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (SISN KLHK) per tahun 2021, Indonesia menghasilkan 2,3 juta ton limbah tekstil. Hanya 0,3 juta ton yang didaur ulang.

“Kalau ngomongnya plastic waste dan food waste saja, kan ada beberapa waste (termasuk limbah tekstil) yang punya peran masing-masing (dalam mencemari lingkungan). Kalau plastic dan food waste terus, bagian yang lain kapan untuk raising awareness-nya?” jelas Ebi.

Edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan

Sepanjang melancong, Ebi menyempatkan waktu untuk mengajarkan isu lingkungan ke anak-anak kecil melalui sekolah non formal. Selain itu, Ebi juga mengajarkan bahasa Inggris dan kebudayaan.

Dari edukasi yang diberikannya, warga setempat mulai menyadari betapa pentingnya lingkungan dan berbahayanya limbah tekstil.

Sebab, dalam mengedukasi seputar lingkungan, Ebi juga mengajarkan tentang ekonomi sirkular (circular economy) atau yang juga disebut dengan fesyen sirkular (circular fashion).

Fesyen sirkular (circular fashion) bisa diartikan sebagai produk mode yang dirancang, bersumber, diproduksi, dan dilengkapi dengan tujuan memperpanjang manfaat dari sebuah rantai produksi dan konsumsi, sehingga bisa menggunakan sumber daya dengan lebih efisien (resource efficiency).

Dengan kata lain, penerapan fesyen sirkular mampu meminimalkan limbah dan polusi dari industri tekstil.

“Aku berpikir harus ada nilai ekonomi. Kalau cuma woro-woro untuk peduli lingkungan, tapi kita tidak meningkatkan ekonomi mereka, itu agak susah," jelas Ebi.

"Makanya, gimana caranya ada circular economy dari hasil (edukasi) lingkungan ada output yang bisa dijual dan (hasilnya) kembali lagi untuk support mereka,” imbuhnya.

Sepatu lebih relatable

Sebagian besar limbah tekstil yang ditemukan oleh Ebi berupa denim, corduroy, batik, dan tenun. Jenisnya adalah baju dan celana, jarang sekali limbah tekstil berupa aksesori seperti tas.

“Karena sudah terlalu banyak pemain di limbah plastik, saya coba ke tekstil karena lebih relate dengan saya pribadi,” ungkap dia.

Dari beragam produk fesyen yang ada, Ebi tidak menampik bahwa mengubah limbah tekstil menjadi baju, celana, atau totebag memang lebih mudah.

Namun, ia memilih sepatu. Sebab, sepatu merupakan produk fesyen yang paling krusial bagi pelancong sepertinya.

Perjalanan seseorang tidak akan terasa nyaman, ketika mereka memilih jenis sepatu yang salah. Selama melancong, Ebi pun lebih sering menggunakan alas kaki berupa sepatu.

Dari pemikirannya tersebut, terciptalah Napak Bhumi. Sebuah jenama sepatu lokal, yang seluruh bahan bakunya tercipta dari limbah tekstil.

Setiap pasang sepatu dibuat secara manual menggunakan tenaga dari daerah-daerah tempat Napak Bhumi mengambil limbah tekstil. Jenis limbah tekstil yang digunakan pada setiap pasang sepatu berbeda-beda.

“Misalnya, produksi sepuluh pasang dengan model yang sama, tapi bahannya beda-beda. Jadi, bisa dibilang limited.The one and only. Satu (limbah) jeans mungkin cuma bisa untuk (memproduksi) sepasang sepatu,” papar Ebi.

Harga sepasang sepatu Napak Bhumi dibanderol seharga Rp 450.000-Rp 750.000. Dikemas menggunakan besek bambu sebagai pengganti kardus, dan totebag sebagai pengganti plastik.

#limbah-tekstil #napak-bhumi #mengolah-limbah-tekstil-jadi-produk-fesyen #limbah-tekstil-jadi-sepatu

https://lifestyle.kompas.com/read/2024/08/05/190832520/founder-napak-bhumi-ungkap-alasan-pilih-limbah-tekstil-untuk-diolah-jadi