Area Wisata Kampoeng Kepiting di Pesisir Cilacap Kini Dilengkapi PLTS hingga Bank Sampah Halaman all
Kehadiran PLTS tersebut mampu menurunkan emisi karbon sebesar 8.580 kilogram setara CO2 per tahun dan hemat konsumsi listrik Rp 13 juta per tahun. Halaman all?page=all
(Kompas.com) 09/08/24 09:00 14121378
JAKARTA, KOMPAS.com - Kawasan Kampoeng Kepiting di Kutawaru, Cilacap Tengah, kini memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kilowatt peak (kWp) untuk menyuplai kebutuhan listrik di area wisata tersebut dengan energi baru terbarukan.
Kehadiran PLTS tersebut mampu menurunkan emisi karbon sebesar 8.580 kilogram setara CO2 per tahun dan mampu menghemat konsumsi listrik sebesar Rp 13 juta per tahun.
Saat ini Kampoeng Kepiting yang dibuka sejak 2021 menjadi salah satu primadona wisata kuliner andalan di Cilacap. Lokasi alam di sekitar Kampoeng Kepiting yang masih hijau bakal menjadikan pengunjung betah beraktivitas di daerah tersebut.
Pengunjung kawasan ini selain dapat menikmati menu kepiting dan aneka seafood khas Kutawaru, juga dapat menikmati aktivitas memancing, sepeda air, dan telusur kawasan mangrove.
Tak hanya punya PLTS, di Kampeong Kepiting Cilacap ini kini juga ada pengelolaan sampah oleh Bank Sampah Abhipraya.
Sampah organik dikembangkan untuk budi daya magot dan kompos yang bernilai ekonomis. Sedangkan sampah anorganik dipilah kembali untuk dimanfaatkan ulang, antara lain menjadi cacahan plastik yang bisa dijual kembali dengan harga lebih tinggi, serta pembuatan paving block.
Selain meningkatkan perekonomian Masyarakat, bank sampah menjadi upaya merawat lingkungan tetap bersih.
Bagaimana Kampoeng kepiting bisa jadi semaju ini? Begini awalnya.
Cecep Supriyatna, Area Manager Communication, Relations, and CSR PT Kilang Pertamina Internasional Unit Cilacap. menceritakan, Kutawaru sendiri sebelumnya merupakan daerah yang susah dijangkau sehingga kurang mendapatkan sentuhan pembangunan dari pemerintah.
Wilayah ini banyak pengangguran terutama para ibu, banyak juga yang jadi pekerja migran, sementara sisanya jadi anak buah kapal (ABNK) atau nelayan dengan jaring ikan tak ramah lingkungan.
Kemudian, Kilang Cilacap tergerak untuk membenahi kondisi tersebut dengan menawarkan Program Masyarakat Mandiri Kutawaru (Mamaku).
Para mantan anak buah kapal ini kemudian membentuk Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan), sedangkan eks pekerja migran yang bertekad tidak berangkat lagi ke luar negeri membuat kelompok Bunda Malutik Kutawaru (Buntikku). Kata ‘Malutik’ berasal dari bahasa setempat, yang artinya ‘grumbul’ atau dalam Bahasa Indonesia dimaknai bersatu.
“Kami bekerja sama dengan Pemkab Cilacap memberikan pelatihan pengelolaan tambak. Sedangkan Buntikku diberikan peningkatan kapasitas pengelolaan jerami menjadi makanan tradisional atau UKM,” lanjut Cecep, melalui keterangannya, Rabu (8/8/2024).
Kemudian, Pokdakan dan Buntikku membentuk kawasan wisata terpadu Kampoeng Kepiting serta pengelolaan sampah oleh Bank Sampah Abhipraya.