Anak-anak Tak Suka Sayur, Tantangan dalam Program Makanan Bergizi Gratis

Anak-anak Tak Suka Sayur, Tantangan dalam Program Makanan Bergizi Gratis

Program makan bergizi gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden dan Wakil Presiden RI terpilih, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka mulai diuji coba Halaman all

(Kompas.com) 06/08/24 10:37 13493543

TANGERANG, KOMPAS.com - Program makan bergizi gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden dan Wakil Presiden RI terpilih, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka mulai diuji coba di Kota Tangerang, Banten.

Uji coba program tersebut masih akan terus berlangsung hingga Jumat (9/8/2024). Uji coba ini bakal melibatkan sebanyak 33.483 siswa dari 36 sekolah negeri maupun swasta se-Kota Tangerang.

Pada hari pertama, Senin (5/8/2024), uji coba makan bergizi gratis dilaksanakan di enam sekolah negeri se-Kota Tangerang. Salah satunya di SD Negeri Tangerang 4, Daan Mogot, Sukasari, Kota Tangerang.

Sedikitnya ada 552 kotak makanan disiapkan untuk siswa di sekolah tersebut. Isi kotak makanan itu terdiri dari puyunghai atau telur yang didadar dengan campuran berupa sayuran dan daging.

Kemudian, juga ada sayuran yang berisi wortel dan brokoli, diaduk dengan potongan kecil tempe. Buah melon yang dipotong kecil dan susu putih juga ikut dibagikan sesuai dengan standar gizi nasional.

Namun, dari menu yang disajikan itu, tidak semuanya dihabiskan oleh anak-anak. Kebanyakan mereka menyisakan sayur dengan alasan tidak suka.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam program MBG.

Gibran bujuk anak yang menolak sayur

Wakil Presiden RI terpilih, Gibran Rakabuming Raka meninjau proses MBG di SD Negeri Tangerang 4.

Ketika itu, dia menemukan beberapa anak yang menolak makan karena tidak suka dengan menunya, salah satunya siswa kelas 2B, Muhammad Farhan.

Farhan tidak ingin memakannya karena dia melihat menu yang disajikan didominasi oleh sayuran.

Begitu pula dengan Arief Saputra, teman sekelas Farhan. Meski dia sudah memakannya lebih dulu, namun tetap saja ada menu yang disisakannya, yaitu sayur karena tidak suka.

Putra sulung Presiden RI Joko Widodo atau Jokowi itu langsung membujuk kedua anak tersebut. Dia mendatangi satu per satu tempat duduk keduanya.

Namun, bujukan itu hanya berhasil pada satu anak, yakni Farhan.

Sambil mengobrol, Gibran terlihat membantu Farhan membuka kotak makannya dan akhirnya menu tersebut dimakan.

"Ya biasalah kalau anak-anak ada yang enggak suka sayur. Jadi ada yang enggak suka brokoli, ada yang enggak suka wortel tapi nanti coba kami rayu biar pada mau," ujar Gibran di lokasi.

Evaluasi menu kesukaan anak

Penjabat (Pj) Wali Kota Tangerang, Nurdin menjelaskan, menu yang disajikan pada hari pertama uji coba MBG bersifat hanya sementara.

Dalam hal ini, pihaknya masih perlu melakukan pendekatan untuk mengetahui jenis makan seperti apa yang disukai anak-anak.

Nurdin mengaku, sudah ada lima pilihan paket menu yang disiapkan selama lima hari uji coba MBG. Namun, dia tidak merincikan dengan jelas kelima paket menu tersebut.

Nantinya dari kelima paket menu itu akan dievaluasi dan dilihat menu mana yang paling disukai anak-anak.

"Jadi ini kan baru pendekatan individu ya, masing-masing anak akan berbeda. Nanti tentu pada saat pelaksanaan programnya ini akan menjadi masukan. Lalu kebutuhan khusus anak nanti akan dicatat oleh para wali kelas, kemudian akan disampaikan kepada penyedia," jelas Nurdin.

Perbanyak protein kesukaan anak

Di sisi lain, orangtua murid SD Negeri Tangerang 4 bernama Mina (43) menilai, menu makanan yang disukai anak-anak perlu diperbanyak dalam program MBG.

