Virage Awie, Saat Olahan Bambu Menembus Dunia, tetapi Tak Lupa Akar...

Virage Awie, Saat Olahan Bambu Menembus Dunia, tetapi Tak Lupa Akar...

Di tangan Adang Muhidin, bambu diolah, diukir, dipahat, dan dipotong sedemikian rupa sehingga menjadi produk yang jauh lebih bernilai dan berkualitas. Halaman all

(Kompas.com) 11/08/24 07:08 14136762

KOMPAS.com - Bertekad, kreatif, inspiratif, dan inovatif. Beberapa kata itu mungkin yang terpatri dalam perjalanan usaha kerajinan bambu milik Adang Muhidin.

Di tangan Adang Muhidin, bambu diolah, diukir, dipahat, dan dipotong sedemikian rupa sehingga menjadi beragam produk yang jauh lebih bernilai dan berkualitas.

Virage Awie, nama usaha kerajinan bambu milik Adang. Berasal dari bahasa Sunda, Pirage Awi memiliki arti "hanya bambu". Filosofinya adalah selama ini bambu hanya dimanfaatkan untuk furnitur dan rebungnya diolah menjadi makanan.

Jika dilihat dari nilainya, olahan bambu masih belum bernilai tinggi dan terdapat anggapan di masyarakat bahwa olahan yang "hanya bambu" itu tidak mahal.

Maka dari itu, klaster Virage Awie memiliki misi untuk mengolah bambu sedemikian rupa supaya menjadi bermacam produk berkualitas dan bernilai lebih dibandingkan dengan olahan bambu pada umumnya.

Sempat berada di titik nadir hidupnya karena usahanya mengalami kebangkrutan, Adang berusaha bangkit hingga akhirnya menekuni usaha kerajinan bambu.

Dia pun menceritakan kisah di balik bagaimana mulanya bisa terjun ke dunia kerajinan bambu, yang menjadi jalan kisah hidupnya sampai kini.

"Tahun 2009, saya mengalami kebangkrutan. Saya waktu itu kuliah S-2 di Jerman, pulang ke Indonesia tahun 2006 bikin usaha. Tahun 2009, semuanya habis, jadi semua yang saya miliki habis," kisah Adang yang ditemui di tempat kerajinannya di Cimareme, Ngamprah, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024) siang WIB.

"Akhirnya, saya mencari apa sih yang harus saya lakukan dan waktu itu saya tidak punya uang dan terjerat beberapa utang yang begitu banyak," lanjut Adang, yang juga lulusan S-1 Teknik Metalurgi Unjani Bandung itu.

"Akhirnya, saya mencari inspirasi atau membuat apa sih yang belum ada di mana pun juga. Kebetulan waktu itu saya diam di masjid malam-malam melihat bambu. (Waktu tanggalnya masih) ingat, 30 April 2011, melihat bambu dan dari situ saya apa sih harus saya lakukan dengan bambu," tambah dia.

Usai itu, Adang mengakui akhirnya pencarian sisi kreatifnya berujung pada salah satu alat musik saat sedang menonton tayangan musik di televisi.

"Kebetulan hari berikutnya saya melihat di televisi ada orkestra. Yang pertama dilihat itu biola. Setelah itu saya membuat biola dari bambu," ucap Adang.

KOMPAS.com/Eris Eka Jaya Tampak grup musik di bawah Virage Awie tengah memainkan alat musik yang umumnya terbuat dari bahan bambu di salah satu sentra kerajinan binaan BRI di Kawasan Batujajar, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024).

Pameran di Java Jazz

Bermula membuat biola dari bahan bambu, lalu garis takdir membawa Adang untuk mengikuti pameran di salah satu event musik bergengsi, Java Jazz Festival.

"Alhamdulillah, selama 2011saya mulai riset membuat alat musik yang pertama itu dengan teman saya membuat biola dari bambu. Lalu membuat gitar bas. Dan ada yang menelepon untuk ikut pameran di Java Jazz 2013, padahal itu belum apa-apa waktu itu. Saya malu membawa ke Java Jazz," ucap Adang.

"Pas di Java Jazz, di sana banyak yang sangat luar biasa, yang bagus, dan yang saya bawa hanya biola dan gitar bas dari bambu yang bentuknya biasa-biasa," tambah pria berusia 50 tahun itu.

Ia mengaku, meski di hari pertama ajang musik Jazz itu, hanya biola saja yang dipajang, tetapi booth miliknya banyak dipenuhi pengunjung.

Di Java Jazz itu pulalah, Adang mendapatkan konsumen pertama, sekaligus modal untuk mengembangkan usahanya.

"Pertama saya punya uang itu, biola yang saya pertama bikin itu dibeli orang Jepang Rp 3,5 juta," ucapnya.

"Untuk modal usaha, Rp 3,5 juta itu dari penjualan biola dan gitar bas dibeli orang Belgia, harganya Rp 4 juta, jadi dengan modal Rp 7,5 juta. Alhamdulillah saya sudah punya bangunan seperti ini dan ada workshop juga yang lebih besar itu di Cimahi," lanjut Adang.

