Menelusuri Jejak Masuknya Islam di Kalimantan

Menelusuri Jejak Masuknya Islam di Kalimantan

Ada berbagai macam teori berdasarkan beraneka sumber sejarah dan artefak.

(Republika) 08/08/24 11:40 13774057

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Azhar Rasyid, Penilik Sejarah Islam

Dewasa ini, Indonesia dikenal sebagai negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia. Bila berbicara tentang sejarah masuknya Islam ke Indonesia—dan Dunia Melayu secara umum—, para ahli umumnya fokus kepada tiga aspek penting. Pertama, kapan Islam masuk ke Indonesia (abad ke-7 atau abad ke-13).

Kedua, asal para pembawa Islam ke Indonesia (orang Arab, India atau Cina). Dan ketiga, di bagian Indonesia yang mana Islam menanamkan pengaruh awalnya.

Ada berbagai macam teori, yang dibangun berdasarkan beraneka sumber sejarah dan artefak, yang telah dikemukakan oleh para ahli sejarah. Meski para ahli masih memiliki perbedaan pandangan dalam hal kapan Islam masuk ke Dunia Melayu dan siapa pembawanya, mereka setidaknya bersepakat bahwa ada beberapa titik yang menjadi tempat awal kehadiran Islam, yakni di Aceh, Malaka, dan pantai utara Jawa.

Sebenarnya, selain di Sumatra, Semenanjung Malaya dan Jawa, ada bagian lain dari Dunia Melayu yang sudah mengalami proses Islamisasi sejak lama, yakni Pulau Kalimantan atau Borneo. Tema Islamisasi di Kalimantan ini jarang tereksplor, barangkali karena prosesnya yang lebih belakangan dibandingkan dengan yang dialami Aceh, Malaka dan pantai utara Jawa.

Penjelajah dan penulis Portugis terkemuka dari abad ke-15/16, Tome Pires (1465-1540), dalam karya terpentingnya, Suma Oriental, telah menyebut-nyebut soal Islam di Kalimantam. Buku ini ditulis pada tahun 1512-1515 dan berisi tentang petualangan dan pencapaian para pedagang Portugis dalam menjelajah dunia.

Dari tulisan Pires diketahui bahwa Islam masuk ke Kalimantan sebagai konsekuensi dari jaringan perdagangan lintas wilayah kala itu, termasuk yang melibatkan Kalimantan dan Malaka, di mana Islam sudah mulai memberi pengaruh sejak awal abad ke-15. Para pedagang Kalimantan membawa produk alamnya ke Malaka, dan kemudian pulang dengan membawa barang impor yang tidak bisa didapatkan di Kalimantan.

Dari proses perdagangan inilah ada kemungkinan bahwa para pedagang Muslim dari Malaka, baik yang berasal dari Malaka sendiri maupun dari kawasan lainnya di Dunia Islam, datang ke Kalimantan, awalnya untuk berdagang, lalu dilanjutkan dengan aktivitas penyebaran agama Islam. Di sisi lain, ada pula para pendakwah yang berasal dari Jawa dan menyebarkan Islam di berbagai tempat di Kalimantan.

Dalam bukunya, Tome Pires membagi kepercayaan penduduk di Kalimantan ke dalam dua jenis. Pertama, adalah kaum pagan, atau mereka yang masih menganut kepercayaan turun-temurun.

Kedua, kaum ‘Moor’, yang mengacu kepada kaum Muslim. Istilah ‘Moor’ untuk orang Islam adalah istilah yang lazim dipakai oleh kalangan Eropa Kristen, khususnya orang Spanyol dan Portugis, kala itu.

Profesi kaum Moor itu, menurut Pires, adalah sebagai pedagang dan mereka memiliki tempat terhormat di tengah masyarakat. Bahkan, di salah satu wilayah di Kalimantan, seorang rajanya telah menganut agama Islam. Ini memperlihatkan bahwa dalam kurun waktu yang dinarasikan Pires, Islam bukan lagi agama asing, melainkan telah berakar secara lokal dan bahkan telah memiliki legitimasi secara politik.

Seiring dengan kedatangan Islam di Kalimantan, sejumlah kerajaan Islam pun berdiri di pulau besar ini. Di utara, Kerajaan Brunei, yang awalnya merupakan wilayah bawahan Majapahit yang berpusat di Jawa, menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1368.

Pada tahun yang sama, Raja Brunei, Awang Alak Betatar, menyatakan diri masuk Islam, dan dari saat itu ia dikenal sebagai raja Islam pertama di Brunei. Nama barunya ialah Sultan Muhammad Shah. Di bagian timur Kalimantan, proses Islamisasi dimulai dari raja Kutai pada akhir abad ke-16. Pembawa Islam ke Kutai adalah dua pendakwah asal Sulawesi Selatan, Tuan ri Bandang dan Tuan Tunggang Parangan.

Di era yang agak belakangan, tepatnya pada akhir abad ke-18, lahir pula sebuah kerajaan Islam lain, Kerajaan Pontianak. Sultan pertamanya adalah Syarif Abdurrahman Alkadrie, yang berdiam di Keraton Kadariah, yang bangunannya masih bisa disaksikan hingga kini.

Sang sultan merupakan keturunan dari seorang Arab, Al Habib Husein, yang sebelum ke Kalimantan giat menyebarkan agama Islam di Jawa. Sang sultan juga mendirikan sebuah masjid, Masjid Sultan Syarif Abdurrahman, pada tahun 1771.

Syarif Abdurrahman Alkadrie sendiri dikenal sebagai pendiri Kota Pontianak, yang sekarang merupakan ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Keraton Kadariah dan Masjid Sultan Syarif Abdurrahman adalah dua bangunan, sekaligus dua institusi penting dan paling awal yang berdiri di Pontianak, yang mengombinasikan antara aspek relijius dan aspek politik Islam di tanah Kalimantan.

Sumber: Majalah SM Edisi 10 Tahun 2021

#sejarah-islam-di-kalimantan #sejarah-masuknya-islam-di-kalimantan #islam-di-kalimantan #penyebaran-islam-di-kalimantan

https://khazanah.republika.co.id/berita/shvubh366/menelusuri-jejak-masuknya-islam-di-kalimantan