Dia mengatakan, menu yang disajikan dalam program MBG sudah sesuai dengan standar gizi nasional. Namun, menurutnya, percuma jika makanan tersebut tidak disukai anak-anak.

"Harusnya (makanan) yang disukai anak-anak. Menunya sudah sesuai empat sehat lima sempurna, tapi sayang kalau sayur tidak dimakan," ujar Mina kepada Kompas.com di lokasi.

Hal senada juga disampaikan oleh orangtua murid lain bernama Yayuk (45). Dia menyarankan agar protein seperti ayam dan telur diperbanyak dalam menu program MBG.

Menurut Yayuk, dua lauk tersebut merupakan makanan yang paling banyak disukai anak-anak.

"Kalau anak-anak kan yang disenangi itu ayam ya biasanya. Kan ayam banyak tuh yang dipotong fillet. Pokoknya enggak jauh dari ayam dan telur. Telurnya diceplok saja," kata dia.

Sementara, untuk sayur, Yayuk menyarankan agar anak-anak diberi sup karena biasanya banyak disukai.

"Semacam sayur sup, kebanyakan anak-anak itu sukanya sayur sup," imbuhnya.

95 persen orang Indonesia kurang konsumsi buah dan sayur

Dari penelusuran arsip Kompas, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merinci, sebanyak 95,4 persen orang Indonesia masih kurang mengonsumsi buah dan sayur.


Angka tersebut diperoleh dari laporan nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang terakhir kali diterbitkan pada 2018 silam.

"Iya betul (data kurang konsumsi sayur dan buah terakhir ada di Riskesdas 2018)," ujar Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa (24/1/2024).

Menurut Kemenkes, masalah tersebut tidak bisa dianggap sepele lantaran akan berefek sangat fatal untuk kesehatan tubuh.

Contohnya, mulai dari sulit buang air besar, kegemukan, hingga tekanan darah dan kadar glukosa darah tidak terkontrol.

Selain itu, minimnya asupan sayur dan buah juga berpotensi meningkatkan risiko penyempitan pembuluh darah dan mudah terkena penyakit menular.

Maka dari itu, disarankan untuk mengonsumsi buah dan sayur, setidaknya 4-5 porsi setiap hari.

Dokter gizi komunitas dari Dr Tan & Remanlay Institute, Tan Shot Yen mengatakan, porsi tersebut sudah sesuai dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).

"WHO dan FAO menjelaskan 4-5 porsi sayur dan buah per hari," ujar Tan saat dihubungi Kompas.com, Senin (22/1/2024).

Adapun buah yang dapat dimakan utuh, yaitu apel, pisang, dan jeruk, satu porsi setara dengan satu biji.

Sementara buah berukuran besar termasuk pepaya dan semangka, satu porsi hanya sekitar 100 gram.

Ketentuan satu porsi sama dengan 100 gram juga berlaku untuk sayuran. Namun, karena sayuran terutama daun-daunan jauh lebih ringan, volumenya pun tampak lebih banyak dari buah.

"Kecuali jenis-jenis buahnya sayur, seperti terong, labu, dan lain-lain," kata Tan.

Untuk mengonsumsinya, masyarakat bisa menerapkan pedoman gizi seimbang Isi Piringku yang digencarkan oleh Kemenkes.

Konsep Isi Piringku menggambarkan porsi sekali makan terdiri dari 50 persen buah dan sayuran serta 50 persen sisanya makanan pokok dan lauk-pauk.

Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, Isi Piringku mengharuskan suatu makanan memenuhi:

  1. 1/6 piring makan berupa buah berbagai jenis dan warna
  2. 1/3 piring makan berupa berbagai jenis sayuran
  3. 1/6 piring merupakan lauk-pauk protein, baik hewani maupun nabati
  4. 1/3 piring berupa makanan pokok yang terdiri dari karbohidrat kompleks seperti biji-bijian dan beras, serta sebaiknya bukan karbohidrat simpleks, termasuk tepung dan gula.

"Kalau menerapkan ini (Isi Piringku), pasti tercapai anjuran WHO (soal makan sayur dan buah)," kata Tan.

#gibran-tinjau-uji-coba-makan-gratis #wapres-terpilih-gibran-rakabuming-raka

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/08/06/10375101/anak-anak-tak-suka-sayur-tantangan-dalam-program-makanan-bergizi-gratis