Kelelahan Kerja: Bisakah Lingkungan dan Beban Kerja Menjadi Pemicunya? - kumparan.com
Penelitian ini mengungkap bahaya tersembunyi di balik lini produksi PT. X Indonesia. Paparan kebisingan, suhu panas, dan beban kerja yang berat ternyata berdampak signifikan pada tingkat kelelahan.
(Kumparan.com) 09/08/24 14:46 13920660
Di era modern yang serba cepat ini, tuntutan produktivitas dan persaingan pasar yang ketat seringkali mendorong perusahaan untuk meningkatkan beban kerja dan mengadopsi teknologi baru. Namun, perubahan ini dapat membawa konsekuensi yang tak diinginkan bagi para pekerja, terutama dalam hal kesehatan dan keselamatan kerja.
Penelitian yang dilakukan di Divisi Stamping PT. X Indonesia mengungkap fakta menarik tentang hubungan antara bahaya fisik lingkungan kerja, beban kerja, dan tingkat kelelahan pada pekerja.
Kelelahan kerja bukanlah masalah sepele. Survei di negara maju menunjukkan bahwa 10-50% penduduk mengalami kelelahan, dan prevalensinya mencapai sekitar 20% di antara pasien yang mencari layanan kesehatan.
Data dari ILO (Organisasi Buruh Internasional) bahkan menyebutkan bahwa hampir dua juta pekerja meninggal dunia setiap tahun akibat kecelakaan kerja yang disebabkan oleh kelelahan. Di Indonesia sendiri, data dari Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa 27,8% kecelakaan kerja disebabkan oleh kelelahan, dan lebih dari 9% mengakibatkan cacat permanen.
PT. X, sebagai salah satu produsen mobil terbesar di dunia, memiliki pabrik perakitan di Indonesia, termasuk Divisi Stamping yang bertanggung jawab atas pembuatan dan perakitan komponen mesin.
Untuk memenuhi tuntutan produktivitas dan permintaan pasar yang tinggi, PT. X meningkatkan beban kerja karyawan dan mengembangkan teknologi baru. Namun, hal ini berpotensi menimbulkan bahaya fisik di lingkungan kerja, seperti kebisingan dan panas, yang dapat mempengaruhi kesehatan dan keselamatan pekerja.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara tingkat kelelahan pekerja dengan bahaya fisik lingkungan kerja dan beban kerja di Divisi Stamping PT. X. Pengukuran kelelahan kerja dilakukan dengan menggunakan alat ukur waktu reaksi (reaction timer) dan alat ukur denyut nadi pada 30 pekerja tetap di divisi tersebut. Pengukuran dilakukan selama dua minggu berturut-turut setelah jadwal kerja berakhir.
Selain itu, penelitian ini juga melibatkan pengumpulan data sekunder, seperti profil perusahaan, jumlah karyawan, jam kerja, serta data pengukuran kebisingan dan suhu lingkungan kerja. Data primer dikumpulkan melalui observasi langsung di lapangan, termasuk prosedur standar produksi, pengukuran waktu reaksi dan denyut nadi, serta perhitungan beban kerja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata waktu reaksi pekerja adalah 296,28 milidetik, yang mengindikasikan tingkat kelelahan kerja ringan. Selain itu, rata-rata denyut nadi pekerja adalah 76,7 kali per menit. Analisis statistik lebih lanjut mengungkapkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kelelahan kerja dengan usia pekerja, lama kerja, beban kerja, serta bahaya fisik lingkungan kerja seperti suhu dan kebisingan.
Penelitian ini menyoroti pentingnya memperhatikan bahaya fisik lingkungan kerja dan beban kerja untuk mencegah kelelahan pada pekerja. Perusahaan perlu mengambil langkah-langkah untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman, serta memastikan bahwa beban kerja karyawan sesuai dengan kemampuan mereka. Dengan demikian, perusahaan dapat meningkatkan kesehatan dan keselamatan pekerja, serta produktivitas secara keseluruhan.