KOMPAS.com/Eris Eka Jaya Salah satu produk yang terdapat dalam rumah kerajinan Virage Awie, kerajinan bambu, yang terdapat di tempat kerajinannya di Cimareme, Ngamprah, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024) siang WIB.

Dukungan dari BRI

Pada 2014, Adang mendapatkan dukungan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk mematenkan hasil kerajinanya sekaligus terus mengembangkan usahanya.

"Pada 2014, saya bertemu dengan BRI dan akhirnya alat musik kami di-HAKI-kan dan kami diberikan bantuan mesin," tuturnya.

Menurut dia, banyak orang dari berbagai negara seperti Perancis, Belgia, India, dan Thailand yang belajar dan mempelajari kerajinannya tersebut.

"Mendapat bantuan mesin dari BRI dan dari situ kami mulai dikenal berbagai negara," ucap Adang.

Selain itu, Adang juga mengatakan program yang mendukung UMKM dari BRI membantu dalam perjalanan usahanya.

"Waktu itu belum berani gede, waktu itu Rp 10 juta, tetapi dengan Rp 10 juta itu, ya bisa seperti inilah. Sangat luar biasa dari 2014 sampai sekarang," ujarnya.

"Detik ini BRI mendukung kami dan melibatkan kami ke berbagai pameran-pameran, bukan hanya dalam negeri, tetapi juga di luar negeri," lanjut Adang.

Adapun pada kesempatan berbeda, Direktur Mikro BRI Supari mengungkapkan, BRI memiliki komitmen untuk terus mendampingi dan membantu pelaku UMKM lewat program Klasterkuhidupku.

"Program ini menjadi wadah yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM untuk mengembangkan bisnisnya. Dengan pemberdayaan dan pendampingan tersebut, pelaku UMKM dapat mengembangkan produknya dan memperluas usaha hingga nantinya UMKM yang tumbuh dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha di daerah lain," kata Supari.

KOMPAS.com/Eris Eka Jaya Adang Muhidin (kiri) saat menceritakan soal produk kuliner dari olahan bambunya, yang terdapat di tempat kerajinannya di Cimareme, Ngamprah, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024) siang WIB.

Produk inovatif dan merambah dunia

Kini, selain alat musik, ragam produk dari Virage Awie ada yang berupa jam tangan, tumbler (tempat minum), alat-alat makan, dan macam-macam produk makanan.

"Perjalanan waktu, ternyata alat musik hanya dikenal di luar negeri, akhirnya kami membuat berbagai macam produk lagi, mulai jam tangan, tumblr, alat alat makan, kemudian explore lagi kuliner," ujarnya.

"Kuliner itu baru, tahun 2022, risetnya baru. Tahun 2023 mulai berani menjual, pasarnya masih lokal di indonesia saja," ucapnya.

Adang, yang kini tampil dengan rambut panjang serta diikat, pun mengungkap kisaran harga alat musik dari bambunya.

"Adapun untuk alat musik, itu eksklusif, setiap tahun kami hanya menjual 36 buah, kami batasi, makanya harganya mahal. Gitar harganya mulai Rp 14 juta sampai yang dimainkan itu ada Rp 25 juta. Kalau drum, mulai di harga Rp 50 juta dan pasarnya 90 persen itu luar negeri," kata dia.

KOMPAS.com/Eris Eka Jaya Ragam jam tangan yang dibuat dari olahan bambu, salah satu produk yang dihasilkan kerajinan bambu milik Adang Muhidin di Cimareme, Ngamprah, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024) siang WIB.

Saat ini produk hasil karya Adang pun telah menembus berbagai negara. "Negara terjauh Inggris, Romania, India, Jepang, dan yang terbanyak itu Malaysia karena kami ada kerja sama dengan Kementerian Perdagangan Malaysia," ucap Adang.

Pihaknya juga menggelar pameran dan workshop di Negeri Jiran. "Jadi, kami hampir setahun tiga kali ke Malaysia untuk pameran sekaligus untuk workshop juga di sana, memberikan ilmu di sana," ucapnya.

KOMPAS.com/Eris Eka Jaya Pekerja menyelesaikan pembuatan kerajinan dari bambu di salah satu sentra kerajinan binaan BRI di Kawasan Batujajar, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024). BRI memiliki komitmen untuk terus mendampingi dan membantu pelaku UMKM lewat program Klasterkuhidupku. Program ini menjadi wadah yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM untuk mengembangkan bisnisnya.

Adang Muhidin pun mengaku tak sungkan untuk membagikan ilmunya kepada masyarakat sekitar. Dia pun memberdayakan lingkungan terdekat.

"Saya pernah merasakan di bawah, tidak punya apa-apa, akhirnya kami memberikan ilmu untuk masyarakat dan ada binaan kami yang ekspor juga, jadi suatu kebanggaan bisa membantu masyarakat atau orang lain," tuturnya.

Begitulah Adang, di tangannya, bambu bisa menembus dunia, tetapi tak lupa untuk kembali ke akar, berdampak positif terhadap lingkungan sekitar, warga terdekat...

#bambu #adang-muhidin #pirage-awi #virage-awie

https://money.kompas.com/read/2024/08/11/070800226/virage-awie-saat-olahan-bambu-menembus-dunia-tetapi-tak-lupa-akar