Rizki Juniansyah, Hercules Baru Indonesia Si Pencetak Sejarah Angkat Besi di Olimpiade

Rizki Juniansyah, Hercules Baru Indonesia Si Pencetak Sejarah Angkat Besi di Olimpiade

Rizki meraih emas di kelas 73kg putra Olimpiade Paris 2024,

(Republika) 09/08/24 11:16 13904837

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI) bisa tersenyum. Indonesia sudah punya pengganti lifter andalan Eko Yuli Irawan. Namanya, Rizki Juniansyah. Saat Eko gagal menyumbang medali untuk kali pertama dalam lima keikutsertaannya di Olimpiade, Rizki jadi penyelamat.

Tak tanggung-tanggung, lifter 21 tahun ini langsung menyabet emas. Padahal Eko "hanya" mendapatkan perunggu saat debut di Olimpiade Beijing 2008.

Rizki mempersembahkan medali emas kedua untuk Indonesia dalam Olimpiade Paris 2024, setelah berjaya dalam kelas 73kg putra di South Paris Arena 6, Prancis, Kamis (8/8/2024) malam waktu setempat atau Jumat (9/8/2024) dini hari WIB.

Atlet kelahiran Serang, Banten pada 17 Juni 2003 itu menjadi atlet ke-15 Indonesia yang mempersembahkan medali emas Olimpiade. Dia membuat angkat besi sebagai cabang olahraga ketiga yang berhasil mendapatkan medali emas Olimpiade setelah bulu tangkis dan panjat tebing.

Lifter pertama Indonesia yang dikalungi emas Olimpiade itu telah membuat "Indonesia Raya" berkumandang di arena angkat besi setelah 24 tahun senior-seniornya mencoba dengan keras melakukan hal itu dalam enam Olimpiade.

Angkat besi memiliki tradisi menyumbangkan medali Olimpiade kepada Indonesia sejak Olimpiade Sydney 2000. Ketika itu, satu medali perak dari Raema Lisa Rumbewas dan dua medali perunggu dari Sri Indriyani dan Winarni yang semuanya lifter putri, melengkapi medali emas yang dipersembahkan ganda putra bulu tangkis Tony Gunawan/Candra Wijaya, serta dua medali perak yang direbut tunggal putri Minarti Timur dan tunggal putra Hendrawan.

Sejak itu, angkat besi tak pernah absen menyumbangkan medali kepada Indonesia, bahkan lifter Eko Yuli Irawan loyal menyumbangkan medali dari empat Olimpiade, mulai 2008 di Beijing sampai Tokyo 2020 tiga tahun lalu.

Sayang, perjuangan heroik Eko pada Olimpiade kelimanya di Paris dua hari lalu, tak berhasil mempersembahkan medali karena cedera yang akut menghalanginya untuk naik podium medali.

Dia juga merebut medali emas kelas yang sama dalam Islamic Solidarity Games 2021 di Konya, Turki. Sebelum itu, dia mendapatkan medali emas dari Kejuaraan Dunia Angkat Besi Junior 2021 di Tashkent, Uzbekistan, dan setahun kemudian di Heraklion, Yunani.

Dengan bekal-bekal "menyeramkan" sebelum menjajal arena angkat besi Olimpiade 2024 di South Paris Arena 6, tak heran Rizki menjadi momok bagi lawan-lawannya.

Rupanya, perkataan Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari bahwa Rizki disegani oleh lawan-lawannya, ada benarnya. Menurut Oktohari, Rizki sudah lama menjadi buah bibir angkat besi dan sangat ditakuti oleh lawan-lawannya karena menjadi pemegang rekor dunia 73kg putra dengan total angkatan 365 kg pada Piala Dunia 2024 di Phuket, Thailand.

Rizki juga disebut oleh Ketua Umum PB PABSI Rosan Roeslani sebagai atlet yang sangat bersemangat.

PB PABSI sendiri memperhatikan baik-baik perkembangan dan potensi atlet-atletnya, termasuk Rizki.

Rizky, Eko Yuli Irawan dan Nurul Akmal pun dikandangkan dulu selama tiga pekan sebelum Olimpiade Paris untuk menjalani pemusatan latihan di Montpellier yang jauh dari kota Paris.

Tak hanya faktor teknis yang ditekankan kepada ketiga lifter pembawa misi besar di Paris, karena PB PABSI juga memperhatikan betul faktor-faktor pendukung seperti gizi dan psikologi atletnya agar tampil maksimal di gelanggang kompetisi.

Menurut Rosan yang mantan duta besar Indonesia untuk AS dan mantan ketua Kadin, dalam Olimpiade faktor mental menjadi sangat penting, khususnya untuk Rizki yang masih belia.

Ternyata, strategi serta jerih payah itu dan pastinya yang utama usaha besar Rizki sendiri, berbuah manis. Medali emas kedua Indonesia pada Olimpiade Paris 2024 didapatkan, setelah beberapa jam sebelumnya atlet panjat tebing Veddriq Leonardo meraih emas dari nomor speed putra.

Yang sangat menarik di balik sukses Rizki adalah prospek cerah yang dia tawarkan kepada Indonesia pada Olimpiade-Olimpiade berikutnya.

Dia membuat debut Olimpiade dalam usia 21 tahun, atau tiga tahun lebih lambat dari pada Eko Yuli dalam usia 19 tahun pada 2008.

Jika Eko yang masih berkompetisi dalam usia 35 tahun, menjadi benchmark, maka Rizki memiliki waktu minimal 14 tahun lagi atau tiga Olimpiade untuk terus berprestasi emas seperti sekarang.

Dalam Olimpiade Paris ini sendiri, Indonesia masih berkesempatan menambah medali karena andalan Merah Putih dalam kelas +81kg putri, Nurul Akmal, baru turun gelanggang esok Sabtu pukul 16.30 WIB.

Tiga tahun lalu pada Olimpiade Tokyo 2020, Nurul finis urutan kelima dalam kelas +87kg putri.

Lifter kelahiran Aceh 31 tahun lalu itu kini berusaha sukses dalam kelas +81kg putri, yang selama ini dikuasai oleh Li Wenwen dari China.

Nurul pastinya harus berjuang sangat keras dan menghadapi tantangan yang terjal, tapi tak ada kata mustahil dalam olahraga.

Dia tetap berkesempatan mempertahankan tradisi lifter putri selalu mempersembahkan medali sejak Olimpiade Sydney 2000. Nurul tetap berpeluang mengikuti jejak "Hercules" baru Indonesia, Rizki Juniansyah.

#olimpiade #olimpiade-paris #olimpiade-2024 #angkat-besi #angkat-besi-olimpiade #rizki-juniansyah #emas-rizki-juniansyah #emas-olimpiade #emas-olimpiade-indonesia #emas-angkat-besi

https://news.republika.co.id/berita/shxnuy348/rizki-juniansyah-hercules-baru-indonesia-si-pencetak-sejarah-angkat-besi-di-olimpiade