Permintaan Maaf Warga Cililitan yang Akses Jalan ke Rumahnya Ditutup dan Diamnya Ahli Waris yang Tutup Jalan...

Permintaan Maaf Warga Cililitan yang Akses Jalan ke Rumahnya Ditutup dan Diamnya Ahli Waris yang Tutup Jalan...

Puji Rahayu, warga RT 09 RW 09, Cililitan, Kramatjati, meminta maaf ke Mohammad Sidik, warga yang tutup akses jalan ke rumahnya. Halaman all

(Kompas.com) 08/08/24 08:59 13763304

JAKARTA, KOMPAS.com - Puji Rahayu (49), warga RT 09 RW 09, Cililitan, Kramatjati, Jakarta Timur, yang akses jalan ke rumahnya ditutup meminta maaf kepada Mohamad Sidik (49), warga yang menutup akses jalan ke rumah Puji sekaligus ahli waris pemilik lahan.

Permintaan maaf itu disampaikan Puji usai menghadiri mediasi kelima berkaitan dengan perkara penutupan akses jalan di depan rumahnya di Kantor Kecamatan Kramatjati, Jakarta Timur, Rabu (7/8/2024).

“Intinya, saya dengan keluarga Pak Sidik itu baik-baik saja dan saya minta maaf jika ada kesalahan saya yang tidak diketahui maupun diketahui,” kata Puji.

“Saya, keluarga besar saya, minta maaf, terutama pribadi saya,” lanjut dia.

Adapun mediasi yang digelar di Kecamatan Kramatjati merupakan mediasi pertama di tingkat kecamatan.

Sebab, mediasi sebelumnya pada tingkat RT, RW, dan kelurahan tidak membuahkan hasil.

Bantah rumahnya jadi tempat rapat parpol

Puji membantah tuduhan terkait rumahnya yang disebut kerap dijadikan tempat rapat partai politik (parpol).

Tuduhan tersebut disebut menjadi alasan mengapa Sidik menutup akses jalan menuju rumahnya.

“Enggak ada,” ujar Puji singkat.

Selain itu, Puji juga membantah keluhan Sidik berkait dugaan banyaknya motor milik tamu Puji yang terparkir di sepanjang akses jalan tersebut.

“Enggak ada. Ya enggak ada lah,” tegas dia.

Sidik enggan berkomentar

Sidik dan istrinya, Dewi Nurjanah, enggan berkomentar banyak usai mediasi kelima berkait aksinya menutup akses jalan depan rumah Puji.

Berdasarkan pantauan Kompas.com di Kantor Kecamatan Kramatjati, Jakarta Timur, Rabu, Sidik dan Dewi yang tengah menggendong anaknya, tampak terburu-buru menuruni tangga.

“Belum selesai saya, belum selesai,” kata Dewi sambil menuruni tangga Kantor Kecamatan Kramatjati.

Raut wajah Dewi tampak memerah, dia juga melempar senyum ke arah awak media.

“Mohon maaf ya, nanti saja nanti, sama Pak Lurah ya, maaf ya,” ujar Dewi sambil berlalu ke arah parkiran motor Kantor Kecamatan Kramatjati.

“Sama Pak Lurah dan Pak Camat ya,” timpal Sidik.

Saat ditanya apakah hasil mediasi memuaskan atau tidak, Dewi tidak menjawabnya dengan gamblang.

“Hasilnya Pak Camat saja yang langsung ngomong (bicara). Sudah, sudah, sudah,” kata Dewi.

“Iya, nanti saja ya, belum berani ngomong, besok, besok,” tutur Sidik.

Tembok penutup jalan bakal dibongkar setengah

Pelaksana tugas (Plt) Camat Kramatjati Kamal Alatas menegaskan, Kelurahan Cililitan bakal membongkar tembok milik Sidik yang menutup rumah Puji Rahayu (49).

Langkah tersebut dilakukan berdasarkan hasil mediasi kelima antara kedua pihak yang berlangsung di Kantor Kecamatan Kramatjati, Rabu.

“Dalam pelaksanaan mediasi, telah disepakati oleh Pak Sidik juga bahwa di dalam hak tanah itu ada fungsi sosial,” kata Kamal saat ditemui di Kantor Kecamatan Kramatjati, Rabu.

