Di Balik Kisruh Sejarah Pendiri PBNU, Gus Ulil: Jangan-Jangan Ada Agenda Politik Tertentu

Di Balik Kisruh Sejarah Pendiri PBNU, Gus Ulil: Jangan-Jangan Ada Agenda Politik Tertentu

Dia mengatakan, jika ada sejarah NU ditulis tidak tepat, maka dikoreksi.

(Republika) 06/08/24 16:41 13533354

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ulil Abshar Abdalla angkat bicara mengenai adanya upaya untuk menunggangi kebijakan PBNU yang merevisi buku pelajaran tentang sejarah NU yang kurang pas. Dia meminta agar Nahdliyin untuk tetap menghormati dzurriyah atau keturunan Rasulullah SAW.

"Saya menulis ini karena baru saja membaca postingan yang menunggangi kebijakan PBNU nutuk kepentingan agendanya sediri. Bahkan menyebut Habib Luthfi dengan Kabib, ya jangan begitu lah,"ujar Ulil lewat postingannya di akun X bercentang biru Ulil Abshar Abdalla.

Menurut Ulil, kebijakanPBNU untuk menarik dan kemudian merevisi buku-buku pelajaran tentang sejarah NU menjadi bahan perbincangan yang panas di masyarakat terutama kalangan nahdliyin. Dia mengatakan, kebijakan ini jangan sampai dijadikan alat untuk makin meningkatkan agenda mereka untuk menyerang habaib.

"Saya secara personal tetap memegang pendapat Gus Yahya, Ketum PBNU, yatu kita harus tetap husnuzzan kepada para habaib, terutama soal nasab yang diperselisihkan akhir-akhir ini. Gus Yahya meranti-wanti, di balik kisruh ini jangan-jangan ada agenda politik yang dimainkan oleh aktor politik tertentu untuk tujuan-tujuan mereka sendiri. Kita harus waspada,"ujar dia.

Dia mengatakan, jika ada sejarah NU ditulis tidak tepat, maka dikoreksi. Hal tersebut sudah kewajiban PBNU sebagai owner sejarahnya sendiri. Meski demikian, dia mengatakan, ada hal yang tidak bisa diingkari bahwa tradisi santri dan pesantren adalah menghormati dzurriyah Rasulullah dan ahlul bait dalam batas-batas wajar dan masuk akal.

"Di tengah kemelut ini, kita sebagai warga NU harus tetap memakai akal sehat, tetap bersikap moderat. Misalnya, kita tetap hormat pada habaib seperti Habib Luthfi Pekalongan,"kata dia.

Mengoreksi pendiri NU yang disebut kakek Habib Luthfi..

Beredarnya Buku Pelajaran Ahlussunnah Waljamaah Ke-NU-an Jilid I untuk Kelas 2 yang diterbitkan oleh RMI PCNU Kabupaten Tegal yang juga beredar di lingkungan satuan-satuan Pendidikan Ma’arif NU, memicu polemik.

Buku tersebut memuat pernyataan sejarah yang disebut tak sesuai dengan fakta. Buku itu menyatakan bahwa salah satu pendiri NU adalah Kakek dari Habib Lutfhi bin Yahya Pekalongan, Yaitu Habib Hasyim bin Yahya. Benarkah demikian?

Pemerhati sejarah NU yang juga anggota Tim Kerja Museum NU, Riadi Ngasiran, menjelaskan mengutip Statuten Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO), didapati fakta bahwa tidak menyebutkan nama Habib Hasyim bin Yahya sebagai salah satu pendiri NU.

Dia menyebutkan, memang ada satu tokoh yang meskipun tidak disebut resmi dalam statuten pendirian NU, 31 Januari 1926, tapi justru menjadi Inspirator berdirinya NU yaitu Syekhona Muhammad Kholil Al-Bankalany.

“Kisah-kisah awal pendirinya NU, sebagai asbabul wurudnya, tak lepas dari Ulama Pesantren yg menjadi guru para Kiai pada zaman itu,” kata dia, kepada Republika.co.id, Selasa (30/7/2024).

Dia menilai, pernyataan Habib Luthfi tersebut adalah klaim sepihak. “Ya klaim sepihak tidak bisa dijadikan pijakan sebagai sumber sejarah. Sumber sejarah adalah fakta, bukan dongeng. Kalau ada sumber lisan, itu pun harus diverifikasi usianya sezaman atau tdak,” ujar dia.

“KH As\'ad Syamsul Arifin menjadi sumber lisan, tetapi usianya sezaman dengan muassis NU. Apalagi, pelaku langsung yang terlibat dalam proses awal berdirinya NU,” papar dia.

Riadi menjelaskan frase “tidak mau ditulis” dalam pernyataan buku tersebut juga dipertanyakan. Jika kalimat itu langsung disampaikan pelaku bisa dipahami. Misalnya, KH Masykur, Pimpinan Tertinggi Markas Barisan Sabilillah di Malang pada zaman Revolusi.

Setelah merdeka, beliau tidak mau ditulis, setidaknya tidak menonjolkan diri sehingga, semasa hidup beliau hanya ingin adanya masjid yang berdiri sebagai bentuk penghormatannya.

“Maka berdirilah Masjid Sabilillah di Kota Malang. Sesudah itu, selepas wafat beliau baru kita gali jejak perjuangannya. Sehingga, KH Masykur dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional,” tutur dia.

Riadi menekankan, tetapi di luar itu, seperti yang sering disebutkan Habib Luthfi bin Yahya, bahwa kakeknya berperan atas berdirinya NU, perlu dikaji lebih dalam dengan bukti-bukti primer.

Misalnya, apakah ada nama tersebut pada dokumen rapat, berita surat kabar sezaman, dan risalah atau memoar tokoh sezaman. “Bila semua sumber, baik primer maupun sekunder, tidak ada bisa dikatakan bahwa hal itu belum bisa dikategorikan sebagai Kebenaran sejarah,” ujar dia.

#habib-luthfi-bin-yahya #pendiri-pbnu #buku-pelajaran-tentang-pbnu #pbnu-tarik-buku-pelajaran-tentang-nu #kakek-habib-luthfi #kakek-habib-luthfi-pendiri-pbnu #siapa-pendiri-pbnu #pendiri-pbnu-kakek-hab

https://khazanah.republika.co.id/berita/shsix7483/di-balik-kisruh-sejarah-pendiri-pbnu-gus-ulil-janganjangan-ada-agenda-politik-tertentu