Tren Fesyen yang Sering Berganti Sebabkan Limbah Tekstil Menumpuk
Fast fashion atau tren fesyen yang berganti dengan cepat, menyebabkan semakin banyak limbah tekstil, karena semakin seringnya baju dibuang.
(Kompas.com) 05/08/24 21:30 13417840
JAKARTA, KOMPAS.com – Banyak dari kita yang gemar menggunakan produk fesyen terkini, agar tidak ketinggalan zaman.
Alhasil, setiap ada model pakaian terbaru yang dirilis, banyak orang berlomba-lomba membelinya supaya terus menjadi yang terdepan dalam hal fesyen.
Sementara itu, pakaian yang sudah dianggap “kuno” dibiarkan menumpuk di lemari.
Sebagian orang ada yang memutuskan untuk mendonasikan pakaian yang masih layak pakai ke orang lain.
Namun sering kali, pakaian yang sudah memiliki cacat pada warna atau jahitannya, langsung dibuang. Pada akhirnya, terciptalah limbah tekstil.
“Daya konsumtif dari orang-orang, ego untuk membelinya (pakaian terbaru), itu tinggi banget,” ujar Pendiri Napak Bhumi, Ebi, kepada Kompas.com di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (2/8/2024).
Menurut dia, daya konsumtif yang tinggi terhadap produk fesyen terbaru, disebabkan oleh tren fesyen yang sering berganti (fast fashion).
Bahkan, pergantian tren pakaian bisa saja terjadi dalam sehari atau seminggu, sehingga, permintaan akan model pakaian baru semakin meningkat.
Padahal, dari usaha konveksi saja sudah ada limbah tekstil berupa kain perca. Ada pula limbah dalam bentuk cairan kimia seperti pewarna pakaian.
Ditambah dengan tren fesyen yang sering berganti, kini limbah tekstil pun ada dalam bentuk baju dan celana yang sudah jadi.
Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (SISN KLHK) per tahun 2021, Indonesia menghasilkan 2,3 juta ton limbah tekstil. Hanya 0,3 juta ton yang didaur ulang.
“Makanya, kami bikin Napak Bhumi agar bisa sedikit mengurangi fast fashion, dan bisa sedikit mengatasi isu fast fashion,” tutur Ebi.
Produk fesyen dari limbah tekstil
Napak Bhumi adalah sebuah jenama sepatu lokal yang seluruh bahan bakunya tercipta dari limbah tekstil seperti denim, corduroy, batik, dan tenun.
Ebi memperolehnya dari beberapa daerah yang ia pernah kunjungi saat melancong sambil memberikan edukasi tentang pencemaran lingkungan, terutama pencemaran akibat limbah tekstil.
Setiap pasang sepatu dibuat secara manual menggunakan tenaga dari daerah tempat Napak Bhumi mengambil limbah tekstil. Jenis limbah tekstil yang digunakan pada setiap pasang sepatu berbeda-beda.
“Misalnya, produksi sepuluh pasang dengan model yang sama, tapi bahannya beda-beda. Jadi, bisa dibilang limited.The one and only. Satu (limbah) jeans mungkin cuma bisa untuk (memproduksi) sepasang sepatu,” papar Ebi.
Ia mengungkapkan, alasan di balik pemilihan limbah tekstil untuk disulap menjadi sepatu adalah minimnya orang-orang yang mengangkat isu tersebut.
Sebab, sebagian besar masyarakat lebih menyadari dan lebih sering mengangkat isu seputar limbah plastik dan limbah makanan.
“Kalau ngomongnya plastic waste dan food waste saja, kan ada beberapa waste (termasuk limbah tekstil) yang punya peran masing-masing (dalam mencemari lingkungan). Kalau plastic dan food waste terus, bagian yang lain kapan untuk raising awareness-nya?” jelas Ebi.
Jika tertarik, harga sepasang sepatu Napak Bhumi dibanderol seharga Rp 450.000-Rp 750.000. Dikemas menggunakan besek bambu sebagai pengganti kardus, dan totebag sebagai pengganti plastik.
#dampak-buruk-fast-fashion-bagi-lingkungan #dampak-buruk-fast-fashion #fast-fashion #limbah-tekstil #limbah-fast-fashion #napak-bhumi