Influencer Beri Tips Inisiatif Hijau: Pikir Sebelum Belanja-Pakai Bank Sampah - kumparan.com
Menerapkan gaya hidup berkelanjutan atau sustainable lifestyle memang tak mudah, namun bukan berarti tak mungkin. Simak tips melakukan inisiatif hijau di sini.
(Kumparan.com) 23/08/24 16:21 14567356
Berbelanja online jadi kebiasaan masyarakat di era modern. Namun, ternyata ini menghasilkan sampah yang tak sedikit jika tidak diolah dengan baik atau tidak menerapkan green lifestyle. Hal ini bisa menambah sampah di lingkungan sekitar.
Aisyah selaku Founder Ayo Less Waste menuturkan, sampah bubble wrap yang sering didapat dari belanja online memang tak selalu bisa dihindari. Namun, sampah itu menurutnya bisa diberikan pada bank sampah.
“Bisa bawa ke bank sampah, di Jakarta banyak banget. Bisa cari di Maps, lalu chat di WA. Tanya jenis sampahnya apa, berapa harganya. Sekarang bank sampah ada yang canggih, sampah pampers aja tuh dia terima. Ada yang hanya kardus saja, ada yang botol saja,” ujar Aisyah saat menjadi pembicara di acara Green Initiative Connect: Learn and Act for Greener Tomorrow yang diselenggarakan kumparan, Rabu (21/8/2024).
Pembicara lain yang turut hadir di acara yang disponsori oleh PLN itu, yakni influencer sustainable lifestyle Astri Puji Lestari–yang akrab disapa Atit–menjelaskan keputusan membeli barang secara online sebaiknya dilakukan dengan konsep rethink.
Artinya, sebelum membeli sebaiknya dipikirkan dengan masak, misalnya apakah sesuai dengan kebutuhan atau apakah produknya atau bungkusnya akan menambah sampah. Pikirkan juga apakah sebaiknya membeli secara offline.
“Aku enggak punya (aplikasi) e-commerce, jadi jarang banget beli. Tadi soal pikir-pikir pas beli, via online memang lebih murah, tapi ada harga yang harus dibayar, termasuk soal lingkungan. Sebenarnya ada beberapa pilihan e-commerce yang green initiative juga. Misalnya, dusnya dus baru tapi pakai kertas yang dibuat menyerupai plastic wrap jadi bisa didaur ulang,” ujar Atit.
Menjadi ‘istiqomah’ saat menerapkan gaya hidup berkelanjutan, kata Atit dan Aisyah, tidaklah mudah. Tak sedikit yang dapat tekanan dari luar, misalnya saat memilih jajan pakai wadah sendiri atau saat bawa sedotan stainless sendiri.
Mereka pun sepakat, melakukan inisiatif untuk lingkungan harus dimulai dengan berani keluar dari zona nyaman yang bisa dimulai dari diri sendiri dan komunitas. Jangan juga takut dicap SJW kalau dirasa belum sepenuhnya melakukan sustainable lifestyle.
“Buat aku, mending 1.000 orang yang ngelakuin (inisiatif hijau) dengan enggak sempurna, daripada 1 orang yang ngelakuin dengan sempurna. Enggak pernah mencari kesempurnaan dalam melakukan green ini,” kata Atit.
Perempuan dengan 97 ribu followers di Instagram itu menilai ada banyak manfaat yang didapat dengan gaya hidup berkelanjutan. Salah satunya adalah merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki.
“Merasa liberating. Karena semakin peduli sama lingkungan, itu jadi jauh lebih kenal diri sendiri. Gak trap dengan tren yang ada,” ujarnya.
Sementara menurut Aisyah, menggerakkan masyarakat untuk peduli lingkungan, kuncinya adalah edukasi.
“Kita ada sedekah sampah. Total ada 32.000 orang kita edukasi, itu challenging banget ya. Edukasi itu benar-benar kunci. Di kampung kita edukasi, kok ada perubahan. Jadi kita medsos iya, grassroot iya,” ujar Aisyah.
Acara Green Initiative Connect yang diselenggarakan kumparan ini sekaligus menandai peluncuran laman baru Green Initiative, sebuah inisiatif dan aksi nyata kumparan mendukung gerakan hijau serta menjawab berbagai tantangan terkait krisis lingkungan saat ini.
Selain Atit dan Aisyah, talkshow juga diisi oleh VP of Content Strategy & Innovation kumparan Ikhwanul Habibi. Acara juga dimeriahkan dengan workshop membuat tawashu spons cuci piring dari kaos bekas bersama Liberty Society.
#green-initiative #sustainability #influencer #lingkungan #belanja