“Pak Sidik berkenan untuk memberikannya fungsi sosial tersebut. Insya Allah, besok (Kamis, 8 Agustus 2024) tembok itu akan dibongkar oleh rekan-rekan kelurahan,” lanjut Kamal.

Namun, pembongkaran tembok tidak akan dilakukan secara keseluruhan, melainkan hanya setengah bagian.

Pembongkaran setengah bagian tembok dilakukan untuk membuka akses keluar dan masuk keluarga Puji.

“Tahap pertama nanti akan setengah dulu nanti yang akan dibuka,” ujar Kamal.

Kamal menegaskan, tanah yang digunakan sebagai akses keluar masuk keluarga Puji adalah milik ayah Sidik bernama Muhammad Ali alias Engkong Ali, yang telah diwariskan ke anak-anaknya.

“Jadi, kebetulan, karena tanah ini adalah kepemilikannya ada di Pak Sidik, itu telah ada sertifikat hak milik di situ, ada beberapa instrumen yang harus kami siapkan,” imbuh Kamal.

“Tapi, dengan azas dasar pertimbangan untuk kebutuhan layanan masyarakat di sana, ya kami meminta untuk satu tembok itu dibongkar terlebih dahulu dan Alhamdulillah, Pak Sidik mau,” pungkas dia.

Menurut rencana, pembongkaran bakal berlangsung pada Kamis (8/8/2024) pukul 09.00 WIB.

Sebelumnya diberitakan, akses jalan setapak di depan rumah Puji ditutup keluarga pemilik tanah, yakni Mohamad Sidik pada Minggu (5/8/2024).

Sidik merupakan salah satu ahli waris Engkong Ali.

Puji menyampaikan, penutupan ini mengakibatkan dia dan keluarganya terdampak. Setidaknya, ada dua rumah berisi delapan keluarga (KK) dengan jumlah penghuni 21 orang.

Setelah penutupan, salah satu lansia yang bermukim di rumah Puji kini tidak bisa lagi berolahraga atau sekadar berjemur di ujung gang.

Sementara, sebanyak tiga anak tidak bisa berangkat sekolah karena mereka tidak ingin melewati akses alternatif, yakni masuk ke dalam ruang tengah tetangga yang masih satu saudara dengan Puji.

Saat hendak menyambangi kediaman Puji, Kompas.com memasuki salah satu gang dengan ukuran kurang dari satu meter.

Di ujung kanan gang, tiba-tiba seekor anjing menggonggong saat kami melintas.

Di sebelah kiri ujung gang terdapat pintu masuk kediaman warga yang juga merupakan saudara Puji. Kami masuk dengan perlahan.

Salah satu penghuni rumah yang tengah berbaring di atas tempat tidur langsung terbangun saat melihat kami datang.

Sementara itu, kami terus berjalan, melewati ruang tengah, hingga akhirnya tiba di kediaman Puji.

Kehidupan sosial semakin terbatas

Sosiolog Universitas Indonesia Ida Ruwaida menyebut kehidupan sosial masyarakat perkotaan semakin terbatas.

Hal ini terjadi karena pola kehidupan orang-orang urban sudah terkikis oleh pekerjaan setiap hari sehingga nyaris tak ada waktu untuk interaksi sosial dengan tetangga.

"Semakin masyarakatnya rasional, lebih berpikir tentang waktu dan berorientasi pada diri sendiri, memang untuk memperhatikan kehidupan sosialnya makin terbatas," jelas Ida melalui telepon, Senin (23/9/2019).

"Di Depok misalnya, dia butuh waktu, untuk perjalanan ke Jakarta, pulang sudah malam. Situasi seperti itu kan, mereka dalam hari-hari kerjanya sibuk dengan diri sendiri. Akhir pekan, mereka mengutamakan keluarga daripada komunitas sekitarnya," ia menambahkan.

(Penulis: Baharudin Al Farisi, Vitorio Mantalean | Editor: Jessi Carina, Fitria Chusna Farisa, Irfan Maullana)

#penutupan-akses-di-cililitan #warga-tutup-akses-jalan-di-cililitan

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/08/08/08591131/permintaan-maaf-warga-cililitan-yang-akses-jalan-ke-rumahnya-ditutup-dan